KTI-SKRIPSI

05.pengaruh tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ganggren pada etrimitas bawah merupakan suatu komplikasi bagi pasien dengan Diabetes Melitus. Penyembuhan luka yang lambat dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi cenderung terjadi dan ganggren dapat berkembang serta terdapat risiko tinggi perlu dilakukannya amputasi tungkai bawah (Morison, 2003 : 181).

Ada 3 alasan mengapa orang dengan Diabetes lebih tinggi risikonya mengalami masalah kaki, yaitu : sirkulasi darah dari tungkai yang menurun (gangguan pembuluh darah), berkurangnya perasaan pada kedua kaki (gangguan saraf), berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi (Vivi : 2006), perawatan kaki yang baik bagi seorang yang menderita Diabetes diperlukan. Guna menghalangi terjadinya ganggren (Beale & Wong, 1996 : 12). Hygiene yang baik sangat lah penting bagi pasien Diabetes untuk mencegah timbulnya infeksi (Long, 1996 : 49). Pasien harus dibantu untuk menjaga agar kulitnya selalu bersih dan kering, khususnya di daerah yang lembab. Karena pada tempat tersebut beresiko terjadinya luka akibat gesekan dan infeksi jamur. Perawatan preventif juga harus dilakukan pada kaki – kaki yang harus dibersihkan, dikeringkan, diminyaki (kecuali pada celah antara jari dan kaki) dan sering diperiksa (Smeltzer, 2001 : 1280). Kaki pasien Diabetes dapat mengalami sakit pembuluh darah kecil dan hilangnya rasa sakit karena terjadi kerusakan pada saraf. Hal ini akan menyebabkan lambatnya penyembuhan dan mudah terkena trauma dan terjadi infeksi (Beale & Wong, 1996 : 12), selalu menjaga kebersihan dapat mencegah terjdinya infeksi. (Atikel Kesehatan, 2006).
Berdasarkan data dari ruang Rekam Medik RS Babtis Kediri pada bulan Januari sampai Desember 2006 diperoleh data pasien Diabetes Melitus sebanyak 264 pasien dan pasien Diabetes Melitus dengan ganggren sebnyak 58 pasien. Jumlah rata – rata per ruangan untk pasien DM 86 pasien dan pasien DM dengan ganggren 19 pasien. Atas dasar situasi yang ada maka perawat dituntut mampu untuk membantu masalah terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus.
Pasien yang terkena Diabetes merupakan intruksi perawatan kaki yang tepat. Banyak komplikasi yang dapat dihindari jika pasien dimotivasi untuk melaksanakan perawatan kaki yang tepat sebagai bagian dari hygiene mereka setiap hari. (Patria dan Anne, 2005 : 1366). Kaki Diabetes yang tidak dirawat dengan baik akan mudah mengalami luka. Luka ini dapat menjadi parah bahkan menjadi ulkus ganggren bila tidak ditanggulangi. (Vivi, 2006). Kadang – kadang telambatnya pengobatan kaki dapat menyebabkan ganggren. Jika ganggren tidak dirawat dengan baik dapat menyebabkan amputasi.
Kenyataan yang ada di lapangan saat ini, tindakan mandiri perawat dalam memberikan tindakan pencegahan tejadinya ganggren sudah dilakukan tetapi belum optimal. Tindakan pencegahan yang dapat digunakan oleh perawat salah satunya adalah dengan tindakan personal hygiene yang tepat. Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh personal hygiene tehadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus.

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan dari masalah yang ada diatas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
Adakah pengaruh tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengaruh tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Pengaruh melakukan tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus
1.3.2.2 Pengaruh tidak melakukan tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus
1.3.2.3 Membandingkan terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus antara
melakukan tindakan personal hygiene dengan yang tidak melakukan personal hygiene.






1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pasien
Dapat mencegah terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus.
1.4.2 Bagi Perawat
Dapat meningkatkan asuhan keperawatan secara komprehensif teutama dalam memberikandukungan untuk melakukan pencegahan terjadinya ganggren pada Diabetes Melitus.
1.4.3 Bagi Institusi
1.4.3.1 Rumah Sakit
Dapat menjadi masukan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih berkualitas bagi pasien yang menjalani rawat inap terutama bagi pasien Diabetes Melitus.
1.4.3.2 Pendidikan
Dapat menambah wawasan mahasiswa tentang pelaksanaan tentang personal hygiene pada pasien Diabetes Melitus.
1.4.4 Bagi penulis
Penelitian ini menjadi dasar dalam melakukan penelitian selanjutnya tentang tindakan personal hygiene secara lebih komprehensif.

