BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencapaian pembangunan manusia ditinjau dari Indeks Prestasi Manusia (IPM) belum menunjukkan hasil yang menggembirakan karena IPM Indonesia berada pada peringkat 112 dari 117 dari negara tetangga. Rendahnya IPM sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk Indonesia. (Azrul, 2007).
Menurut pengelompokan prevalensi gigi kurang Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), Indonesia tergolong sebagai negara status kekurangan gizi yang tinggi pada
tahun 2004 karena 5.119.935 balita Indonesia (28,47,%) termasuk kelompok gizi
kurang dan gizi buruk ( Falah S, 2005)
Peristiwa kembang tumbuh banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, gizi, dan lingkungan. Dengan demikian harus diupayakan peningkatan gizi agar tidak menghambat proses tumbuh kembang.(Sulistijani, 2004).
Dari laporan Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2005 diperoleh jumlah balita
yang dibawah garis merah adalah 3,12% dari 1.270.245 jiwa dan untuk Kabupaten Deli
Serdang jumlah balita di bawah garis merah adalah 0.62% dari 161.387 jiwa (Dinkes
Sumut, 2005).
Sedangkan menurut laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang berdasarkan data Puskesmas Tanjung Morawa tahun 2006 diperoleh jumlah balita yang dibawah garis merah adalah 0,17% dari 8.660 jiwa (Dinkes Deli Serdang, 2006).
Berbagai sistem tubuh tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda, misalnya
pertumbuhan jaringan otak dan sistem saraf berlangsung secara maksimal pada dua
tahun pertama, kemudian pada tahun berikutnya berlangsung lambat. Pertumbuhan
sistem saraf yang pesat disertai dengan perkembangan keterampilan anak seperti
adaptasi sosial, kemampuan berbicara, dan berjalan. Oleh karena itu, jika terjadi
gangguan pertumbuhan pada anak akan mempengaruhi sistem saraf, yang pada
akhirnya menyebabkan kelambatan perkembangan keterampilan. (Sulistijani, 2004).
Berdasarkan laporan kesehatan, sekitar 5%-10% dari jumlah anak yang ada memiliki gangguan perkembangan dalam berbicara dan berbahasa. Perkembangan tidak
hanya berbicara, namun juga berkomunikasi seperti memahami lambang bahasa
menulis dan kemampuan visualisasi atau menunjukkan sesuatu. (Zoelandari, 2007).
Suatu kelainan biasa terjadi jika ada faktor genetika atau karena faktor lingkungan
yang tidak mampu mencukupi kemampuan dasar tumbuh kembang anak. Peran
lingkungan, menjadi faktor penting untuk mencukupi kebutuhan dasar tumbuh kembang
anak yaitu kebutuhan psikososial (asih dan asuh). Lingkungan ini terdiri dari lingkungan mikro (Ibu atau pengganti ibu), lingkungan mini (ayah, kakak, adik, dan status sosial ekonomi), lingkungan mesco (hal-hal diluar rumah). (Sisworo, 2004).
Berdasarkan penjajakan awal di posyandu di Batang Kuis dari 55 bayi terdapat 21
bayi yang mempunyai berat badan yang tetap artinya tidak ada peningkatan berat badan
setiap bulannya. Secara normal bayi yang sehat adalah harus mengalami peningkatan
berat badan setiap bulan dan sesuai dengan tingkat usia dalam pertumbuhan
perkembangan pertambahan usianya. Atas informasi tersebut diatas penulis berkeinginan meneliti tentang bagaimana sebenarnya ”Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan 2008”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah ”Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh
Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan Tahun 2008”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan Tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang bayi berdasarkan tingkat pendidikan.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang bayi berdasarkan sumber informasi.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Sebagai sumber informasi bagi Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan untuk upaya promotif dan preventif bagi pelayanan yang diberikan kepada ibu yang memiliki bayi.
b. Untuk tenaga kesehatan agar lebih meningkat dan mengupayakan pelayanan yang berbentuk promotif dalam upaya meningkatkan gizi bayi.
Link download KTI lengkap ini
51. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi
BAB I
BAB II
BAB III-VI
Free Download KTI - Karya Tulis Ilmiah - Skripsi - Thesis - Desertasi - Artikel Update Setiap Hari. Analysis With SPSS PDF, Health Article, Education Article
51. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi
50. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat
panjang. Perbedaan ini dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksikan secara sosial dan budaya. Pada akhirnya perbedaan ini dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang tak bisa diubah.
Kekerasan dalam rumah tangga dalam berbagai bentuk sering terus berlangsung meskipun
perempuan-perempuan tersebut sedang mengandung. Konsekuensi paling merugikan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dan dampak terhadap kondisi kesehatan mentalnya.
Dampak ini terutama menonjol pada perempuan korban kekerasan seksual. Dalam tindak perkosaan, misalnya yang diserang memang tubuh perempuan. Namun, yang dihancurkan adalah seluruh jati diri perempuan yaitu kesehatan fisik, mental psikologi dan sosialnya (Tono Hadi, 2007).
Maraknya isu “Kekerasan Terhadap Perempuan”, menjadi rangkaian kosakata yang cukup
populer dalam beberapa tahun belakangan ini, telah memasuki wilayah yang paling kecil dan ekslusif, yaitu keluarga. Di Amerika Serikat sendiri yang konon negara pengusung Hak Asasi Manusia, justru menunjukkan laporan yang cukup mengejutkan. Andrew L. Sapiro dalam bukunya berjudul “Amerika No. 1” menyebutkan bahwa kita nomor satu dalam pemerkosaan yaitu 114 per 100.000 penduduk”. Departemen kehakiman AS sampai akhir 1992 menyebutkan bahwa 20% pemerkosaan adalah bapaknya sendiri, 26% orang dekatnya, 31% orang dikenalnya, 4% orang yang tak dikenalnya.
Komnas perempuan mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun. Catatan tahun 2004, misalnya menyebut 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan, 2.703 adalah kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Tercakup dalam kategori ini dalam kekerasan terhadap istri sebanyak 2.025 kasus (75%) kekerasan tehadap anak perempuan 389 kasus (24%) dan kekerasan terhadap keluarga lainnya 23 kasus (1%) (Emma Adji, 2006).
Rifka Annisa Women’s Crisis Center di Jogjakarta yang berkiprah dalam kenangan perempuan korban kekerasan mencatat, hingga Mei 2006 terdapat 900 kasus dan 619 diantaranya adalah kasus KDRT (Wardani Mag, 2007).
Dari data yang dihimpun IBH-APIK Medan, setidaknya ada 1520 kasus yang sialami
perempuan dan anak dengan berbagai kasus, seperti kejahatan seksual sebanyak 648 kasus, kekerasan fisik dan psikis 303 kasus, perampokan terhadap perempuan 208 kasus, kematian tidak wajar 148 kasus, penganiayaan 118 kasus, trafiking 64 kasus, bayi dibunuh 19 kasus, kekerasan terhadap buruh 7 kasus dan penculikan 4 kasus (http://www.kebumen.go.id,16-08-2007)
Dari kasus perceraian yang ada di Kabupaten Langkat stabat di Pengadilan Agama tahun 2006 sebanyak 114 kasus, yaitu masalah ekonomi 5 kasus, tidak ada tanggung jawab 22 kasus, tidak ada keharmonisan 84 kasus, gangguan pihak ketiga 2 kasus dan perceraian lainnya 1 kasus. Tahun 2007 yaitu sebanyak 196 kasus, yaitu masalah tidak ada tanggung jawab sebanyak 95 kasus dan tidak ada keharmonisan 101 kasus (Pengadilan Agama, 12-11-2007).
Berdasarkan permasalahan yang tertera diatas, bahwa kekerasan dalam rumah tangga sangat terkait dengan Hak Asasi Manusia. Dan memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan wanita, dengan dasar itu pula penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga
1.2. Pertanyaan penelitian
Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat Tahun 2007.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang dampak Kekerasan Terhadap
Perempuan Dalam Rumah Tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab.
Langkat.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi umur ibu tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
2. Mengetahui distribusi pendidikan ibu tentang dampak terhadap kekerasan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
3. Mengetahui distribusi pekerjaan ibu tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
4. Mengetahui distribusi sumber informasi tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Menambah pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian khususnya mengenai dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga.
1.4.2. Hasi penelitian ini dapat menjadi masukan bagi petugas kesehatan untuk dapat memberikan konseling tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga.
Link download KTI lengkap ini
50. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga
BAB I
BAB II
BAB III-VI
49. Gambaran Kecemasan Pasangan Infertil yang Berkunjung Ke RS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menikah dan memiliki keturunan adalah suatu fase yang dijalani oleh manusia
dalam siklus kehidupanya. Memiliki keturunan sebagai penerus generasi dirasakan
sebagai suatu keharusan oleh sebagian masyarakat kita. Keberadaan anak dianggap
mampu menyatukan dan menjaga agar suatu keluarga atau pernikahan tetap utuh
(Wirawan, 2004).
Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami
istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab
terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya
pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-
negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki
maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh sekitar 400 juta
pasangan (Siswono, 2003).
Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Hal ini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengalami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali belum pernah hamil (Addy, 2010).
Beberapa daerah di Indonesia, wanita sering kali disalahkan menjadi penyebab
infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari
pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta, 36% infertilitas
diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.
Penyelidikan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32,7% hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam 3 bulan, 72,1% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan. Waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan adalah 2,3 bulan sampai 2,8 bulan. Makin lama pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya. Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah infertilitas jika pasangan yang ingin punya anak itu telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan lebih dari 12 bulan (Hetty, 2009).
Kegagalan mempunyai anak pada pasangan suami istri akan menyebabkan rasa
sedih yang mendalam, membuat perasaan bersalah dan membuat stress. Stress
berperan besar menyumbang angka kemungkinan infertilitas, yaitu sebesar 15-20 %.
Ketika seseorang mengalami kondisi jiwa demikian bisa menyebabkan gangguan
ovulasi spermatogenesis, spasme tuba fallopi dan disfungsi seksual yaitu menurunnya
frekuensi hubungan suami istri. Aspek gaya hidup ternyata juga menyumbang 15-
20% pengaruh terhadap angka kejadian infertilitas. Salah satu trend seperti menunda
usia perkawinan demi mengejar karier yang cukup marak beberapa tahun belakangan ini. Padahal tingkat kesuburan wanita akan menurun mulai usia 35 tahun (Yan,
2008).
Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas,
karena ketakutan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan
wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan
dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction).
Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus
(81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).
Infertilitas tersebar diseluruh dunia termasuk Indonesia antara lain ditemukan di
sumatera utara khususnya medan banyak keluarga memelihara kucing dan anjing.
resikonya adalah mendapat zoonosis berupa semacam kuman antara lain protozoa
penyakit disentri dan toxoplasmosis. Saat ini dilaporkan bahwa infeksi oleh kuman
TORCH pada wanita bisa menyebabkan infertilitas. 70 % wanita yang infertil
terinfeksi oleh kuman TORCH (Vitahealth, 2007).
