KTI-SKRIPSI

01.perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera ( NKKBS ) yang berorientasi pada “catur warga” atau zero population growth ( pertumbuhan seimbang ).Gerakan Keluarga Berencana Nasional Indonesia telah berumur panjang ( sejak 1970 ) dan masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran dengan bermakna.Masyarakat dapat menerima hampir semua metode medis teknis Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah.

( Manuaba, 1998: 438)
Sejak Pelita V program KB Nasional berubah menjadi Gerakan KB Nasional.Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan NKKBS dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.Hasil sensus 1990 menunjukkan bahwa gerakan KB Nasional telah berhasil merampungkan landasan pembentukan Keluarga Kecil,dalam rangka pelembagaan dan Pembudayaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera ( NKKBS).Langkah besar yang perlu dibangun selanjutnya adalah Pembangunan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.Tujuan Gerakan KB Nasional adalah mewujudkan Keluarga Kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia.
Sasaran Gerakan KB Nasional adalah:( 1) Pasangan Usia Subur,dengan prioritas PUS muda dengan paritas rendah.(2) Generasi muda dan Purna PUS.(3) Pelaksana dan pengelola KB.(4) Sasaran wilayah adalah wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk tinggi dan wilayah khusus seperti sentra industri,pemukiman padat,daerah kumuh,daerah pantai,dan daerah terpencil.
(Wiknjosastro, 2002: 902)
Pencapaian target peserta KB baru dari tahun 1993/1994/ s/d 1997/1998 menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu dari 85,8% menjadi lebih dari 100%.Pola penggunaan alat kontrasepsi akseptor baru pada tahun 1997/1998 yaitu IUD 13,4%, pil 32,3%, kondom 1,2%, operasi 0,0%, suntik 42,4%, Implant 10,1%, obat vaginal 1,0%.( Anonim, 1998 )
Efek samping yang mempengaruhi ibu yang memakai Depo-Provera yaitu perubahan menstruasi untuk beberapa bulan terjadi perdarahan dan bercak yang ireguler dan tidak dapat diduga sampai terjadi amenore pada sebagian besar wanita dan dijumpai pula keluhan mual, pusing, berat badan meningkat.
(Varney, 2001: 35 )
Efek samping yang ditimbulkan oleh alat kontrasepsi pil adalah muntah, pusing, mual, nyeri payudara, berat badan yang bertambah, spotting, amenorea, keputihan, akne. Dari kejadian sehari-hari, efek samping merupakan faktor utama dari penghentian pemakaian pil oral, baik dalam bulan pertama maupun sesudahnya.( Hartanto, 2004: 127 )
Pada bulan oktober 2002 di Jawa Timur kejadian efek samping pemakai alat kontrasepsi 5.595 orang yaitu MOP 14 orang,MOW 88 orang,Implat 768 orang,suntik 3.030 orang,pil 483 orang,kondom 1 orang,Iud 1.211 orang.
(Kasmiyati, 2002 )
Dari hasil Se-kodya Malang pada tahun 2006 jumlah Pasangan Usia Subur sebanyak 451.851 dan yang telah menjadi akseptor KB aktif 96.531 ( 21,36% ),jumlah Pasangan Usia Subur KB baru sebesar 45.411 orang (10,05%) , Peserta KB suntik 51%,pil 28%,implant 11%,MOP/MOW 8%,IUD 2%,kondom 0% .Dari data di Kecamatan Karangploso persentase pemakai KB aktif IUD 24,32%,MOP/MOW 1,63%,Implant 2,03%,suntik 44,08%,pil 26,26%,kondom 0,1%.dan persentase KB baru IUD 6,32%,MOP/MOW 0,54%,implant 5,47%,suntik 85,53%,pil 2,04%,kondom 0,11%.
( Bidang Pelayanan dan PPSM Dinkes Malang ).
Dari data di Dusun Krajan Desa Ngenep jumlah Ibu Usia Subur peserta KB pemerintah 107 orang dan swasta 241 orang dengan pemakai alat kontarsepsi MOW 10 orang, MOP 2 orang, IUD 24 orang, Implant 48 orang, pil 106 orang, suntik 158 orang. Ibu Usia Subur yang pernah melaporkan mengalami efek samping yaitu pada KB suntik 39 orang dan pil 10 orang.
Dari data yang telah diuraikan diatas peneliti ingin meneliti” Perbedaan terjadinya efek samping antara alat kontrasepsi suntik dan pil di Dusun Krajan Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang”