Link download artikel lengkap ini
05.pengaruh tindakan personal hygiene terhadap terjadinya ganggren pada pasien Diabetes Melitus
BAB I-II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

04.Pengaruh pendididkan dengan pengetahuan tentang hipertensi pada lansia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Di negara industri hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan oleh Dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer karena angka prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang ditimbulkannya. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi 2 golongan yaitu hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain. (Arjatmo Tjkronegoro, DKK 2001).

Di Indonesia, sampai saat ini belum terdapat penyelidikan yang bersifat rasional, multisenter, yang dapat menggambarkan prevalens hipertensi secara tepat. Banyak penyelidikan dilakukan secara terpisah dengan metodologi yang belum baku.
Boedhi Darmojo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian melaporkan bahwa 1,8 – 28,6 % penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah pasien hipertensi, pada umumnya prevalensi hipertensi berkisar antara 8,6 – 10 %. Prevalensi terendah yang dikemukakan dari data tersebut berasal dari desa Kalirejo, Jawa tengah, yaitu sebesar 1,8 %, sedangkan di Aceh, Sumut, sebesar 5,3 %. Data lain yang dikemukakan Gunawan S. yang menyelidiki masyarakat terisolasi dilembah Baliam, Irian Jaya, mendapatkan prevalensi hipertensi 0,65 %. (Arjatmo Tjkronegoro, DKK 2005).
Penelitian prevalensi hipertensi pada pelajar sekolah menengah tingkat pertama dilaporkan oleh Wasilah Rochmah dan kawan – kawan di Yogyakarta, sedangkan Robinson Harahap meneliti pada pelajar sekolah menengah tingkat atas di Jakarta dari 203 pelajar SMP di Yogyakarta yang diteliti. Berumur 12 – 17 tahun, didapatkan 10 pelajar dengan tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan darah Diastolik sama dengan atau diatas 90 mmHg dari 3612 pelajar SMA di Jakarta berumur 12 – 15 tahun di dapatkan 3,3 % menderita hipertensi. (Artmodjo Tjkronegoro, 2001).
Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranajk dari waktu yang penuh dengan manfaat bila seseorang yang sudah beranjak jauh dari periode hidupnya yang terdahulu. Ia sering melihat masa lalunya, biasanya dengan penuh penyesalan, dan cenderung ingin hidup pada masa sekarang mencoba mengabaikan masa depan sedapat mungkin (Elizabet. Burlock, 1999: 380).
Saat abad ke 21 mulai menjelang terdapat lebih banyak orang lansia hidup di bumi dari pada usia yang pernah dicapai dalam sejarah dari tahun 1900 sampai 1984. Populasi masyarakat lansia berusia 65 tahun dan lebih di Amerika Serikat berkembang dari kurang lebih 3 juta menjadi 28 juta dari usia lanjut di Bumi, diantaranya tinggal dinegara – negara berkembang jadi populasi lansia merupakan fenomena Dunia (Josep J Gallo, 1998).
Saat ini Jatim berpenduduk sekitar 36 juta jiwa, diperkirakan empat juta jiwa atau 11 persen lanjut usia. Tahun 2003 jumlah lansia hanya 3,5 juta, jadi ada kenaikan sekitar 500 ribu orang. Kenaikan jumlah lansia tersebut dikarenakan semakin baiknya pelayanan dan tingkat kesehatan di Jatim seiring peningkatan ekonomi masyarakat. Dengan semakin meningkatnya pelayanan kesehatan pemerintah kepada lansia, maka usia harapan hidup lansia bertambah menjadi 6 tahun “ini merupakan suatu kemajuan yang sangat menggembirakan bagi masyarakat lansia di Indonesia khususnya di Jatim” tuturnya. ( jatim go.id 2006)
Jumlah lansia saat ini di UPS Wredha Tulungagung adalah 70 orang