Berdasarkan data yang dikumpulkan peneliti dari bulan September - November
2010 terdapat sebanyak 32 pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan
Medan, 28 pasangan dengan infertilitas primer dan 4 pasangan dengan infertilitas
sekunder.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi gambaran kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi adanya kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010.
b. Untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pasangan Infertil
Sebagai sumber informasi terhadap kecemasan infertilitas khususnya pada pasangan infertil
2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai bahan penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama pendidikan dan menambah wawasan dan pengalaman. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan D IV Kebidanan.
Link download KTI lengkap ini
49. Gambaran Kecemasan Pasangan Infertil yang Berkunjung Ke RS
BAB I
BAB II
BAB III-VI
48. Gambaran Kecemasan Dan Nyeri Persalinan Pada Ibu Primigravida
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan dimaksud dalam pembukaan UUD 1945. Salah satu tolak ukur untuk menilai kemajuan program pembangunan kesehatan adalah faktor derajat kesehatan, yang diuraikan dalam berbagai variabel seperti lamanya hidup, kematian, kesakitan, dan lain-lain. Variabel ini dijabarkan ke dalam indikator
misalnya angka harapan hidup, angka kematian kasar, angka kesakitan, dan lain-lain Depkes RI, 2008).
Kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia tergolong cukup tinggi. Pada tahun 2015 mendatang angka kematian ibu melahirkan ditargetkan menurun menjadi 103 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian di Indonesia saat ini tergolong masih tinggi yaitu mencapai 228 per kelahiran hidup.
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (Asuhan Persalinan Normal, 2008).
Kecemasan (Ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Gangguan ansietas adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan yag disertai respon perilaku, emosional, dan fisiologis. Individu yang mengalami gangguan ansietas dapat memperlihatkan perilaku yang tidak lazim seperti panik tanpa alasan, takut yang tidak dapat dijelaskan atau berlebihan (Viebeck Sheila L, 2008).
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial. Kebanyakan sensasi nyeri
adalah akibat dari stimuli fisik dan mental atau stimuli emosional (Smeltzer, Suzanne C, 2002).
Proses persalinan merupakan peristiwa yang melelahkan sekaligus beresiko, tidak mengherankan calon yang akan melahirkan diselimuti rasa takut, panik, dan gugup. Seorang wanita yang merasa cemas pada saat persalinan dapat mengancam keselamatannya dan bayinya. Kecemasan juga mengakibatkan terjadinya penurunan aliran darah ke rahim, kontraksi rahim menurun, lamanya kala I, turunnya aliran darah ke plasenta, rendahnya oksigen yang tersedia untuk janin. Penyebab kecemasan yang dirasakan oleh ibu pada saat menjelang persalinan antara lain : takut akan peningkatan nyeri, takut persalinan akan melukai bayinya, kurang pengetahuan tentang proses persalinan, takut kehilangan kontrol, takut tidak dapat merawat bayinya, takut akan pengabaian ayah dari si bayinya, kepercayaan-kepercayaan yang mengatakanbahwa melahirkan itu sakit (Simkim&Anchefa 2005).
Ketika seorang ibu menghadapi proses persalinan diiringi dengan ketakutan dan
sangat cemas serta tegang, tak yakin pada diri sendiri maka ketegangan ini bisa
menyebabkan tekanan pada serviks dan rahim sehingga akan lebih banyak rasa sakit / nyeri yang ditimbulkan (Mander, 2005).
Oleh karena itu yang terpenting bagi ibu adalah adanya dukungan dan motivasi
dari orang yang ada di sekelilingnya, demi membesarkan hati serta membantunya
menghadapi persalinan secara normal. Jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan
selama persalinan dan kelahiran bayi, maka ibu akan mendapat rasa aman dan itu dapat
membantunya dalam mengahadapi persalinan secara normal (Asuhan Persalinan
Normal, 2007).
Hodnett (1995), dalam penelitiannya mengindikasikan bahwa kehadiran dukungan dari orang-orang yang dilatih akan mengurangi durasi kelahiran, mengurangi kecenderungan penggunaan obat-obatan pengurang rasa nyeri dan menurunkan kejadian kelahiran secara secsio sesaria.
Oleh karena hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Gambaran Kecemasan dan Nyeri Persalinan pada Ibu Primigravida”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran Kecemasan dan Nyeri Persalinan pada ibu Primigravida?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini merupakan untuk mengetahui Tujuan Umum :
1. Untuk mengetahui gambaran kecemasan dan nyeri persalinan yang terjadi pada ibu primigravida.
Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui karakteristik ibu primigravida yang mengalami kecemasan dan nyeri persalinan.
2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan yang terjadi pada ibu primigravida.
3. Untuk mengetahui tingkat nyeri persalinan yang terjadi pada ibu primigravida.
D. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan Kebidanan
Sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan terkhusus bidan agar mampu melayani dan menghadapi rasa cemas, nyeri pada ibu bersalin dengan memberikan asuhan kebidanan dengan benar dan tepat.
2. Perkembangan Ilmu Kebidanan
Sebagai masukan bagi perkembangan ilmu kebidanan dalam menghadapi ibu yang
mengalami rasa cemas yang dapat mengakibatkan meningkatnya rasa nyeri pada
ibu bersalin.
Link download KTI lengkap ini
48. Gambaran Kecemasan Dan Nyeri Persalinan Pada Ibu Primigravida
BAB I
BAB II
BAB III-VI
47. Formulir Persetujuan Penelitian Pengalaman Ibu Tentang Nyeri Post Partum Dengan Riwayat Sectio Ceasaria
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sectio caeseria adalah cara persalinan melalui pembedahan di perut dan di dinding uterus. Seharusnya keadaan ini dilakukan jika ibu dan janinnya dalam keadaan darurat dan hanya dapat diselamatkan melalui operasi. Bedah caesar yang tidak direncanakan biasanya baru diputuskan pada saat atau ketika persalinan berlangsung. Pemelihan persalinan melalui operasi dengan alasan yang beragam antara lain tidak tahan atau takut terhadap nyeri pada saat melahirkan. Banyak wanita yang tidak tahan memilih untuk menjalani operasi bahkan ada yang begitu mengetahui dirinya hamil sudah merencanakan untuk tidak bersalin normal dan melahirkan bayi dengan caesar (Oxorn, 2003)
Suatu tindakan operasi seringkali berhubungan dengan nyeri sehingga
menjadi masalah pada saat selesainya proses operasi. Nyeri tersebut sangat
mengganggu sebab menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasien (Melvyn, 2006)
Nyeri merupakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan yang dirasakan seseorang terhadap stimulus tertentu dan tidak dapat dibagi kepada orang lain (Koizer, 2004). Nyeri yang dirasakan oleh setiap orang yang untuk melakukan persalinan lewat jalan operasi sedangkan manajemen nyeri merupakan suatu upaya untuk mengurangi nyeri ke tingkat yang lebih rendah.
Nyeri pada pasien post operasi merupakan nyeri akut yang belum banyak
dimengerti dan selalu dikelola dengan baik. Nyeri akibat operasi ini tidak hanya
memiliki komponen sensori berhubungan dengan rusak jaringan, tetapi juga
dipengaruhi oleh komponen psikososial dari pasien tersebut. Nyeri pada post operasi bisa menetap dan hilang timbul, semakin memburuk jika penderita bergerak, batuk, tertawa atau menarik nafas dalam (Koizer, 2004)
Berdasarkan survey pendahuluan yang pernah peneliti lakukan dirumah sakit umum sembiring Delitua pada bulan Januari sampai Maret tahun 2008 dari 125 ibu post partum dengan riwayat sectio caesaria merasakan sesuatu yang tidak nyaman, merasa nyeri, takut cemas dan sangat sulit untuk diajak melakukan aktivitas yang ringan seperti duduk dan berjalan setelah satu hari pasca operasi. Ibu-ibu belum banyak mengetahui bagaimana mengelola rasa nyeri sehingga ibuibu mengharapkan terapi farmakologi dari pada mengatasi dan mengelola nyeri dengan baik. Berdasarkan latar belakang inilah peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat sectio caesaria di Rumah Sakit Umum Delitua Tahun 2008.
1.2.Tujuan Penelitian
1.2.1. Tujuan Umum
Berdasarkan masalah penelitian yang telah ditetapkan maka tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui pengalaman ibu tentang nyeri post partum
dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun
2008.
1.2.2. Tujuan Khusus
Untuk mengidentifikasi pengalaman ibu tentang nyeri pada Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.
1.3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian bagi :
1. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan bagi institusi program D-IV Bidan Pendidik di Fakultas Kedokteran USU tentang penelitian kualitatif yang berjudul pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.
2. Bagi Bidan
Sebagai bahan masukan bagi tenaga medis agar dapat mengajarkan dan mengarahkan ibu untuk dapat mengurangi rasa nyeri setelah proses sectio caesaria secara nonfarmakologi.
3. Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam melaksanakan penelitian.
4. Pihak Rumah Sakit
Agar dapat memberikan pelayanan dan perawtan yang intensif pada ibu post partum dengan riwayat sectio caesaria untuk mengurangi rasa nyeri.
Link download KTI lengkap ini
47. Formulir Persetujuan Penelitian Pengalaman Ibu Tentang Nyeri Post Partum Dengan Riwayat Sectio Ceasaria
BAB I
BAB II
BAB III-V
46. Bladder Training Pada Ibu-ibu Pasca Seksio Sesarea
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar
di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita subur
disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya
menjadi faktor utama mortalitas wanita pada masa puncak produktivitasnya. Tahun
1996, World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu
pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita
berkemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan/persalinan selama kehidupannya,
dibanyak negara Afrika 1:14, sedangkan di Amerika Utara hanya 1:6.336. lebih dari
50% kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi
yang ada serta biaya yang relatif rendah (Sarwono, 2002 : 3).
Angka kejadian seksio sesaria di Indonesia menurut data survey nasional tahun 2007 adalah 921.000 dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8 % (http://www.idi.seksio.com.20%.sesaria ).
Saat ini, persalinan dengan bedah sesarea bukan hal yang baru lagi bagi para ibu maupun pasangan suami istri. Sejak awal, tindakan operasi sesarea atau C-section merupakan pilihan yang harus dijalani karena kadaan gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa ibu maupun janinnya (Dewi, 1997).
Ibu yang mengalami seksio sesarea dengan adanya luka di perut sehingga harus
dirawat dengan baik untuk mencegah kemungkinan timbulnya infeksi. Ibu juga akan membatasi pergerakan tubuhnya karena adanya luka operasi sehingga proses penyembuhan luka dan pengeluaran cairan atau bekuan darah kotor dari rahim ibu ikut terpengaruh (Bobak,L.J, 2004)
Dewasa ini semakin banyak dokter dan tenaga medis yang menganjurkan pasien
yang baru melahirkan dengan operasi agar segera menggerakkan tubuhnya. Dokter
kandungan menganjurkan pasien yang mengalami operasi sesarea untuk tidak
berdiam diri di tempat tidur tetapi harus menggerakkan badan. (Kasdu, 2003).
Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dalam jangka waktu
lama, dinding kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni).
Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih
biasanya akan pulih kembali dalam lima sampai tujuh hari setelah bayi lahir (Bobak,
2004).