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah“ Bagaimanakah perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil di Dusun Krajan Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang” ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengidentifikasi perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi terjadinya efek samping pada pengguna alat kontrasepsi suntik
1.3.2.2. Mengidentifikasi terjadinya efek samping pada pengguna alat kontrasepsi pil
1.3.2.3. Menganalisa perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi tenaga kesehatan
Sebagai masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan khususnya bidang KB suntik dan pil
1.4.2 Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan dalam memilih kontrasepsi yang sesuai dan dapat mengetahui efek samping serta keuntungan KB suntik dan pil.
1.4.3 Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai dokumentasi dan bahan bacaan serta memberi masukan tentang hal-hal yang melatarbelakangi efek samping pada KB suntik dan pil.
1.4.4 Bagi profesi
Menjadi bahan masukan dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam bidang pelayanan KB.
1.4.5 Bagi peneliti
Sebagai pengalaman yang sangat berarti dalam melakukan penelitian tentang efek samping KB suntik dan pil.

Link download KTI lengkap ini
01.perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

12.pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Merokok merupakan suatu kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok itu sendiri maupun orang-orang di sekitarnya (Soetjiningsih, 2004 : 191). Banyaknya perokok dan produksi rokok yang semakin tinggi menyebabkan semakin luasnya kawasan bebas merokok di masyarakat. Para perokok kurang mengerti bahwa rokok tersebut bisa menimbulkan penyakit karena bahan rokok mengandung ribuan racun yang membahayakan kesehatan. (Dody Hidayat, 2004 : 22).