1.2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut, adalah pengaruh pendididkan dengan pengetahuan tentang hipertensi pada lansia di UPS Panti Wredha Waluyo Husodo.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Penelitianini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan lansia tentang hipertensi pada lansia di UPS Panti Wredha Waluyo Husodo.
1.3.2. Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang hipertensi di UPS Panti Wredha Waluyo Husodo.
2. Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang penyebab hipertensi.
3. Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang tanda dan gejala.
4. Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang komplikasi hipertensi.
5. Mengidentifikasi pengetahuan lansia tentang penatalaksanaan hipertensi

1.4 Manfaat Penellitian
1.4.1 Manfaat bagi penulis
Hasil penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan D III Keperawatan sebagai tugas akhir mahasiswa AKPER PGRI KEDIRI.
1.4.2 Bagi lansia
Dapat meningkatkan pengetahuan pada lansia terhadap hipertensi.
1.4.3 Bagi institusi pendidikan
Sebagai pengembangan ilmu yang telah ada dan dapat dijadikan sebagai kajian untuk kegiatan penelitian selanjutnya

1.5 Batasan penelitian
Untuk mengarahkan ruang lingkup penelitian maka masalah yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
1.5.1 Pengetahuan lansia tentang hipertensi
1.5.2 Lansia yang berada di UPS Panti Wredha Waluyo Husodo

Link download artikel lengkap ini
04.Pengaruh pendididkan dengan pengetahuan tentang hipertensi pada lansia
BAB I-II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

03.Pengaruh motivasi keluarga terhadap mekanisme koping lansia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan. Kemajuan ekonomi, perbaikan gizi dan lingkungan hidup serta majunya ilmu pengetahuan sehingga mampu meningkatkan umur harapan hidup lansia (Nugroho, 2000 ). Proses menua merupakan proses yang harus terus menerus secara ilmiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup, namun manusia dapat berupaya untuk menghambat kejadiannya. Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan otot. Sususan saraf jaringan lain sehingga tubuh “mati” sedikit demi sedikit.lanjut usia akan selalu bergandengan dengan perubahan-perubahan fisik, mental maupun psiko sosial (Nugroho, 2000). Secara individu proses ketuaan pada lansia menimbulkan berbagai masalah, gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain (Sri Kuntjoro, 2002). Sedangkan keluarga adalah salah satu pendukung perawatan lansia yang mengalami masalah seperti diatas sangat berperan penting.

Dari data awal di yang diperoleh peneliti dari ketua RW 10. Desa Mojoroto Kabupaten Kediri pada bulan Nopember 2006 terdapat sekitar 73 lansia baik laki-laki ataupun perempuan.
Pada umumnya lansia memiliki cara untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang dihadapi. Setiap lansia memiliki cara sendiri-sendiri. Upaya mengatasi masalah yang dihadapi dikenal dengan istilah koping. Koping identifikasi sebagai upaya-upaya yang dilakukan seseorang untuk mengatasi stessor baik dari sisi maupun lingkungannya. Strategi koping (mekanisme koping) akan digunakan secara berbeda-beda dari satu individu dengan individu lainnya dan dari suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya.Tidak sedikit permasalahan yang dihadapi lansia pada daerah tersebut khususnya perubahan-perubahan psikologis pada lansia. Misalnya terjadinya masa pensiun, merasakan akan kematian dan kehilangan hubungan dengan anggota keluarga, teman-teman ataupun kekuatan fisik seperti linu-linu, dan tekanan darah tinggi. Sedangkan peranan keluarga sangat dibutuhkan lansia untuk memberikan dorongan terhadap cara untuk mengatasi segala permasalahan yang sedang dihadapi sehingga lansia dapat mencapai masa tua yang bahagia. Akan tetapi jika motivasi keluarga kurang dalam memberikan perhatian terhadap lansia maka mekanisme koping yang akan dilakukan oleh lansia akan bersifat maladaptif.
Dalam hal ini motivasi keluarga sangat dibutuhkan oleh para lansia dalam penggunaan mekanisme koping yang efektif dari lansia dengan tujuan agar lansia tetap dapat menjalankan kegiatan sehari-hari secara teratur. Motivasi yang bisa dilakukan oleh keluarga terhadap lansia dapat berupa memberikan perhatian dan menjaga hubungan antara keluarga agar selalu dekat.
Dari fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai yang berjudul “Pengaruh motivasi keluarga terhadap mekanisme koping lansia”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis merumuskan masalah pada penelitian ini adalah Pengaruh Motivasi Keluarga Dengan Mekanisme Koping Lansia Di RW 10 Desa Mojoroto Kabupaten Kediri ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh motivasi keluarga dengan mekanisme koping lansia di RW 10 Desa Mojoroto Kabupaten Kediri.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi motivasi keluarga di RW 10 Desa Mojoroto Kabupaten Kediri.
1.3.2.2 Mengidentifikasi mekanisme koping lansia RW 10 Desa Mojoroto Kabupaten Kediri
1.3.2.3 Menganalisa pengaruh motivasi keluarga dengan mekanisme koping lansia.