Bladder training (melatih kembali kandung kemih) ialah untuk
mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih (AHCPR, 1992). Agar bladder training ini berhasil, klien harus menyadari dan secara fisik maupun mengikuti program pelatihan. Program tersebut meliputi penyuluhan upaya berkemih yang terjadwal, dan memberikan umpan balik positif. Fungsi kandung kemih untuk sementara mungkin terganggu setelah suatu priode kateterisasi (Resnick, 1993).
Klien yang sedang dalam pemulihan setelah menjalani pembedahan mayor
atau menderita penyakit kritis atau suatu ketidakmampuan, sering harus dipasang
kateter menetap untuk membantu proses pengeluaran urinenya sehingga jumlah urine
yang keluar dapat diukur. Terpasangnya keteter membuat klien beresiko terkena infeksi (Potter, 2005).
Mengatasi masalah perkemihan salah satunya dapat dilakukan bladder
training. Bladder training merupakan penatalaksanaan yang bertujuan untuk melatih
kembali kandung kemih kepola berkemih normal dengan menstimulasi pengeluaran
urine. Pada perawatan maternitas, bladder training dilakukan pada ibu yang telah
mengalami gangguan berkemih seperti inkontinensia urine dan retensio urine. Pada
hal sesungguhnya bladder training dapat mulai dilakukan sebelum masalah berkemih
terjadi, sehingga dapat mencegah intervensi invasif seperti pemasangan kateter yang
justru meningkatkan kejadian infeksi kandung kemih. Bladder training adalah
kegiatan melatih kandung kamih untuk mengembalikan pola normal berkemih dengan
menghambat atau menstimulasi pengeluaran urine. Program latihan dalam bladder
training meliputi penyuluhan, upaya berkemih terjadwal dan memberi umpan balik
positif. Tujuan dari bladder training melatih kandung kemih untuk meningkatkan
kemampuan mengontrol, mengendalikan, dan meningkatkan kemampuan berkemih
secara spontan (Bobak, 2004).
Bladder training merupakan faktor yang utama dalam mempercepat pemulihan
dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah seksio sesarea. Banyak keuntungan
yang bisa diraih dari latihan bladder training periode dini pasca bedah. Bladder
training sangat penting dalam percepatan hari rawat dan mengurangi resiko karena
tirah baring lama seperti terjadinya dekubitus, kekakuan atau penegangan otot - otot
di seluruh tubuh dan sirkulasi darah dan pernafasan terganggu, juga adanya gangguan peristaltik maupun berkemih. (Carpenito, 2000, ¶,http://www.bidanlia.com
diperoleh tanggal 25 September 2009).
Bladder training segera secara bertahap sangat berguna untuk proses penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi serta trombosis vena. Bila terlalu dini melakukan bladder training dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi. Jadi bladder training secara teratur dan bertahap yang didikuti dengan latihan adalah hal yang paling dianjurkan (Roper, 2002, ¶ 3,http://www.postseksio.com diperoleh tanggal 25 September 2009)
Dalam membantu jalannya penyembuhan ibu pasca seksio sesarea, disarankan
untuk melakukan bladder training. Tetapi, pada ibu yang mengalami seksio sesarea
rasanya sulit untuk melaksanakan bladder training karena ibu merasa letih dan sakit.
Salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan pasien mengenai bladder training.
Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan tentang bladder training pasca operasi
seksio sesarea sehingga pelaksanaan bladder training lebih maksimal dilakukan.
Sebenarnya ibu yang mengalami seksio sesarea mengerti dalam pelaksanaan bladder
training, namun ibu tidak mengerti apa manfaat dilakukan bladder training
(Surininah, 2004, ¶ 1,http://www.ayahbunda-online.co.id
diperoleh tanggal 1 Oktober 2009)
Dari survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di RSUD. Dr. Pirngadi
Medan pada tanggal 26 Oktober 2009 peneliti mendapatkan informasi dari sepuluh
orang ibu yang bersalin dengan seksio sesarea mengatakan bahwa belum pernah
dilakukan bladder training pasca seksio sesarea. Berdasarkan data di atas, maka
peneliti tertarik untuk meneliti bladder training pada ibu-ibu pasca seksio sesarea.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang peneliti uraikan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui bladder training pada ibu-ibu pasca seksio sesarea di RSUD. Dr. Pirngadi Medan tahun 2010.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bladder training pada ibu-ibu pasca seksio sesarea di RSUD. Dr. Pirngadi Medan
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik responden
b. Untuk mengetahui Bladder training terhadap jumlah BAK yang dikeluarkan pada ibu-ibu pasca seksio sesarea di RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
c. Untuk mengetahui Bladder training terhadap BAB yang dikeluarkan pada ibu-ibu pasca seksio sesarea di RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
d. Untuk mengetahui Bladder training terhadap lokea pada ibu-ibu pasca seksio sesarea di RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Kebidanan
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan informasi bagi bidan tentang penatalaksanaan bladder training dan manfaat bladder training terhadap penyembuhan pasien pasca seksio sesarea.
2. Bagi Peneliti selanjutnya
Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai salah satu intervensi bagi penelitian selanjutnya yang sejenis.
3. Bagi Pendidikan Kebidanan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengembangan ilmu pengetahuan
dalam institusi kebidanan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peserta
didik tentang manfaat bladder training pada pasien pasca seksio sesarea.
Link download KTI lengkap ini
46. Bladder Training Pada Ibu-ibu Pasca Seksio Sesarea
BAB I
BAB II
BAB III-V
45. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Persiapan Memasuki Masa Menopause
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Walaupun wanita umumnya memiliki umur harapan hidup lebih tinggi dari pada pria, mereka menghadapi masalah kesehatan lebih rumit. Secara normal wanita mengalami fase perubahan fisiologi yang berbeda dengan yang dialami pria. Mengawali masa remajanya wanita mulai mengawali menstruasi yang kemudian secara normal terjadi setiap bulan selama masa usia reproduktif. Selanjutnya mereka akan menjalani masa hamil dan menyusui yang melelahkan. Fase ini diakhiri dengan datangnya menopause yang umumnya mulai terjadi pada usia 45 tahun (Siagian, 2003).
Penelitian yang dilakukan Hardi (2007) menyatakan bahwa jumlah wanita yang memasuki masa menopause saat ini berjumlah 7,4% dari populasi. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 11 % pada tahun 2005, kemudian naiklagi sebesar 14% pada tahun 2015.
Menopause bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak tetapi merupakan proses yang berlangsung lama, bahkan pada beberapa orang dapat berlangsung selama sepuluh tahun. Artinya meskipun seorang perempuan mengalami haid yang berhenti sama sekali pada usia 50 tahun, misalnya ia mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar-benar tidak datang lagi rata-rata seorang perempuan mencapai umur 50 tahun (dengan rentan antara 48 dan 52 tahun). Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan telah mengalami menopause jika selama setahun tidak pernah sama sekali haid lagi (Irawati, 2002).
Wanita yang mendekati masa menopause mempunyai tiga pola haid. Pertama haid tetap teratur dan kemudian tiba-tiba berhenti. Kedua, haid menjadi jarang, intervalnya menjadi panjang sampai akhirnya berhenti. Ketiga, haid menjadi tidak teratur. Haid kadang-kadang banyak, kadang-kadang sedikit dan jarak waktu antara setiap periode haid tidak dapat diramalkan dengan baik (Jones, 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Jones (2005) ada tiga dari banyak gejala yang
dikeluhkan oleh wanita selama menopause akibat penurunan kadar estrogen yaitu
haid tidak teratur, panas dan kekeringan vagina atau rasa terbakar pada vagina.
Banyak gejala yang dialami wanita pada masa klimakterik atau fase menjelang menopause seperti tersebut di atas menyebabkan ketidaksiapan ibu dalam menerma perubahan-perubahan pada tubuhnya. Ketidaksiapan ini dipicu kurangnya pengetahuan tentang perubahan fisik menopause.
Berdasarkan urian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui “gambaran
pengetahuan ibu tentang persiapan memasuki masa menopase di Desa Sambirejo Kecamatan Binjai Langkat Tahun 2007”.
1.2. Tujuan Penelitian
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang persiapan memasuki masa menopase di Desa Sambirejo Kecamatan Binjai Langkat Tahun 2007.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui persiapan fisik yang dilakukan ibu dalam menghadapi masa menjelang menopause di Kabupaten Langkat.
b. Untuk mengetahui bagaimana persiapan psikis ibu dalam menghadapi masa menjelang menopause di Kabupaten Langkat.
1.3. Pertanyaan Penelitian
“Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang persiapan memasuki masa menopase di Desa Sambirejo Kecamatan Binjai Langkat Tahun 2007.
1.4. Manfaat Penelitian
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang persiapan memasuki masa menopause di Kabupaten Langkat.
b. Sebagai bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa, khususnya di bidang kesehatan.
c. Untuk menambah wawasan penelitian terutama yang berkaitan dengan kesiapan ibu dalam memasuki masa menopause.
Link download KTI lengkap ini
45. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Persiapan Memasuki Masa Menopause
BAB I
BAB II
BAB III-VI
44.Model Matematika untuk Kosentrasi Glukosa dan Insulin dalam Darah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dinamika glukosa (gula darah) dalam darah merupakan bahan studi yang menarik bagi manusia, karena glukosa berperan penting dalam proses metabolisme beberapa jaringan tubuh manusia. Tinggi rendahnya kadar glukosa dalam darah berkaitan erat dengan timbulnya gejala-gejala penyakit pada manusia. Sehingga kriteria, regulasi, dan pengaturan glukosa dalam darah yang merupakan fungsi vital bagi setiap organisme penting untuk diketahui serta dimengerti.
Glukosa (gula darah) adalah suatu monosakarida dengan enam atom karbon (C6H12O6) yang berfungsi sebagai sub unit utama pembentuk karbohidrat yang merupakan sumber energi bagi makhluk hidup. Tubuh mampu mengatur glukosa darah pada konsentrasi yang relatif konstan. Jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan oleh hati dan yang digunakan oleh jaringan perifer bergantung pada keseimbangan fisiologi beberapa hormon. Salah satu hormon yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah insulin.
Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel-sel beta pulau Langerhans pada kelenjar pankreas dan berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi glikogen (gula otot) di hati, sehingga dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah (Price&Wilson, 1995:1109). Hipofungsi pada hormon insulin inilah yang menyebabkan penyakit Diabetes Mellitus.
Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Penyakit ini ditandai oleh hiperglikemia, yakni kadar glukosa darah lebih tinggi dari kadar glukosa darah normal. Pada teknik autoanalisis, kadar glukosa darah puasa normal adalah 80 – 115 mg/100 ml (Price&Wilson, 1995: 1111). Diabetes juga disertai timbulnya komplikasi dan penyakit vaskular yang dapat menyebabkan kematian. Komplikasi yang paling utama adalah serangan jantung, gagal ginjal, kebutaan, dan stroke.