Jumlah perokok di Indonesia mengalami peningkatan dan cukup memprihatinkan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2001 menyebutkan bahwa tingkat perokok di Indonesia sebayak 31,4 % dan jumlah perokok laki-laki mencapai 59% dan jumlah perokok perempuan mencapai 3,7 % (Dody Hidayat, 2004 : 23). Dr W.L Mendenhall dari Haryard University mengemukakan bahwa rokok menyebabkan iritasi serius pada selaput lendir mulut dan hampir 65 % perokok ditemukan adanya luka di dalam mulut serta diskolorasi pada gigi jika kebiasaan tidak dihentikan (Ernest Caldwell, 2001 : 35-36).
Sebatang rokok mempunyai kandungan nikotin sekitar 20,9 mg bahkan di dalam rokok yang tidak mengandung nikotin pun pada mereknya terdapat sekitar 10,4 mg nikotin. Menurut percobaan yang dilakukan oleh para ahli menemukan bahwa 50 mg nikotin yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darah dapat menimbulkan kematian. Untungnya tidak seluruh nikotin dapat diserap tubuh. Hanya sekitar 2 mg yang ikut masuk dari seluruh kandungan nikotin dari rokok yang dihisap. Dari jumlah sekecil itu memang tidak langsung membuat orang meninggal tetapi sudah merusak sistem pernapasan dan bagian tubuh yang lain seperti pada gigi dan mulut (Ernest Caldwell, 2001 : 9).
Sesungguhnya akibat negatif dari rokok sudah mulai terasa pada waktu orang mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok yang membara karena diisap, tembakau terbakar kurang sempurna sehingga menghasilkan CO, tar, nikotin dan asap sendiri dihirup ke jalan nafas (Farid Indrajaya, 2000) pada perokok berat biasanya timbul mukosa kemerahan di palatum dan terbatas pada daerah yang terpapar uap tembakau rokok. Hal ini lama kelamaan akan berubah menjadi keabu-abuan, menebal, berfisur dan dapat berubah menjadi coklat atau hitam karena deposit tar (Arif Mansjoer, 2000 : 106). Merokok juga menyebabkan penyakit periodontal dan terjadinya karang gigi yang bisa mengeras membentuk calculus (Mervyn G. Hardinge, 2003 : 158). Selain itu merokok dapat menyebabkan plak dan dan lubang (karies pada gigi). (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Pemberdayaan Sumber Daya, 2004).
Kesehatan gigi dan mulut adalah suatu usaha untuk mengurangi penyakit gigi dan mulut yang tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Dengan adanya gigi berlubang dan bau mulut yang tidak sedap membuat orang menjadi rendah diri, kurang percaya diri dan akan menjadi kendala di dalam pergaulan. Berdasarkan pernyataan di atas perlu diketahui bahwa mempunyai mulut dan gigi yang sehat bukan hanya indah di pandang melainkan sangat penting bagi kesehatan. (Ilham Prawira, 2001 : 101), untuk membatasi hal ini maka peran perawat melaksanakan penyuluhan kesehatan gigi dengan menambah pengetahuan; mengubah sikap dan mengarahkan tingkah laku sesuai konsep kesehatan gigi dan mulut (Azrul Azwar, 1993). Untuk itu ada beberapa hal yang harus diketahui oleh perokok dan masyarakat yaitu cara berhenti merokok dan melakukan langkah bijak meninggalkan dunia rokok (Dadang Suhendrik, 2000).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo pada 10 bapak-bapak yang merokok yang telah diwawancarai, didapatkan 70% kondisi gigi dan mulut kurang (bibir hitam dan disertai plak), 20% kondisi gigi danmulut cukup baik dan 10% dalam kondisi baik (bersih, tidak ada plak). Hal inilah yang mendasari diadakannya penelitian untuk mengetahui secara nyata pengaruh merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karangdalem Dringu Probolinggo.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo ?.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mempelajari pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi perilaku merokok pada masyarakat RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
2) Mengidentifikasi kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
3) Mengidentifikasi pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat RW. 01 Dusun Karangdalem Dringu Probolinggo.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Masyarakat
Diharapkan dari hasil penelitian ini masyarakat mendapat informasi tentang merokok dan perawatan gigi dan mulut bagi perokok.
1.4.2 Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut dan juga sebagai tambahan ilmu pengetahuan.
1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber data tambahan bagi peneliti berikutnya dan bahan perbandingan penelitian yang akan datang yang sejenis (tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut pada perokok).

Link download KTI lengkap ini
12.pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut
BAB I-V

Baca Selengkapnya...

11.pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam rahim melalui vagina ke dunia luar (Mansjoer Arif, 1999).
Dalam menghadapi persalinan seorang ibu dapat mempercayakan dirinya pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan ginekologi bahkan seorang dukun untuk pemeriksaan secara teratur melakukan pengawasan hamil sampai pada persalinan (Ida Bagus gde, 1999). Sedangkan yang diperbolehkan menolong persalinan adalah dokter umum, bidan, perawat yang telah mengikuti pelatihan dan petugas obtetri yang mendapat ketranpilan dari orang tuanya secara tradisional (Dukun beranak) serta ahli kebidanan dan kandungan. Tetapi di negara maju masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bersalin baik yang terlatih maupun tidak. Hal tersebut bisa dipengaruhi oleh faktor ekonomi, agama, sosial budaya kadang-kadang juga mempengaruhi pemilihan tenaga penolong saat persalinan (Judi januadi Endjun, 2002). Sehingga Angka Kematian Ibu (AKI) tinggi, menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 angka kematian ibu 390 per 100.000 kelahiran.