1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Keluarga
Sebagai sumber informasi baru tentang mekanisme koping yang digunakan oleh lansia ketika menghadapi suatu permasalahan, sehingga keluarga dapat memberikan motivasi atau dukungan secara benar dan tepat kepada lansia.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Sebagai gambaran tentang betapa pentingnya motivasi keluarga dengan mekanisme koping lansia, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupannya untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan.
1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan
Memberikan masukan bagi pengembangan pengetahuan institusi dan mahasiswa keperawatan tentang pengaruh motivasi keluarga terhadap mekanisme koping lansia.
1.4.4 Bagi Penelitian Lebih Lanjut
Sebagai masukan dan informasi awal untuk mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh motivasi keluarga terhadap mekanisme koping lansia.

1.5 Batasan Penelitian
Untuk mengarahkan ruang lingkup penelitian, maka masalah yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut : mengetahui Pengaruh Motivasi Keluarga Dengan Mekanisme Koping Lansia Di RW 10 Desa Mojoroto Kabupaten Kediri.

Link download KTI lengkap ini
03.Pengaruh motivasi keluarga terhadap mekanisme koping lansia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

02.pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan pada anak usia sekolah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang penuh tekanan, utamanya karena perpisahan dengan lingkungan normal. Reaksi anak pada hospitalisasi di dasarkan pada usia perkembangan dan pengalaman sebelumnya. Hospitalisasi anak memiliki efek yang mengganggu pada perkembangan mereka, pada saat penyakit tidak terlalu parah dan masa hospitalisasinya singkat maka pengaruh minimal, tetapi penyakit yang serius dapat menimbulkan pengaruh yang lebih berarti (Potter, Patricia , 2005 ).

Pengetahuan anak tentang hospitalisasi mempengaruhi persepsi dan respon individu terhadap Hospitalisasi. Perasaan mampu menangani stressor dapat mempengaruhi kemampuan dalam menghadapi ancaman stressor tersebut. Hal ini dapat juga mempengaruhi tingkah laku anak seperti protes, Menarik diri, agresi dan dapat menimbulkan perilaku negatif setelah pulang kerumah seperti mimpi buruk, sikap menjauh diri dan sikap tidak mau lepas dari orang tua. Perilaku tersebut merupakan reaksi kecemasan anak terhadap hospitalisas (Potter,Patricia 1995).
Kecemasan Merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah di dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas ( Carpenito, 1995 ).
Kecemasan karena perpisahan , kehilangan kontrol, ketakutan terhadap tubuh yang di sakiti dan nyeri merupakan penyebab utama dari reaksi perilaku anak yang mengalami hospitalisasi. Orang tua yang tetap tinggal dengan anak yang di rawat di rumah sakit pada saat perawatan mereka membuat merasa lebih nyaman. Perawat yang ramah dan informatif dapat memberikan informasi tentang kecemasan terhadap keluarga dan anak. Kepercayaan orang tua terhadap perawat dapat di perkuat dengan usaha perawat untuk mengurangi rasa takut anak dan mengenali sumber takut tersebut ( Potter, Patricia , 2005 ).
Berdasarkan data yang di peroleh dari ruang anggrek RSUD Gambiran pada bulan september sampai november 2006, anak usia sekolah yang di rawat sebanyak 108 anak. Jumlah rata – rata anak usia sekolah perbulan yang di rawat, sebanyak 27 anak. Dari sekian banyak anak usia sekolah yang di rawat, reaksi anak terhadap hospitalisasi berbeda – beda mulai dari kecemasan ringan sampai dengan panik. Menurut kepala ruangan anggrek Reaksi kecemasan tersebut dapat mempengaruhi proses pengobatan sehingga perawat tidak kooperatif dengan prosedur perawatan.
Lama hospitalisasi dapat mempengaruhi tingkat adaptasi anak., Sehingga akan meningkatkan kecemasan. Reaksi kecemasan pada anak bervariasi. Kecemasan saat di hospitalisasi di pengaruhi oleh banyak faktor baik berhubungan langsung maupun tidak langsung. Kecemasan ini dapat berkurang apabila anak merasa nyaman. peningkatan kenyamanan sangat penting pada anak yang di rawat di rumah sakit. Rasa nyaman dan kebersamaan dengan orang tua dapat membantu mengurangi kecemasan yang di alami anak.
Berdasarkan uraian di atas masalah dari penelitian ini adalah adanya kecemasan pada anak yang mengalami hospitalisasi di RSUD Gambiran kediri. Untuk itu peneliti ingin mengetahui sejauh mana pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan anak usia sekolah selama mereka di rawat di ruang anggrek RSUD Gambiran pada tahun 2007
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan pada anak usia sekolah ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan anak usia sekolah.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui tingkat kecemasan pada anak usia sekolah yang di rawat di RSUD Gambiran.
1.3.2.2 Untuk mengetahui lama hospitalisasi pada anak usia sekolah yang di rawat di RSUD gambiran .
1.3.2.3 Untuk mengetahi adakah pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan pada anak usia sekolah yang di rawat di RSUD Gambiran.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
1.4.1.1 Sebagai bahan untuk memperluas pengetahuan tentang pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan anak usia sekolah.
1.4.1.2 Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang di peroleh di bangku kuliah.
1.4.2 Bagi institusi
1.4.2.1 Sebagai referensi program DIII akademi keperawatan PGRI Kediri.
1.4.2.2 Sebagi bahan diskusi terutama di bidang keperawatan.