Saat ini tak kurang 150 juta penderita Diabetes tersebar di seluruh penjuru bumi. Data organisasi kesehatan dunia WHO menempatkan Indonesia dalam urutan keenam dunia sebagai negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus terbanyak setelah India, China, Rusia, Jepang dan Brasil. Pada tahun 1995 disebutkan, penderita Diabetes di Indonesia kira-kira 5 juta orang dengan peningkatan sekitar 230.000 pengidap setiap tahun. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan adanya kenaikan 8,2 juta penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2020 mendatang (http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes).
Pemeliharaan kadar glukosa darah merupakan faktor yang amat penting, khususnya untuk menjaga fungsi saraf. Kadar glukosa darah bervariasi, tergantung status nutrisi. Kadar glukosa normal manusia beberapa jam setelah makan sekitar 80 mg/100 ml darah, tetapi saat sehabis makan meningkat sampai 120 mg/100 ml.
Kadar glukosa darah dapat diketahui dengan tes toleransi glukosa. Tes toleransi glukosa memberikan keterangan lengkap mengenai adanya gangguan metabolisme karbohidrat. Pada tes toleransi glukosa, kadar glukosa darah puasa diukur kemudian pasien makan 75 gram glukosa dalam waktu 5 menit. Kadar glukosa darah kemudian diukur dalam interval setengah jam selama 2 jam setelah pemberian glukosa.
Untuk mengetahui kadar glukosa darah stabil atau tidak dapat dilihat dari konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah. Konsentrasi insulin dalam darah mempengaruhi konsentrasi glukosa darah. Di dalam darah, konsentrasi glukosa meningkat jika konsentrasi insulin turun. Sebaliknya, konsentrasi glukosa turun jika konsentrasi insulin meningkat. Kelebihan konsentrasi glukosa dalam darah membuat masalah bagi metabolisme lain dalam tubuh.
Pengaruh dinamika perubahan kadar glukosa darah sangat besar bagi kesehatan manusia, karena kadar glukosa berkaitan dengan keseimbangan metabolisme jaringan-jaringan penting dalam tubuh . Untuk mengkaji masalah tersebut, digunakan pendekatan matematis. Pendekatan matematis dalam hal ini berupa pemodelan matematika.
Konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah digambarkan dalam suatu model matematika yang dapat dipelajari dengan mudah. Dengan model matematika tersebut kita dapat mengetahui mekanisme perubahan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah, baik pada orang normal maupun penderita diabetes.
Secara matematis, dinamika perubahan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah dapat diketahui dengan cara menyelesaikan selesaian dari model matematika yang telah terbentuk.
Model Matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah diperoleh dari proses mekanisme tes toleransi glukosa. Model tersebut melibatkan persamaan differensial nonlinear simultan dan memuat beberapa parameter.
Dalam skripsi ini akan dikaji model di atas untuk mengetahui dinamika perubahan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah pada orang normal dan penderita diabetes.
Hal tersebut di atas melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih lanjut dengan judul “Model Matematika untuk Kosentrasi Glukosa dan Insulin dalam Darah”.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana model matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah?
2. Bagaimana analisa model matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah?
3. Bagaimana dinamika perubahan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah pada orang normal dan penderita diabetes?
1. 3 Batasan Masalah
Dalam pembahasan skripsi ini, akan dibahas persamaan model kosentrasi glukosa dan insulin dalam darah dengan asumsi perubahan konsentrasi bergantung pada waktu (keadaan tak steady). Model tersebut juga tidak melibatkan proses-proses metabolisme glukosa yang terjadi secara siklis maupun proses-proses tak tentu dalam tubuh manusia, seperti daur krebs, glikolisis, dan sebagainya.
1. 4 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Mengetahui model matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah.
2. Menganalisa model matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah
3. Mengetahui dinamika perubahan konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah pada orang normal dan penderita diabetes.
1.5 Manfaat
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Penulis sebagai sarana belajar dan latihan untuk mengkaji masalah matematika, khususnya tentang model matematika untuk konsentrasi glukosa dan insulin dalam darah.
2. Pembaca, khususnya mahasiswa matematika dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan sumbangan pemikiran tentang masalah yang dikaji.
Link download artikel lengkap ini
44.Model Matematika untuk Kosentrasi Glukosa dan Insulin dalam Darah
43.Sikap Ibu Hamil dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi Baru Lahir masih jauh dari target yang harus di capai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan Millenium. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 Angka Kematian Ibu di Indonesia menunjukkan 307/100.000 kelahiran hidup (KH) jauh di atas target angka kematian ibu untuk MDGs (Millenium Development Goals) yang ditetapkan WHO sebesar 102/100.000 KH. Sementara AKBBL di Indonesia mencapai 35/1.000 kelahiran hidup atau dua kali lebih besar dari target WHO sebesar 15/1.000 kelahiran hidup. Hal ini juga menunjukkan bahwa masalah pelayanan kesehatan khususnya persalinan yang memadai di Indonesia sangat kurang (Depkes, 2006; 1). Di Jawa Timur tahun 2004 angka kematian ibu 79/100.000 kh (LB KIA Kota/Kabupaten). Di Kabupaten Malang angka KH sebanyak 37.883, dengan kematian ibu sebanyak 30/100.000 kh dan angka kematian bayi (neonatal) sebanyak 160/1000 kh (LB3 KIA Puskesmas Singosari, 2006). Untuk wilayah Singosari angka kematian neonatal sebanyak 6 dari total kelahiran berjumlah 1363 bayi (LB3 KIA Puskesmas Singosari, 2007).
Permasalahan tersebut diatas masih menjadi perhatian dari berbagai kalangan karena tingginya angka kematian ibu merupakan salah satu determinan derajat kesehatan bagi negara. Fakor penyebab kematian maternal sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: faktor reproduksi, komplikasi obstetric, pelayanan kesehatan dan status sosial ekonomi serta budaya masyarakat (Walujani A, 2001 & Prawiroharjo, 2002). Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi tersebut adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketrampilan tenaga penolong pertama pada persalinan tersebut.
Dilaporkan bahwa sekitar 50% persalinan di Indonesia ditangani oleh bidan dan 5% ditangani oleh dokter, 13% ditolong oleh tenaga kesehatan yang lain, sedangkan 32% masih ditangani oleh dukun (Depkes, 2007). Saat ini pemerintah telah menyediakan sarana kesehatan beserta tenaga kesehatan dan fasilitas pendukungnya. Namun demikian sekitar 70% kasus komplikasi pada ibu hamil tidak mendapatkan penanganan yang memadai. Hanya sekitar 30% dari kasus komplikasi pada ibu hamil yang mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengambilan keputusan dalam keluarga, pembiayaan dan citra kualitas pelayanan fasilitas kesehatan.
Upaya dalam menurunkan Angka kematian ibu telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya adalah program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi dengan harapan meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dan menurunkan kejadian komplikasi dan kematian ibu. Program ini mulai di sosialisasikan pada bulan April 2008 di wilayah kerja Puskesmas Singosari. Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi dilaksanakan dengan tujuan mengetahui ibu bersalin, rencana persalinan, pendamping, rujukan, calon donor darah dan pembiayaan persalinan. Secara aktif dan berpartisipasi bersama tenaga kesehatan dengan harapan dapat mempercepat angka kematian ibu dan bayi.
Dari hasil laporan PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) KIA tahun 2007 masih terdapat desa yang angka cakupannya di bawah terget yaitu desa Klampok dengan kunjungan ibu hamil 87,1% yang seharusnya target SPM 95% dan pertolongan oleh tenaga kesehatan 67,2% yang seharusnya target SPM (Standar Pelayanan Minimal) 88%. Meskipun Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi sudah disosialisasikan akan tetapi masih ada masyarakat terutama ibu hamil sebagai sasaran langsung belum sepenuhnya mengetahui pentingnya pelayanan antenatal dan cenderung belum mengerti tentang perencanaan persalinan ketenaga kesehatan. Hal ini disebabkan karena mereka masih seringnya masyarakat setempat menggunakan jasa dukun bayi karena alasan pelayanan yang diberikan lebih mudah mulai dari pemeriksaan kehamilan sampai masa nifas, disamping itu biaya yang dikeluarkan murah serta sikap masyarakat masih menyetujui persalinan oleh dukun bayi serta adanya kepercayaan budaya yang mendukung persalinan oleh dukun bayi.
Berdasarkan fenomena di atas peneliti ingin meneliti bagaimanakah sikap ibu hamil dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi di Desa Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah Sikap Ibu Hamil dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi di Desa Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisa gambaran sikap ibu hamil terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi di Desa Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi sikap positif ibu hamil terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi di Desa Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
b. Mengidentifikasi sikap negatif ibu hamil terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi di Desa Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Untuk Penulis
Penelitian diharapkan dapat menambah pengalaman dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat terutama ibu hamil baik yang bersifat positif maupun negatif terhadap Progam P4K
1.4.2 Untuk Institusi Tempat Penelitian
Dapat memberikan masukan tentang gambaran sikap ibu hamil dalam menunjang pelaksanaan Program P4K dan sebagai bahan penyuluhan.
1.4.3 Untuk masyarakat
Diharapkan kunjungan ibu hamil dalam hal pemeriksaan dan persalinan ke tenaga kesehatan semakin meningkat.
1.4.4 Untuk Institusi Pendidikan Prodi Kebidanan Malang
Sebagai bahan dasar penelitian lebih lanjut.
Link download artikel lengkap ini
43.Sikap Ibu Hamil dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
42.gambaran pengetahuan dan sikap kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Didunia, seorang wanita meninggal setiap dua menit akibat kanker serviks, dan diperkirakan angka kematian mencapai 270.000 kematian setiap tahunnya. Secara keseluruhan, kanker serviks merupakan kanker mematikan nomor dua didunia pada wanita berusia dibawah 45 tahun, dan saat ini merupakan penyakit kanker paling mematikan nomor tiga didunia pada wanita setelah kanker payudara dan paru-paru (Indosiar.com ; Juli 2007). Insiden kanker serviks, menurut perkiraan Departemen Kesehatan, 100 per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan dari data Laboratorium Patologi Anatomi Seluruh Indonesia, Frekuensi kanker serviks adalah paling tinggi diantara kanker yang ada di Indonesia maupun di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM)(Yatim; 2005 : 64).
Kanker rahim seakan-akan tidak bisa diobati karena pasien datang ke sarana kesehatan sudah pada stadium lanjut, hal tersebut dikarenakan ketidak tahuan masyarakat tentang penyakit kanker mulut rahim dan tidak mengetahui bagaimana gejala serta cara pencegahannya. Kanker mulut rahim sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan apabila ditemukan pada stadium dini, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangannya. Dalam hal ini, kader merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam upaya deteksi dini terhadap penyakit kanker mulut rahim dengan cara penyuluhan, motivasi, serta merujuk wanita yang mempunyai keluhan atau tanda yang mengarah pada kanker mulut rahim ke sarana kesehatan terdekat dan mendampinginya saat periksa pap smear.