Saat ini angka kematian ibu maternal dan bayi seperti halnya negara berkembang khususnya di Indonesia jauh berada di atas angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sebagai gambaran kematian maternal diperkirakan 500.000 per tahun. Di Indonesia kurang lebih 20.300 kejadian kematian maternal di Indonesia kurang lebih 70 kali lebih tinggai dari negara maju seperti USA. Tiga faktor penyebab utama tingginya angka kematian ibu di Indonesia yaitu perdarahan setelah persalinan, ionfeksi, eklamsia (Departemen Kesehatan RI, 1996).
Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah perdarahan dan eklamsia. Kedua sebab itu sebenarnya bisa dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care : ANC) yang memadai. Tetapi karena pemeriksaan tersebut memakai biaya, para ibu hamil merasa enggan untuk mengeluarkan biaya untuk melakukan pemeriksaan ANC. Khususnya wanita yang tinggal di desa, apalagi ibu dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Walaupun proporsi wanita usia 1-49 tahun yang melakukan ANC minimal 1x telah mencapai lebih dari 80%. Tetapi menurut SDKI 1997 masih sangat rendah, dimana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi (GOL dan UNICEF, 2000) (www.detik.com)
Tingkat ekonomi adalah salah satu faktor yang berperan dalam kesehatan dimana dengan alasan tidak mempunyai biaya (penghasilan rendah) masyarakat yang lebih memilih pengobatan tradisional dengan biaya relatif murah. Bagi masyarakat yang mempunyai penghasilan tinggi biaya kesehatan berapapun besarnya sering kali tidak menjadi persoalan, tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat yang tidak mampu (http :// www.balipost.co.id ). Status ekonomi masyarakat dipengaruhi oleh beberapa hal diantara pekerjaan penghasilan dan pendidikan (H. Abu Ahmadi, 1997)
Dari survei dilakukan di desa wates kulon dengan jumlah penduduk 4000 orang yang terdiri dari 600 kepala keluarga didapatkan data 120 KK (20%) termasuk dalam tingkat ekonomi tinggi 210 KK (35%) termasuk dalam tingkat ekonomi sedang, 270 KK (45%) termasuk dalam tingkat ekonomi rendah
Begitu juga yang selama ini terjadi di masyarakat Wates Kulon. Mereka cenderung memilih pertolongan ke dukun saat persalinan daripada ketenaga kesehatan yang disebabkan oleh rendahnya tingkat ekonomi masyarakat. Semua itu dapat dilihat dari masyarakat yang tidak pernah memeriksakan diri ke Puskesmas saat hamil.
Dan berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 10 orang ibu melahirkan di desa Wates Kulon didapatkan 6 orang melahirkan ke dukun karena biayanya lebih murah dan 4 orang melahirkan ke bidan dengan alasan keselamatan lebih terjamin.
Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui lebih lanjut sejauh mana tingkat ekonomi keluarga mempengaruhi pemilihan pertolongan saat persalinan di desa Wates Kulon Kecamatan Ranuyoso Tahun 2005.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yakni, “Adakah pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil di desa Wates Kulon tahun 2005”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mempelajari pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan.

1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat ekonomi keluarga ibu hamil di desa Wates Kulon.
1.3.2.2 Mengidentifikasi pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil di desa Wates Kulon.
1.3.2.3 Mengidentifikasi pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan di desa Wates Kulon.
1.4 Manfaat Peneliti
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai masukan bagi peneliti untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang pengaruh tingkat ekonomi keluarga terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan.
1.4.2 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan tingkat ekonomi dan pemilihan pertolongan saat persalinan.
1.4.3 Bagi Perawat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi perawat tentang pentingnya pelaksanaan asuhan keperawatan dalam pencapaian standart pelayanan.
1.4.4 Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi atau bahan masukan tentang upaya-upaya yang digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan dalam hal pelayanan kesehatan.

Link download KTI lengkap ini
11.pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

10.Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menua (Aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Selama periode pertumbuhan proses anabolisma melampaui proses katabolisma. Pada saat tubuh mencapai tingkat kematangan fisiologik, kecepatan katabolisma atau proses degenerasi lebih besar daripada kecepatan proses regenarasi sel (anabolisma). Akibat yang timbul adalah hilangnya sel-sel yang berdampak dalam bentuk penurunan efisiensi dan gangguan fungsi organ. Dengan demikian menua ditandai dengan kehilangan secara progresif lean body mass (jaringan aktif tubuh) dan perubahan-perubahan disemua sistem didalam tubuh manusia (R. Boedi Darmojo dan Hadi Martono, 2000).