1.4.3 Bagi anak
Anak Dapat beradaptasi terhadap tingkat kecemasan yang timbul selama perawat di rumah sakit.

1.5 Batasan Penelitian
Untuk mengarahkan ruang lingkup penelitian, masalah yang di teliti dalam penelitian adalah pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan anak usia sekolah di RSUD Gambiran tahun 2007.

Link download KTI lengkap ini
02.pengaruh lama hospitalisasi terhadap tingkat kecemasan pada anak usia sekolah
BAB I-II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

01.PENGARUH KEPEMILIKAN JAMBAN TERHADAP PENYAKIT DIARE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada zaman maju dan semakin canggih ini penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian yang ditimbulkan oleh diare (Depkes RI, 2002).
Di indonesia Depkes RI mencatat pada tahun 1996 kasus diare terjadi sebanyak 86 kali dengan jumlah kasus 4.898 dan kematian 120 orang, pada tahun 2000 terjadi penurunan menjadi 30 kali dengan 920 orang dan kematian 19 orang dan pada tahun 2003 penderita diare berjumlah 300/1000 penduduk (@ Sinar Harapan Cyber Media, 2003). Sedangkan berdasarkan data temuan Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya penderita diare hingga akhir januari 2003 meningkat hingga 8.530 jiwa perbulan, sementara tahun sebelumnya hanya mencapai 32.264 jiwa pertahun dan pada periode januari sampai oktober 2004 Dinkes Jatim mendapatkan fakta bahwa adanya diare pada 3.000 anak (@ 2003, Jatim.go.id).

Masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kuman melalui kontaminasi makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan penderita. Sedangkan faktor-faktor lainnya meliputi faktor penjamu dan faktor lingkungan (Depkes RI, 2002).
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah khususnya Departemen Kesehatan melaksanakan Pengembangan Progam Pemberantasan Penyait Diare (P4D) yang dimulai sejak tahun 1981. Tujuan program tersebut yaitu dalam jangka pendek untuk menurunkan angka kematian karena penyakit diare serta akibat lain dari penyakit diare, khususnya keadaan gizi dari penderita serta menemukan keadaan dini dari timbulnya KLB (Kejadian Luar Biasa), atau wabah dan segera mengadakan kegiatan penanggulanganya. Sedangkan jangka panjang yaitu untuk menurunkan angka kesakitan sehingga penyakit diare tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2002).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH KEPEMILIKAN JAMBAN TERHADAP PENYAKIT DIARE”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang diteliti adalah: Adakah pengaruh kepemilikan jamban terhadap penyakit diare.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisa pengaruh kepemilikan jamban terhadap penyakit diare.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi kepemilikan jamban
1.3.2.2 Mengidentifikasi kejadian penyakit iare.
1.3.2.3 Menganalisa pengaruh kepemilikan jamban terhadap penyakit diare.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Instansi
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan dan mengembangkan sarana sanitasi khususnya jamban, juga dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan mengenai sarana sanitasi khususnya jamban yang memenuhi syarat, dan akibat jamban yang tidak memenuhi syarat.
1.4.3 Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam menerapkan ilmu yang didapat selama kuliah.