Kader adalah anggota masyarakat yang bersedia bekerja secara sukarela, sanggup melaksanakan kegiatan, dan sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan (Dinkes Prop Jatim ; 2006 ;11). Adapun upaya yang dilakukan dalam program pap smear dalam hal ini adalah dengan memberikan penyuluhan tentang deteksi dini kelainan reproduksi dan memotivasinya untuk melakukan pemeriksaan pap smear sebagai upaya deteksi dini terhadap kanker mulut rahim. Dikarenakan pap smear, sering terhambat perilaku umum masyarakat selama ini seperti masalah budaya dan keyakinan., dengan alasan bermacam-macam. Takut biaya mahal sampai tidak diperbolehkan suami (Rohman, 2008).
Setelah dilakukan penyuluhan pada kelompok masyarakat dan sesuai dengan hasil laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batu didapatkan data tentang pemeriksaan pap smear pada tahun 2006 sebanyak 119 orang, tahun 2007 sebanyak 74 orang dan tahun 2008 sampai bulan September sebanyak 249 orang sedangkan dari Puskesmas Bumiaji didapatkan data tentang pemeriksaan pap smear yang terus menurun dari tahun ke tahun, tahun 2006, wanita yang periksa pap smear 74 orang, tahun 2007 : 27 orang, tahun 2008 sampai bulan September tercatat 19 orang. Dan masyarakat desa Pandanrejo yang periksa pap smear pada tahun 2006 sebanyak 21 orang, tahun 2007 ; 12 orang dan tahun 2008 sampai bulan September hanya 4 orang.
Berdasarkan masalah diatas, penulis merasa tertarik untuk mengambil masalah ini sebagai bahan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut : ‘‘Bagaimanakah gambaran pengetahuan dan sikap kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu‘‘.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap kader terhadap kanker mulut rahim dengan metode pap smear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode papsmear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
b. Mengidentifikasi sikap kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
c. Mendiskripsikan sikap kader berdasarkan pengetahuan terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear di desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Peneliti
Sebagai sarana pembelajaran dalam melaksanakan penelitian untuk mendapatkan data nyata dan menerapkan ilmu yang didapat dari metode penelitian.
1.4.2. Bagi Profesi
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kinerja dalam mendeteksi adanya kelainan reproduksi.
1.4.3. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan masukan untuk menyusun program peningkatan pembinaan kader khususnya terhadap deteksi dini kanker mulut rahim.
Link download artikel lengkap ini
42.gambaran pengetahuan dan sikap kader terhadap deteksi dini kanker mulut rahim dengan metode pap smear
41.Peran Dukun terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tingginya angka kematian maternal dan neonatal masih menjadi prioritas agenda pelayanan kesehatan di Indonesia. Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Angka kematian ibu di indonesia menunjukan angka 307/100.000 kelahiran hudup. Sementara angka Kematian Bayi Baru Lahir di Indonesia mencapai 35/1000 kelahiran hidup. Di Jawa Timur Tahun 2004 angka kematian ibu 79/1000.000 kelahiran hidup (LB KIA Kota Kabupaten). Di kabupaten Malang angka kelahiran hidup sebanyak 37.883 dengan angka kematian ibu sebanyak 30/100.000 kelahiran hidup (LB3 KIA Kabupaten Malang 2006). Permasalahan tersebut diatas masih menjadi perhatian dari berbagai kalangan karena tingginya angka kematian ibu merupakan salah satu derajat kesehatan bagi Negara.
Faktor penyebab kematian maternal sangat komplek dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: faktor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan, status sosial ekonomi serta budaya masyarakat (Prawiraharjo. 2002). Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu adalah kemampuan dan ketrampilan penolong persalinan. Tahun 2006 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia sekitar 76%, artinya masih banyak pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi dengan cara tradisional, yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayinya.
Untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) telah dilakukan upaya-upaya oleh pemerintah, salah satunya adalah Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Menurut arahan Bapak Presiden RI pada rapat terbatas bidang kesehatan pada tanggal 20 Februari 2008: segera dilaksanakan percepatan pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), dengan stiker di seluruh wilayah Indonesia yang merupakan salah satu instrumen menuju MDGs dalam menurunkan AKI yang diperkuat oleh pernyataan Menkes RI Siti Fadilah, masyarakat saat ini harus proaktif memeriksakan kesehatan ibu hamil dan mencegah resiko sekecil mungkin pasca melahirkan. Harapannya dengan kegiatan pemberdayaan ini, masyarakat menjadi mampu membangun sendiri potensi yang ada di msyarakat.
Kabupaten Malang (Puskesmas Singosari) terpilih sebagai pilot project program Health Service Program (HSP) dari 18 Kabupaten di Jawa Timur. Kegiatan yang sudah dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang antara lain bagaimana masyarakat mampu secara swadaya dan berperan serta dalam melakukan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir melalui program P4K.
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dilaksanakan dengan tujuan antara lain untuk mengetahui kapan saat bersalin, bagaimana rencana persalinannya (dimana tempatnya, siapa penolongnya, siapa yang akan menjadi pendamping), bagaimana rencana transportasipersalinan/rujukan, siapa calon donor darah dan bagaimana pembiayaan persalinannya dan suami sebagai sasaran tidak langsung dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) ini harus berpartisipasi secara aktif bersama tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pendekatan multisektoral dan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Peran aktif dukun bayi sangat menunjang keberhasilan program ini, dimana dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan serta perawatan ibu dan anak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) ini peran dukun bayi adalah dalam pemeriksaan kehamilan, persalinan dan perawatan ibu nifas serta bayi bari lahir. Jumlah dukun bayi di Wilayah kerja Puskesmas Singosari ada 20 orang . Cakupan rujukan oleh dukun pada tahun 2007 untuk ibu hamil sebanyak 47 orang, rujukan untuk persalinan sebanyak 17 orang dan rujukan untuk ibu nifas sebanyak 3 orang.
Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis ingin meneliti bagaimanakah peran dukun dalam program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) di Wilayah kerja Puskesmas Singosari kabupaten Malang.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah peran Dukun terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Wilayah Kerja Puskesmas Singosari Kabupaten Malang ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui peran dukun terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di wilayah kerja Puskesmas Singosari Kabupaten Malang.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi peran dukun tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dalam ANC di wilayah kerja Puskesmas Singosari.
b. Mengidentifikasi peran dukun tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dalam persalinan di wilayah kerja Puskesmas Singosari.
c. Mengidentifikasi peran dukun tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dalam masa nifas di wilayah kerja Puskesmas Singosari.
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Untuk Penulis
Penulis dapat menerapkan metode penelitian melalui penelitian peran dukun terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) .
1.4.2 Untuk Institusi Penelitian
Sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program KIA dan tidak lanjut penyusunan rencana program.
1.4.3 Untuk Profesi
Membantu memberikan masukan kepada bidan untuk meningkatkan pengetahuan dengan memberikan pelatihan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
Link download artikel lengkap ini
41.Peran Dukun terhadap Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
40.Pengetahuan Ibu Balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010, upaya peningkatan status gizi masyarakat sebagai bagian integral dari pembangunan nasional semakin mendapat prioritas, karena faktor gizi turut menentukan kualitas sumberdaya manusia. Kwalitas sumber daya manusia ditentukan sejak bayi yaitu memberikan gizi yang baik sehingga bayi mempunyai status gizi yang baik pula. Saat ini di Indonesia dari balita 19,19% menderita kekurangan gizi, diantaranya 8,31% gizi buruk (Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005-2009).
Di Jawa Timur dari sekian balita 17,05% menderita kekurangan gizi sedangkan 5,88% menderita gizi buruk. (Departemen Kesehatan 2005 Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005-2009). Dengan semakin meningkatnya kekurangan gizi pada balita ditakutkan akan terjadi penurunan kwalitas sumber daya manusia Indonesia. Menurut Steven perwakilan UNICEF (United Nation Children Education Foundation) yang ada di Indonesia akan terjadi loss generation pada 5 tahun mendatang yang disebabkan kekurangan gizi.
Mengingat permasalahan gizi balita merupakan permasalahan yang serius maka upaya-upaya yang dilakukan seperti yang dikemukakan oleh Supari yaitu dengan cara menjalankan strategi-strategi diantaranya adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat, terutama keluarga (ibu) dengan cara menanamkan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) sesuai aksi pangan dan gizi.
Berdasarkan Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2002 – 2005, undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional (Propenas) dan didalam visi Indonesia Sehat 2010 ditetapkan bahwa 80 % KADARZI (Keluarga Sadar Gizi), karena keluarga mempunyai nilai yang amat strategis dan menjadi inti dalam pembangunan seluruh masyarakat, serta tumpuan dalam pembangunan manusia seutuhnya.
Akan tetapi untuk mencapai 80% Kadarzi tersebut banyak kendala-kendala diantaranya adalah ketidaktahuan keluarga atau ibu, dimana ibu adalah seseorang yang memegang peranan penting dan orang yang sering bersentuhan dengan anak.
Hasil pengumpulan data Kadarzi di Kota Malang tahun 2007, indikator 1 (memantau barat badan secara teratur) sebesar 87,95%, indikator 2 (makan aneka ragam makanan) sebesar 89,82%, indikator 3 (mengkonsumsi garam beryodium) sebesar 92;26%, indikator 4 (pemberian ASI eksklusif) sebesar 28,07% dan indikator 5 (pemberian suplemen) sebesar 91,11%. (Dinas Kesehatan Kota Malang, 2007)
Di kota Malang masih ditemukan anak yang status gizinya dibawah normal, hal ini dilihat dari hasil pemantauan status gizi yang dilakukan pada tahun 2006, dengan indikator BB/ Umur ditemukan gizi buruk sebesar 1,9 % dan gizi kurang 12,24 %, dengan indikator BB/TB ditemukan sangat kurus sebesar 2,27 % dan kurus sebesar 5,31 %, dengan indikator TB/Umur ditemukan sangat pendek sebesar 9,19% dan pendek 14,21%. Sementara itu jumlah KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) di Kota Malang masih rendah yaitu sebesar 27,49 %. (Dinas Kesehatan Kota Malang, 2007)
Berdasarkan data dari Puskesmas Tasikmadu, keadaan gizi kurang pada balita dengan kesadaran keluarga tentang pentingnya gizi yang masih kurang adalah di RW.01 Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengetahuan Ibu Balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) di Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru.
1.2. PERUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang diuraikan diatas dapat ditarik beberapa masalah yang merupakan perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana Pengetahuan Ibu Balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) di RW.01 Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru ?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Mengidentifikasi Pengetahuan Ibu Balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) di RW.01 Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1.4.1. Bagi Pemerintah Daerah/ Dinas Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan kepada Dinas Kesehatan dalam merumuskan kebijakan yang terkait dengan kesejahteraan keluarga/ balita dan sebagai informasi untuk bahan pertimbangan dan perencanaan serta evaluasi program gizi.
1.4.2. Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat dapat memberi motivasi masyarakat khususnya para ibu balita tentang kadarzi dan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan untuk para ibu agar lebih dapat berperan aktif dalam membina keluarganya untuk menerapkan KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) di kelurganya masing-masing.
1.4.3. Bagi Petugas Kesehatan
Dapat menjadi dasar nyata bagi petugas kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat tentang kadarzi dengan menggalakkan program kadarzi dan melakukan penyuluhan yang kontinyu baik di polindes, posyandu, puskesmas dan di masyarakat yang lebih luas.