Pertambahan usia akan menimbulkan beberapa perubahan, baik secara fisik maupun mental. Perubahan ini akan mempengaruhi kondisi seseorang dari aspek psikologis, fisiologis dan sosioekonomi. Lebih lanjut perubahan-perubahan tersebut akan mengakibatkan terjadinya kemunduran biologis. Kemunduran ini, tentunya akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi beberapa organ tubuh. Salah satu fungsi penting organ tubuh yang berperan dalam mempertahankan dan menciptakan kesehatan yang prima adalah fungsi organ yang berkaitan dengan makanan dan pencernaannya (Emmas Wirakusumah, 2004).
Peningkatan jumlah dan proporsi usia lanjut dari tahun ke tahun merupakan fenomena demografi global dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia per Propinsi tahun 1995 – 2005 dari biro pusat statistik setidaknya terdapat 6 Propinsi yang pada tahun 2000 telah memiliki penduduk berstruktur tua (Aging Population) yaitu Propinsi D.I. Yogyakarta (13,72 %), Jawa Timur (10,54 %), Bali (9,79 %), Jawa Tengah (9,55 %), Sulawesi Selatan (7,63 %) dan Sumatera Barat (9,035 %) (RAN Kesejahteraan Lansia, 2000).
Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami baik gizi lebih maupun kekurangan gizi. Boedi Darmojo (1995) melaporkan bahwa lansia di Indonesia yang dalam keadaan kurang gizi ada 3,4 %, berat badan kurang sebesar 28,3 %, berat badan ideal berjumlah 42,4 %, berat badan lebih ada 6,7 % dan obesitas sebanyak 3,4 %. Temuan proporsi lansia yang kurang gizi di Indonesia pada tahun 1994 tersebut tidak banyak berbeda dengan temuan di Inggris tahun 1972 dan 1979 yakni sebesar 3 %. Setelah di follow up ternyata lansia di Inggris yang menjadi kurang gizi meningkat 2 kali lipat, lima tahun kemudian (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar 25,70 % diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut akan menurun menjadi 12,30 % (Depkes RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992) (Wahjudi Nugroho, 2000).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 lansia di Posyandu lansia Kelurahan Kepuharjo didapatkan lansia dengan berat badan kurang 30 %, berat badan ideal 50 %, 20 % dengan berat badan lebih dan 70 % mengalami masalah kesehatan fisik antara lain adanya gangguan sirkulasi darah, gangguan persendian dan tulang, gangguan metabolisme hormon dan sebagainya.
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat dan penyebabnya oleh berbagai faktor yang terkait satu dengan yang lainnya (I Dewa Nyoman S, Bachyar Bucri dan Ibnu Fajar, 2002). Perubahan status gizi pada lansia disebabkan oleh perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkungan antara lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan status gizi antara lain naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorpsi dan utilisasi zat-zat gizi ditingkat jaringan dan pada beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminum para lansia oleh karena penyakit (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Adapun penyakit yang sering dijumpai pada lansia menurut Stieglitz (1945) yakni gangguan sirkulasi darah seperti hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah diotak (koroner) dan ginjal, gangguan metabolisme hormonal, seperti diabetes militus, klimaterium dan ketidakseimbangan tiroid, gangguan pada persendian seperti osteoartitis, gout artritis ataupun penyakit kolagen lainnya dan berbagai macam penyakit neoplasma (Wahjudi Nugroho, 2000).
Gangguan gizi pada lansia dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagai akibat adanya penyakit tertentu. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi, mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencanakan bagaimana gangguan gizi tersebut dapat diperbaiki (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui tentang pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Adakah Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005 ?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.2 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.3 Mengidentifikasi status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.4 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.5 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
1.4.1 Bagi Peneliti
Mengaplikasikan teori ke paparan yang nyata dalam penelitian.
1.4.2 Bagi Lansia
Diharapkan mampu menjaga kesehatan fisik dengan baik sehingga dapat mencapai status gizi yang seimbang.
1.4.3 Bagi Puskemas
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam menentukan suatu program yang mengarah pada peningkatan status gizi dan kesehatan fisik pada lansia.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi status gizi pada lansia.