Link download KTI lengkap ini
01.PENGARUH KEPEMILIKAN JAMBAN TERHADAP PENYAKIT DIARE
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

22.hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di Indonesia sebagaimana halnya dengan Negara-negara berkembang lainnya, masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan merajalelanya penyakit infeksi. Sebagian besar dari kematian bayi dan anak di negara berkembang adalah akibat dari dua hal tersebut. Akan tetapi banyak ahli kesehatan berpendapat bahwa keadaan gizi yang buruk lebih merupakan penyebab dasar dari tingginya angka kematian bayi dan anak balita di negara berkembang (Moehji, 1988).

Faktor penyebab kasus gizi buruk akhir-akhir ini adalah masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan gizi balita. Disamping itu secara kumulatif berkurangnya konsumsi sehari-hari menyebabkan melemahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi, keadaan ini memperburuk status gizi. Agar kasus gizi buruk tidak bertambah diperlukan upaya agar keluarga mempunyai pemahaman yang baik tentang gizi, mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan kecukupan pangan dan konsumsi gizi. Salah satu indikator keberhasilan dari kegiatan posyandu diantaranya adalah jumlah balita yang ditimbang setiap bulan di posyandu, jumlah balita yang naik berat badannya (Depkes RI, 1998)
Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Hasil pendidikan yang berupa perubahan tingkah laku meliputi bentuk kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor (Tim Dosen FIP-IKIP Malang,1988).
Selanjutnya menurut Binkesmas (1991) pendidikan mempengaruhi seseorang untuk menerima apa yang diberikan. Pendidikan yang rendah mempengaruhi daya serap dalam menerima pengetahuan yang diberikan.Dalam menanamkan pengertian merubah kebiasaan yang dilakukan dalam usaha perbaikan gizi sering kali pula dihambat oleh faktor rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, sebab masyarakat yang pendidikannya rendah masih sulit untuk menerima pengetahuan yang diberikan.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 Maret 2006 didapatkan data berat badan balita yang diukur pada bulan Januari 2006 dari 2 posyandu yang ada di Dukuh Bendungan Landungsari Malang yaitu sebanyak 58 balita. Dari 58 balita didapatkan 8,7% balita dengan status gizi kurang, 81,5% balita dengan status gizi baik dan 9,9% balita dengan status gizi lebih. Dari data yang diperoleh tidak didapatkan balita yang menderita gizi buruk. Selain data tentang balita juga didapatkan data yang lain yaitu tentang tingkat pendidikan ibu-ibu yang berbeda mulai dari lulusan SD sampai dengan lulusan perguruan tinggi, dengan demikian kemungkinan tingkat pengetahuan mereka juga berbeda terbukti dengan masih adanya balita mereka yang menderita gizi kurang dan gizi lebih.
Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Gizi pada Ibu yang mempunyai balita Di Wilayah Kerja Posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang ”
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas peneliti ingin mempelajari “Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita di posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang“

1.3 Hipotesa
H0 = tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita
H1 = ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita di posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan ibu yang mempunyai balita di posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang
2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita di posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang
3. Menganalisa hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita di posyandu Dukuh Bendungan Landungsari Malang
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti dalam hal sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat di hubungkan dengan tingkat pendidikannya sehingga memudahkan dalam pelayanan kebidanan khususnya dalam memberikan konseling tentang gizi pada ibu-ibu yang mempunyai balita
1.5.2 Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi bagi adik-adik mahasiswa yang sedang melaksanakan pendidikan.
1.5.3 Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan sehingga masyarakat mampu mengetahui dan memahami tentang arti penting gizi bagi ibu yang mempunyai balita.