1.4.4. Bagi Peneliti
Digunakan sebagai dasar untuk menambah wawasan peneliti dan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi), utamanya di RW.01 Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru.
Link download artikel lengkap ini
40.Pengetahuan Ibu Balita tentang KADARZI (Keluarga Sadar Gizi)
39.peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kematian dan kesakitan ibu adalah merupakan masalah yang besar tidak hanya di Indonesia saja namun juga di tingkat dunia. Menurut data WHO, penurunan angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup masih terlalu lamban untuk mencapai target. Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals (MDGS)) dalam rangka mengurangi ¾ jumlah perempuan yang meninggal selama hamil dan melahirkan pada tahun 2015. Pada tahun 2005 sebanyak 536.000 perempuan meninggal dunia akibat persalinan, lebih rendah sedikit dibanding tahun 1990 yaitu 576.000. Menurut data WHO, sebanyak 99% kematian ibu akibat persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian Ibu per 100 ribu kelahiran hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran.
Di Indonesia angka kematian ibu masih tinggi yaitu menurut SKRT 1995 sebanyak 373 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan SDKI 2002/2003 (Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia angka kematian Ibu (AKI) sebanyak 307 per 100.000 KH. Ini berarti penurunan angka kematian ibu sangat lamban dan jauh dari target yang diharapkan, yaitu 125/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Di Jawa Timur, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kematian ibu (AKI) menurun dari 334 per 100.000 kelahiran hidup tahun 1997, menjadi 262 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2005 masih cukup tinggi dibandingkan dengan harapan 70/100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan data dari dinas kesehatan Kabupaten Malang jumlah kematian ibu makin menurun setiap tahun. Tahun 2005 jumlah ibu meninggal 34 ibu. Tahun 2006 jumlah kematian ibu 30 ibu, sedangkan tahun 2007 sebanyak 27 ibu yang meninggal. Untuk menekan angka kematian tersebut usaha yang dilakukan adalah penapisan dini sejak ibu hamil supaya segera diketahui resiko tinggi dan cepat mendapatkan penanganan. Untuk itu perlu peran serta dari keluarga terutama suami memberikan support sistem bagi seorang istri..
Kehamilan resiko tinggi sering mengancam nyawa ibu dan bayi serta sering menimbulkan kecemasan pada ibu dan bayi serta sering menimbulkan kecemasan pada ibu berkaitan dengan bayangan resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga dapat mempengaruhi proses kehamilan dan persalinan. Karena itu sangat diperlukan pendampingan/dukungan dari keluarga terutama dari suami dalam menghadapi kehamilan yang beresiko ini.
Jumlah kematian di Puskesmas Tumpang tahun 2007 sebanyak 3 orang ibu, dan jumlah ibu hamil yang resiko tinggi sendiri sangat banyak yaitu 226 dari 500 jumlah ibu hamil. Berdasarkan studi pendahuluan yang kami lakukan didapatkan data, jumlah ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Tumpang bulan Oktober 2008, 245 ibu dan 35 adalah hamil resiko tinggi, sedangkan yang mendapatkan pendampingan/diantar suami hanya 5 orang ibu. Atas dasar inilah, peneliti ingin melakukan penelitian berjudul Peran Suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi di Puskesmas Tumpang.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi di Puskesmas Tumpang?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi di Puskesmas Tumpang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Peneliti mendapatkan masukan tentang peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi dan menambah wawasan tentang prosedur penelitian.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Masyarakat menyadari pentingnya penapisan dini resiko tinggi ibu hamil dan pentingnya peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi.
1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan (Pemegang Program KIA)
Sebagai masukan mengenai peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi sehingga dapat mengembangkan program pembinaan dalam bidang kesehatan ibu dan anak terutama penanganan resiko tinggi melalui GSI maupun suami siaga dalam upaya penurunan kematian ibu.
Link download artikel lengkap ini
39.peran suami dalam menghadapi ibu hamil resiko tinggi
38.gambaran tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan (hospitalisasi) di ruang anak
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Anak akan selalu merasa aman jika di bawah lindungan orang tuanya terutama ibu, karena dialah yang memberikan/memenuhi kebutuhanya secara lahir dan batin. Oleh karena itu, jika anak dirawat di rumah sakit seorang perawat yang merawatnya diharapkan dapat berperan sebagai pengganti ibunya (substitute mother) yang dapat memberikan rasa aman pada anak. Untuk itu seorang perawat yang bekerja di bangsal anak diharapkan mempunyai rasa kasih sayang pada anak, ramah, lembut, dapat membujuk dan mengetahui sifat-sifat anak. Pada suatu saat perawat berperan sebagai teman bermain, tetapi yang penting menguasai ilmu keperawatan dan memahami penyakit anak, agar dapat memberikan perawatan yang memadai (Ngastiyah, 1997).
Idealnya anak sakit seharusnya dirawat di rumah dengan keluarganya. Namun kadang-kadang keluarga tidak dapat mengantarnya karena hambatan lingkungan, sosial, atau karena keadaan anak terlalu parah untuk dirawat di rumah. Seorang ibu sering kali merasa gagal dalam perawatanya bilamana anak membutuhkan perawatan di rumah sakit dan cukup sulit bagi mereka maupun petugas kesehatan untuk mengunjungi. Pada kesempatan lain, penyembuhan besar sekali dirasakan saat perawatan dan tindakan medis segera diberikan. Ibu jangan dipisahkan dari anak-anak mereka dan prinsip ini seharusnya diingat pada segala aspek perawatan dan pengobatan (Novitasari, 1993).
Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan, pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan. Dialah sumber cinta, belas kasih, simpati, dan pengampunan. Suara ibu adalah suara yang paling sering didengar anak. Suara keras atau lembut ibu akan diikuti anak setiap waktu. Bapak dan ibu perlu menjaga percakapannya supaya anak terbiasa mendengarkan dan mudah meniru yang baik-baik nantinya. Ibu pun harus tenang. Jika ibu sering cemas, sedih, ketakutan, dan marah, maka anak yang sakit bisa menjadi rewel, selalu gelisah, dan sukar menyesuaikan diri. Seorang anak yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti (http://www.sinarharapan.co.id).
Ibu penting sekali dalam mengenal masalah kesehatan anaknya yaitu mampu mengambil keputusan dalam kesehatan, ikut merawat anggota keluarga, khususnya anak-anak mereka. Jika ada anak yang sakit ibu bisa dipastikan akan mengalami kecemasan yang berbeda sesuai dengan koping mereka masing-masing (http://www.sinarharapan.co.id).
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulanganya kembali ke rumah. Selama prose tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penalitian ditunjukkkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stres (Supartini, 2004). Kecemasan adalah emosi dan pengalaman subyektif individu. Kecemasan adalah energi yang tidak dapat diamati secara langsung. Perawat mendapatkan pasien dalam kondisi cemas bedasarkan tingkah laku tertentu yang perlu divalidasi kepada klien. Kecemasan merupakan emosi tanpa obyek spesifik. Kecemasan dicetuskan oleh sesuatu yang tidak diketahui dan terhadap pengalaman yang baru (Stuart & Sundeen, 1998).
Berbagai perasaan yang sering muncul pada anak, yaitu cemas, marah, sedih takut, dan rasa bersalah. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak nyaman dan tidak aman, perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya, dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Tidak hanya anak, orang tua juga mengalami hal yang sama. Terutama pada mereka yang baru pertama kali mengalami perawatan anak di rumah sakit, dan orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi dan sosial dari keluarga, kerabat, bahkan petugas kesehatan akan menunjukkan perasaan cemasnya (Supartini, 2004).
Kecemasan dapat terjadi pada siapa saja. Seperti ibu yang anaknya pertama kali menjalani rawat inap di rumah sakit, maka ia akan mengalami kekhawatiran terhadap kondisi anaknya. Tingkat kecemasan dibagi menjadi beberapa tingkat mulai dari normal, ringan, sedang sampai berat. Walaupun merasa cemas terhadap anak adalah sesuatu yang wajar. Tetapi, perasaan cemas tanpa disertai tindakan, tidak akan memberikan manfaat apapun. Kecemasan tidak dapat memecahkan persoalan. Oleh karena itu, ibu yang anaknya dirawat di rumah sakit jangan sampai merasa cemas, cobalah untuk tidak merasa cemas kalau memang tidak perlu.
Alihkan kecemasan tersebut dengan cara melakukan sesuatu yang bernilai positif (http://www.sinarharapan.co.id ).
Setelah penulis mengadakan studi pendahuluan pada bulan November 2008 di ruang anak Rumah Sakit Panti Nirmala berupa wawancara pada Ibu pasien, 1 orang (25 %) tidak cemaas dan 3 orang (75 %) mengatakan cemas dengan kondisi anaknya dan merasa khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan pada anaknya misalnya: ibu cemas anaknya tidak sembuh-sembuh, anaknya akan semakin parah, dan lain-lain. Sebagai salah satu anggota tim kesehatan, perawat memegang posisi kunci untuk membantu orang tua menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan perawatan anaknya di rumah sakit karena perawat berada di samping pasien selama 24 jam. Untuk itu berkaitan dengan upaya mengatasi masalah yang timbul baik pada anak maupun orang tua selama anaknya dalam perawatan di rumah sakit, fokus intervensi keperawatan adalah meminimalkan stressor, memaksimalkan manfaat hospitalisasi, memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga, dan mempersiapkan anak sebelum dirawat di rumah sakit. (Supartini, 2004).
Bedasarkan fenomena yang ada penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Ibu Yang Anaknya Menjalani Perawatan (hospitalisasi) Di Ruang Anak Santa Theresia Rumah Sakit Panti Nirmala Malang”.
2.1 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini sabagai berikut : “Bagaimanakah gambaran tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan (hospitalisasi) di ruang anak Santa Theresia Rumah Sakit Panti Nirmala Malang?”
1.2 TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan (hospitalisasi) di ruang anak Santa Theresia Rumah Sakit Panti Nirmala Malang.
1.3 MANFAAT PENELITIAN
1.3.1 Bagi Responden
Sebagai bahan informasi mengenai gambaran tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan di ruang anak.
1.3.2 Bagi Institusi Politeknik Kesehatan Depkes Malang
Memberikan masukan bagi pengembangan pengetahuan mahasiswa keperawatan Malang tentang gambara tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan di ruang anak.
1.3.3 Bagi Masyarakat / Keluarga Responden
Sebagai bahan informasi agar dapat mengerti tentang tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan di ruang anak.
1.3.4 Bagi Peneliti lain
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut.
Link download artikel lengkap ini
38.gambaran tingkat kecemasan ibu yang anaknya menjalani perawatan (hospitalisasi) di ruang anak
37.kepatuhan lansia penderita hipertensi terhadap asupan diit rendah garam
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah sebuah kondisi medis dimana tekanan darah dalam arteri meningkat secara kronik (www.wikipedia.org/ Indonesia/tentang tekanan darah, 2006). Peningkatan terhadap tekanan darah akan menimbulkan gejala - gejala dari hipertensi antara lain : pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba – tiba, tengkuk terasa pegal, dan lain – lain. Dampak serius yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah kerusakan pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan (www. Gizi/mengontrol hipertensi 2004).
Hipertensi merupakan penyakit yang membahayakan karena dapat merusak system saraf (otak) dengan pecahnya pembuluh darah di otak. Salah satu penyebab hipertensi adalah aktifitas fisik yang dapat menimbulkan sakit kepala, marah, berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing. Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan dan mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Tingginya tekanan darah yang lama tentu saja akan merusak pembuluh darah diseluruh tubuh yang paling jelas pada mata, jantung, ginjal, dan otak. Maka dampak yang biasa pada hipertensi yang lama tidak terkontrol adalah gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal dan stroke. Selain itu jantung membesar karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat pemompa melawan tingginya tekanan darah. (Stuart and Sundeen, 2001).
Di Indonesia banyaknya lansia penderita hipertensi pada tahun 2005 sebanyak 5,8 juta orang (Depkes). Boedhi Darmojo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian melaporkan bahwa 1,8 – 28,6 % penduduk yang berusia diatas 60 tahun adalah pasien hipertensi, pada umumnya prevalensi hipertensi berkisar antara 8,6 – 10 %. Prevalensi terendah yang dikemukakan dari data tersebut berasal dari desa Kalirejo, Jawa Timur, yaitu sebesar 1,8 %, sedangkan di Aceh, Sumut, sebesar 5,3 %. Data lain yang dikemukakan Gunawan S. yang menyelidiki masyarakat terisolasi dilembah Baliam, Irian Jaya, mendapatkan prevalensi hipertensi 0,65 %. (Arjatmo Tjkronegoro, DKK 2005). Data Dinas Kesehatan Kota Malang menunjukkan jumlah kasus hipertensi selama tahun 2005 sebanyak 39.082 kasus, sementara tahun 2006 sebanyak 40.216 kasus. Dari studi pendahuluan tahun 2008 jumlah penduduk di RW. 04 Kelurahan Mergosono Malang sebanyak 1354 jiwa, yang tergolong lansia sebanyak 148 dan yang menderita hipertensi sebanyak 40 lansia.
Penyakit hipertensi sebagian besar diderita oleh lansia dan digolongkan sebagai penyakit degeneratif, tetapi dapat pula dialami oleh orang yang belum lansia (usia anak, remaja atau dewasa) (Mansjoer, 1999). Penderita hipertensi dari tahun ketahun cenderung meningkat, karena banyak faktor yang menyebabkan penyakit hipertensi seperti gaya hidup tidak sehat, lingkungan pendidikan, pengalaman bisa juga masyarakat kurang informasi tentang diet pada penyakit hipertensi. Namun kadang-kadang seseorang tidak mengetahui dirinya menderita tekanan darah tinggi sehingga gaya hidup dan pola makannya sembarangan.
Penanganan tahap awal pada hipertensi dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup seperti melakukan diit dan olah raga secara teratur salah satunya adalah pembatasan asupan garam dalam menu sehari-hari. Dengan mengkonsumsi makanan rendah garam sangat membantu mereka yang menderita hipertensi. Untuk itu, tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap diit hipertensi akan meningkatkan efektivitas pengobatan serta mencegah dampak buruk dari penyakit ini. Permasalahan kepatuhan dalam melakukan diit hipertensi adalah sulitnya mengubah cara pola makan yang sehat dan kurang informasi tentang diit yang benar (Marianna, 2008).
Pelaksanaan diit hipertensi rendah garam seperti membatasi konsumsi garam sampai 4 gram sehari. Menjaga rasa makanan sealami mungkin merupakan diet yang terbaik dengan mengkonsumsi banyak buah dan sayuran yang tinggi seratnya. Karena buah-buahan dan sayuran yang tinggi seratnya mempunyai kemampuan untuk menurunkan tekanan darah.
Olah raga yang perlu dilakukan oleh lansia yang menderita hipertensi olah raga yang tidak mengeluarkan tenaga terlalu banyak seperti jogging, jalan kaki, dan naik sepeda (Purwati, 2007).
Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat bila seseorang yang sudah beranjak jauh dari periode hidupnya yang terdahulu. Ia sering melihat masa lalunya, biasanya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masa sekarang mencoba mengabaikan masa depan sedapat mungkin (Elizabeth. Burlock, 1999: 380).
Salah satu upaya yang mempunyai peran utama adalah pengendalian tekanan darah dengan merubah gaya hidup dan pola makan sehat, konsumsi gizi seimbang serta memelihara berat badan ideal, hidup aktif berolah raga serta tidak merokok. Upaya kuratif yang mahal seperti perawatan intensif, tidak besar peranannya terhadap penurunan hipertensi jika tidak diimbangi dengan kepatuhan yang baik terhadap pelaksanaan diit hipertensi (www.library.php.id.co.id, 2000).
Dengan fenomena diatas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui Kepatuhan Lansia Penderita Hipertensi Terhadap Asupan Diit Rendah Garam di RW. 04 Keluarahan Mergosono Malang.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut, bagaimana kepatuhan lansia penderita hipertensi terhadap asupan diit rendah garam RW. 04 Keluarahan Mergosono Malang ?
1.3 Tujuan Studi Kasus
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai seberapa jauh kepatuhan lansia penderita hipertensi terhadap asupan diit rendah garam di RW. 04 Kelurahan Mergosono Malang.
1.4 Manfaat Studi Kasus
1.4.1 Bagi lansia
Diharapkan hasil peneletian ini dapat memberikan gambaran tentang pentingnya diit hipertensi khususnya diit rendah garam sehingga dapat meningkatkan kepatuhan lansia terhadap diit hipertensi.
1.4.2 Bagi institusi pelayanan kesehatan
Sebagai bahan masukan dalam upaya menurunkan angka kekambuhan hipertensi melalui pengontrolan diit hipertensi dimasyarakat.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan dan Penelitian
Sebagai pengembangan ilmu yang telah ada dan dapat dijadikan sebagai kajian untuk kegiatan penelitian selanjutnya.
Link download artikel lengkap ini
37.kepatuhan lansia penderita hipertensi terhadap asupan diit rendah garam
36.Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Dari Balita Yang Demam
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Demam dapat diderita pada siapa saja, dari bayi hingga orang berusia paling lanjut sekalipun. Demam sesungguhnya merupakan reaksi alamiah dari tubuh manusia dalam usaha melakukan perlawanan terhadap beragam penyakit yang masuk atau berada di dalam tubuh. Dengan kata lain, demam adalah bentuk mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Apabila ada suatu kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan melakukan perlawanan terhadap kuman penyakit itu dengan mengeluarkan zat antibody. Pengeluaran zat antibody yang lebih banyak dari pada biasanya ini diikuti dengan naiknya suhu badan. Semakin antibody dikeluarkan, dan akhirnya semakin tinggi pula suhu badan yang terjadi (Carpenito, 2002).
Demam, seperti halnya muntah atau batuk, adalah gejala dari suatu penyakit, tetapi bukan penyakit itu sendiri. Untungnya, demam pada anak-anak pada umumnya adalah infeksi kecil dan dapat sembuh dengan sendirinya (Widjaja, 2002).
Secara garis besar ada dua ketegori demam yang sering kali diderita oleh anak balita (dan manusia pada umumnya) yaitu demam noninfeksi dan demam infeksi.
Demam akibat virus, contohnya flu, adalah suhu tubuh yang tingginya antara 38,3 °C hingga 40 °C selama 3-5 hari. Pada umumnya, seberapa tinggi demam tidak selalu berhubungan dengan seriusnya suatu penyakit. Adalah penting untuk memperhatikan gejala lainnya dan juga tindakan anak untuk menentukan keseriusan penyakitnya (Carpenito. 2002).
Demam dapat berbahaya apabila suhu tubuh melebihi 41 °C. Untunglah, dalam sebagian besar kasus tubuh memiliki mekanisme termostat untuk menjaga tubuh demam supaya berada di bawah suhu yang berbahaya tersebut (Carpenito. 2002).
Umumnya bahwa setiap gangguan kesehatan akan menimbulkan kecemasan baik bagi yang bersangkutan maupun bagi anggota keluarga lainnya. Sebagian besar pada balita yang sedang mengalami demam, atau suhu badannya terasa panas, pada balita akan menimbulkan gejala – gejala pada umumnya, seperti rewel, gelisah dan terlebih mereka akan menangis sambil teriak – teriak. Sehingga dari gejala – gejala yang dimunculkan pada balita tersebut, akan menimbulkan respon psikis kecemasan bagi orang tua mereka, terlebih pada pasangan muda yang baru memiliki anak.
Kecemasan adalah suatu rasa yang tidak aman dan ketakutan yang timbul karena dirasakan akan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Setiap orang mempunyai mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi kecemasan. Kecemasan bukan semata-mata masalah kejiwaan, tetapi merupakan pengalaman yang setiap terjadi pada siapa saja (Maramis, 1995).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Dinoyo sejak dimulai pada bulan Januari 2007 sampai dengan bulan Oktober 2008, jumlah kunjungan ibu dari balita yang demam di Puskesmas (Poli KIA) maupun pada kunjungan rutin di posyandu balita di wilayah kerja Puskesmas Dinoyo Malang sekitar sebanyak 1.356 balita.
Lingkungan pencetus kecemasan adalah apapun yang didefinisikan oleh seseorang sebagai suatu ancaman atau bahaya, bagaimana seseorang mengidentifikasi suatu penerimaan atas kerja dan masa lalunya. Kebutuhan, keinginan kematangan konsep diri. Perubahan psikologis yang muncul pada klien biasanya berbeda-beda (Koplan dan Saddock, 1997). Perbedaan tingkat kecemasan yang muncul pada klien bisa dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Long, BC, 1996).
Berdasarkan fenomena yang sering terjadi, tingkat kecemasan pada ibu-ibu dari balita yang demam yang dimaksud oleh peneliti adalah keadaan psikis yang dialami oleh sebagian besar ibu pada umumnya, apabila buah hatinya mengalami suatu gejala-gejala dari munculnya suatu penyakit. Pada umumnya yang sering terjadi pada balita adalah terkena demam, dan biasanya persepsi bagi orang tua, terutama bagi pasangan muda (Ibu Primigranda), hal itu merupakan suatu kejadian yang dianggap sangat mengkhawatirkan. Sehingga dampak psikis yang ditimbulkan dari perasaan kekhawatiran bagi ibu-ibu dari balita demam akan memunculkan beberapa tingkat kecemasan, antara lain kecemasan ringan, kecemasan sedang, kecemasan berat, dan panik.
Dari beberapa tingkat kecemasan yang dialami ibu-ibu dari balita yang demam akan memunculkan beberapa respon fisik. Respon kognitif dan respon afektif yang berbeda-beda setiap tingkat kecemasan yang dialaminya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, yang memunculkan beberapa respon dan tanda gejala kecemasan yang dilami oleh ibu-ibu dari balita yang demam maka peneliti menganggap perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui “Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Dari Balita Yang Demam Di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Malang”.
1.2 Rumusan Masalah
“Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Dari Balita Yang Demam Di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Malang” .
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Dari Balita Yang Demam Di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Malang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Profesi
Dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada keluarga dan sebagai dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan profesi keperawatan.