Link download KTI lengkap ini
22.hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang gizi pada ibu yang mempunyai balita
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

21.HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DAN PERILAKU PENCEGAHANNYA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Seiring dengan keberhasilan dalam pembangunan nasional, telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang medis atau ilmu kedokteran sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat (Nugroho, 2000:1). Dengan makin meningkatnya harapan hidup jumlah kelompok usia lanjut akan banyak yang menyebabkan tingginya penyakit degeneratif, salah satunya hipertensi. Hipertensi pada usia lanjut adalah bila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Peningkatan tekanan darah pada usia lanjut yang semula dianggap normal sebagai akibat perubahan fisiologi ternyata meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas serebro kardiovaskuler (Waspadji, 2001: 483).

Lansia mengalami perubahan psikologi yang terjadi bersama dengan semakin bertambahnya usia. Salah satu perubahannya adalah menurunnya daya ingat dan komunikasi (Nugroho, 2000:62). Hal ini berpengaruh terhadap pengetahuan lansia dalam memperoleh informasi tentang kesehatan. Akibatnya profesional pelayanan kesehatan seringkali gagal memberi kesempatan pendidikan kesehatan bagi lansia karena mereka salah mengasumsikan bahwa lansia tidak dapat belajar menjaga diri mereka sendiri (Stanhope dan Lancaster, 1992). Menurut Theis (1991) bahwa lansia mengalami penurunan inteligensi cairan yang meliputi komponen dasar dan proses rasional informasi, tetapi dikompensasi dengan peningkatan inteligensia kristal, kontekstual rasional dan pengetahuan (Potter dan Perry, 2005). Disamping itu perbedaan pembelajaran yang signifikan bagi lansia adalah peningkatan waktu yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan dan mendapatkan kembali informasi dari memori (Ebersole dan Hess, 1990).
Menurut data yang diperoleh dari Puskesmas Kanigaran Prubolinggo tahun 2004 menunjukkan bahwa lansia yang berumur 55 tahun keatas yang menderita hipertensi berjumlah 1204 penderita, tahun 2005 berjumlah 1324 penderita. Sementara data tahun 2006 berjumlah 1014 penderita. Sekarang ini masih banyak perilaku sehari-hari para lansia yang merokok, minum alkohol, karena sudah menjadi kebiasaan sejak lama dan juga pengaruh lingkungan pergaulan, maka upaya pemberantasan merokok dan alkohol sangat sukar (Waspadji, 2001:256). Pola makan yang kurang baik dan tidak seimbang antara protein, karbohidrat dan lemak serta tinggi garam .berkurangnya aktivitas juga sering muncul pada lansia sehingga terjadi obesitas (Waspadji, 2001:257).
Dengan munculnya hal tersebut maka pemecahannya dengan memberikan health education kepada para lansia penderita hipertensi mengenai penyakit yang diderita. Selain itu, menurut Bloom faktor-faktor yang mempengaruhi pola hidup seseorang adalah perilaku, lingkungan dan person. Ketiga faktor tersebut harus saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain (Sunaryo, 2004:3). Sehingga angka kesakitan menurun dan derajat kesehatan dapat ditingkatkan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengetahuan tentang hipertensi pada lansia ?
2. Bagaimana perilaku pencegahan hipertensi pada lansia ?
3. Sejauhmana hubungan antara pengetahuan tentang hipertensi dan perilaku pencegahannya pada lansia ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang hipertensi dan perilaku pencegahannya pada lansia di Puskesmas Kanigaran Probolinggo.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang hipertensi pada lansia
2. Untuk mengidentifikasi perilaku pencegahan hipertensi pada lansia
3. Untuk menganalisa hubungan antara pengetahuan tentang hipertensi dan perilaku pencegahannya pada lansia.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya lansia tentang hipertensi dan pentingnya menjaga tekanan darah agar dalam batas normal.
1.4.2 Bagi Instansi Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi pengelola Puskesmas Kanigaran Probolinggo dalam upaya menurunkan angka kekambuhan hipertensi.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan masukan untuk pengkajian dan penelitian lebih lanjut.
1.4.4 Bagi Peneliti
Hasil penelitian dapat dipakai untuk meningkatkan pengetahuan penulis terutama tentang hubungan tingkat pengetahuan lansia yang menderita hipertensi dan perilaku pencegahannya.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini membahas tentang hubungan antara pengetahuan mengenai penyakit dan perilaku pencegahan lansia yang menderita hipertensi sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan hipertensi pada lansia tidak diteliti.

Link download KTI lengkap ini
21.HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DAN PERILAKU PENCEGAHANNYA
BAB I-III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...