1.4.2 Bagi Puskesmas
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan di Puskesmas Dinoyo khususnya untuk meminimalkan kecemasan pada ibu yang balitanya mengalami demam.
1.4.4 Bagi Ibu
Dapat meningkatkan pengetahuan ibu dalam beradaptasi dengan kecemasan dan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah demam pada balitanya.
1.4.3 Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman dalam melaksanakan aplikasi riset keperawatan ditatanan pelayanan keperawatan.
Link download artikel lengkap ini
36.Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Dari Balita Yang Demam
35.Gambaran tentang Faktor Eksternal Penyebab Kesulitan Belajar Mahasiswa
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar merupakan proses perubahan perilaku, pengetahuan dan sikapnya dalam kegiatan belajr didalam kelas akan menghasilkan sekelompok murid yang cepat belajar dengan prestasi baik, sedang dan kurang. Dengan adanya masalah belajar ini, murid biasanya mengalami kesulitan belajar.
Dari berbagai sumber informasi dapat diketahui bahwa suatu kelompok mahasiswa yang berdistribusi normal, sejumlah kasus hipotetik kesulitan belajar sekitar 10-25% dari keseluruhan populasi tersebut.
Berdasarkan studi pendahuluan, dari 15 mahasiswa didapatkan 9 orang (60%) yang mengalami kesulitan belajar dari faktor keluarga.
Kesulitan balajar ini bisa disebabkan dari dalam individu ataupun luar individu itu sendiri.
Upayanya sangat diperlukan untuk menghindari kesulitan belajar, yaitu dengan mengenal sendini mungkin jenis kesulitan belajar dan mencari sumber penyebab utama dari kesulitan belajar.
1.2 Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan “ Bagaimana Gambaran tentang Faktor Eksternal Penyebab Kesulitan Belajar Mahasiswa Akper Lumajang”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tentang faktor eksternal penyebab kesulitan belajar mahasiswa Akper Lumajang.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui gambaran faktor keluarga terhadap kesulitan belajar.
1.3.2.2 Untuk mengetahui gambaran faktor masyarakat terhadap kesulitan belajar
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan kesulitan belajar.
1.4.2 Bagi Instansi terkait
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya mengurangi masalah kesulitan belajar di AKPER Lumajang.
1.4.3 Bagi Mahasiswa
Dapat digunakan sebagai acuan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga masalah kesulitan belajar dapat berkurang, yang dapat meningkatkan prestasi dari hasil belajar.
Link download artikel lengkap ini
35.Gambaran tentang Faktor Eksternal Penyebab Kesulitan Belajar Mahasiswa
34.Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja perawat
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kinerja perawat merupakan hal yang paling diharapkan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan di Rumah Sakit. Produktivitas dalam keperawatan dihubungkan dengan penggunaan perawatan klinis yaitu dalam penyampaian asuhan keperawatan dapat terhindar dari pemborosan, ketidakefektifan perawatan serta ketepatannya (Swanburg, 2000 ; 59). Perawat adalah pekerja yang berpengetahuan. Kebutuhan ekonomis dasar mereka berhubungan dengan kebutuhan manusia lain atau dengan nilai-nilai manusia.
Melaksanakan pekerjaan dengan kesulitan yang sama dan menginginkan penghargaan ekonomis yang sama nilainya dengan pekerja berpengetahuan yang lain. Pembayaran merupakan bagian dari dimensi sosial atau psikologis dari perawat. Mereka juga menginginkan peningkatan kedudukan, kekuatan dan status yang sepadan dengan pekerja berpengetahuan yang lain (Swanburg, 2001 ; 349).
Kinerja merupakan suatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan (KKBI edisi 2, 1991). Kebutuhan seseorang untuk mencapai prestasi merupakan kunci dalam suatu motivasi dan kepuasan kerja. Motivasi seseorang akan timbul apabila mereka diberi kesempatan untuk mencoba dan mendapat umpan balik dari hasil yang diberikan. Oleh karena itu penghargaan psikis dalam hal ini sangat diperlukan agar seseorang merasa dihargai dan diperhatikan serta dibimbing manakala melakukan suatu kesalahan (Nursalam, 2002 ; 100).
Kinerja perawat dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor intern yang melekat dalam diri individu maupun faktor ekstern yang berasal dari lingkungannya yang mana kedua faktor tersebut saling mendukung satu sama lain. Faktor intern meliputi motivasi, pendidikan, dan pengalaman sedangkan faktor ekstern meliputi sarana dan prasarana, kepemimpinan, birokrasi dan peraturan atau kebijakan (Swanburg, 2000 ; 59).
Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Perawat manajer dapat menggunakan proses penilaian kinerja untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih bimbingan perencanaan karir, serta pemberian penghargaan kepada perawat yang berkompeten (Nursalam, 2002 ; 307).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di bulan Agustus 2005 di Rumah Sakit Dr. Haryoto Lumajang dari 10 perawat didapatkan 3 orang mempunyai pengalaman lebih dari 5 tahun dan 7 orang berpengalaman kurang dari 5 tahun. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti terdapat 4 orang yang kurang memanfaatkan jam kerjanya secara optimal, dan 6 orang memanfaatkan jam kerjanya secara optimal.
Dari berbagai fenomena diatas peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang “Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja perawat di RS Dr. Haryoto Lumajang”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut, “Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja perawat di RS Dr. Haryoto Lumajang tahun 2005”.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor intern (motivasi, pengalaman) dan faktor ekstern (sarana dan prasarana) yang mempengaruhi kinerja perawat di RS. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2005.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi faktor intern (motivasi, pengalaman) dan faktor ekstern (sarana dan prasarana) di RS. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2005.
1.3.2.2. Mengidentifikasi kinerja perawat di RS. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2005.
1.3.2.3. Mengidentifikasi pengaruh faktor intern (motivasi, pengalaman) dan faktor ekstern (sarana dan prasarana) terhadap kinerja perawat di RS. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2005.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1.4.1. Institusi Terkait
Memberikan masukan bagi Rumah Sakit dalam meningkatkan kinerja perawat dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perawat.
1.4.2. Peneliti
Memberikan pengalaman dalam pelaksanaan penelitian dan mengetahui faktor – faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja perawat.
1.4.3. Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi atau data tambahan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti tentang kinerja perawat.
Link download artikel lengkap ini
34.Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja perawat
33.gambaran pola menstruasi akseptor KB hormona
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program keluarga berencana di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1953 yang bertujuan untuk memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa, serta mengurangi angka kelahiran untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan bangsa (Rustam. Mochtar 1998 : 250 – 251).
Metode KB yang dapat digunakan ada beberapa cara yaitu metode sederhana yang terdiri dari kondom, spermiside, coitus interuptus dan pantang berkala. Metode efektif terdiri dari KB hormonal, mekanis dan metode KB darurat. Semua jenis metode tersebut memiliki keuntungan dan kerugian (Manuaba 1998 : 438). Yang termasuk jenis KB hormonal adalah pil oral kombinasi, suntikan dan susuk/implant (Manuaba. 2001 : 723 – 724)
Metode KB efektif makin diterima dunia sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Dalam prakteknya metode KB efektif yang sering digunakan adalah metode KB hormonal (Manuaba 2001 : 723). Data mengenai KB hormonal yang terdiri dari pil, susuk/implant. Suntik dari berbagai sumber masih menempati urutan terbesar dalam penggunaannya sebesar 55 %. Cara pemakaian KB hormonal tergantung dari jenis yang digunakan seperti pil KB harus diminum setiap hari. Injeksi diberikan setiap 1 bulan atau 3 bulan sekali, susuk/implant diletakkan di bawah kulit lengan dan bisa digunakan sampai bertahun-tahun. (August Burns. 2000 : 299).
Cara KB hormonal memiliki efek samping yang biasanya muncul pada beberapa bulan pertama pemakaian, yang berupa mual, pusing, payudara bengkak dan perubahan datang bulan/pola menstruasi (August Burns, 2000 : 292 – 301).
Berubahnya pola menstruasi terjadi pada cara KB hormonal pil, implant/susuk dan suntik. Penggunaan KB tersebut bisa menyebabkan berkurangnya pendarahan. Pendarahan yang lebih banyak, datang bulan menjadi jarang atau bahkan berhenti. (Manuaba, 1998 : 442).
Bervariasinya pola menstruasi akan memberikan dampak dan respon yang berbeda pula pada akseptor seperti amenorhea atau tidak adanya perdarahan yang akan menimbulkan kekhawatiran, takut dirinya akan hamil lagi sehingga seorang wanita akan selalu merasa cemas dengan keadaan ini, maka tes kehamilan akan berguna untuk menghilangkan kecemasannya (Mochtar, Rustam. 1998 : 280). Spotting atau bercak darah atau pendarahan yang tidak teratur juga sering terjadi pada penggunaan KB hormonal yang akan menyebabkan seorang wanita merasa tidak normal atau memiliki penyakit. Maka konsultasi dengan petugas kesehatan khususnya yang menangani masalah KB adalah solusi yang tepat untuk menghilangkan kekhawatiran (August, Burns. 2000 : 309). Perdarahan di tengah siklus bulanan atau perdarahan lebih banyak dan lama juga sering terjadi atau dijumpai pada bulan-bulan pertama pemakaian KB hormonal. (August, Burns. 2000 : 292 – 301).
Berubahnya pola menstruasi pada KB hormonal disebabkan karena rendahnya dosis estrogen, kelebihan hormon progesteron atau dosis progestin yang besar, dapat juga disebabkan karena kekurangan hormon progesteron sehingga terjadi perdarahan yangtidak teratur, spotting, amenorhea dan perdarahan di tengah siklus bulanan (Mansjoer Arif dkk. 2001 : 360)
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Jamintoro Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember dari 10 akseptor yang menggunakan pil 30 %, KB suntik 50 %, implant 10 %, lain-lain 10 %. Dari penggunaan KB hormonal sekitar 75% mengalami perubahan pola menstruasi.
Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran pola menstruasi akseptor KB hormonal di Desa Jamintoro Krajan I Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana gembaran pola menstruasi akseptor KB hormonal di Desa Jamintoro Krajan I Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh gambaran pola menstruasi akseptor KB hormonal di Desa Jamintoro Krajan I Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi gambaran pola menstruasi akseptor KB suntik
1.3.2.2 Mengidentifikasi gambaran pola menstruasi akseptor KB pil
1.3.2.3 Mengidentifikasi gambaran pola menstruasi akseptor KB susuk / implant
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman bagi peneliti dan dapat meningkatkan pemahaman peneliti tentang pola menstruasi akseptor KB hormonal
1.4.2 Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan data dasar / awal bagi penelitian selanjutnya.
1.4.3 Bagi akseptor
Dapat menambah pengetahuan akseptor tentang KB hormonal dan efek samping yang ditimbulkan khususnya yang berupa gangguan pola menstruasi.
1.4.4 Bagi Puskesmas
Sebagai masukan bagi petugas kesehatan, khususnya yang menangani masalah KB untuk lebih memperhatikan efek samping yang ditimbulkan, sehingga dapat memberikan konseling pada akseptor.
Link download artikel lengkap ini
33.gambaran pola menstruasi akseptor KB hormonal