Link download KTI lengkap ini
10.Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

08.Pengaruh Pemaparan Faktor Kimia Lingkungan Kerja Terhadap Keluhan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Pengrajin Manik-Manik

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan kehidupan serta budaya manusia yang cenderung ke arah ultra modern, maka resiko penyakit akibat kerja akan meningkat pula. Hal terutama dirasakan pada modernisasi yang menggunakan berbagai bahan kimia beracun. (Dainur, 1995 : 84)
Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja. Dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. (Pusat Kesehatan Kerja. www.depkes.go.id : 2005)

Suatu pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi, yang berakibat beban tambahan pada jasmani dan rohani tenaga kerja. Faktor penyebab beban tambahan lingkungan kerja yang dimaksud adalah faktor fisik, kimia, biologi, fisiologis dan mental psikologis. Dimana faktor kimia terdiri dari gas, uap, debu, kabut, asap, cairan dan benda padat dari bahan-bahan kimia. Faktor-faktor tersebut dalam jumlah yang cukup dapat mengganggu daya kerja seorang tenaga kerja. (Suma’mur, 1995 : 49 )
Sebagai misal sederhana, bahan kimia organik acrylonitrile yang bersifat cairan dipakai dalam pembuatan karet sintetis resin dan serat akrilik mempunyai efek kesehatan yaitu apabila akut uapnya merupakan iritan mata yang kuat dan perangsang kulit. Nyeri kepala, bersin, kelemahan, pusing kepala sampai menyebabkan asfiksia dan kematian. Dan apabila kronik acrylonitrile bersifat karsinogenik. ( J.M. Harrington dan F. S. Gill. 2003 : 129 )
Saluran nafas atas dan bawah sangat rawan terhadap bahan berbahaya ditempat kerja. Lebih dari 80 % bahan ini masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan. Misalnya asma akibat kerja yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis debu. Apabila debu-debu tersebut dihirup akan sampai ke paru, sehingga mengurangi penggunaan optimal organ-organ sistem pernafasan untuk mengambil oksigen dari udara bebas. Efek pemajanan seperti itu juga dapat dirasakan pada sistem organ lainnya, tetapi kerusakannya seringkali terletak pada saluran udara dan paru.(JM. Harrington dan F. S. Gill. 2003 : 85 )
Gangguan fungsi pernafasan umumnya dihubungkan dengan penurunan fungsi saluran pernafasan dan paru. Keluhan secara subyektif biasanya dengan mengamati adanya gejala yang dominan yaitu batuk dan sesak napas. Sulit untuk menentukan secara kuantitatif dari gejala utama akibat gangguan pernafasan karena tidak ada baku emas yang jelas dan obyektif sampai saat ini (Trihastuti, 2002 : 81).
Gangguan-gangguan pada kesehatan dan daya kerja akibat berbagai faktor dalam pekerjaan bisa dihindarkan, asal saja ada kemauan baik dari pekerja untuk mencegahnya. Cara-cara mencegah gangguan-gangguan tersebut adalah dengan cara subtitusi, ventilasi umum, ventilasi keluar setempat, isolasi, pakaian/alat pelindung, pemeriksaan sebelum bekerja, pemeriksaan kesehatan secara berkala, penerangan sebelum bekerja dan pendidikan tentang kesehatan. ( Effendy, Nasrul, 1998 : 131 )
Dari hasil studi pendahuluan selama bulan mei 2005 di dapatkan data bahwa bahan utama kerajinan manik-manik di desa Tutul kecamatan Balung antara lain : yang berasal dari bahan kimia resin mengandung bahan kimia acrylonitrile dan sebagai bahan pengeras yaitu Methyl ethyl keton perokxide yang dapat menghasilkan debu dari proses penggerindaan dalam pembuatannya. Dari 10 pengrajin manik-manik dari bahan kimia, 4 diantaranya mengeluhkan sesak jika bau yang menyengat terhirup dan batuk jika debu masuk ke hidung dan mulut. Sedangkan pada pengrajin yang berasal dari bahan non kimia (tulang dan kayu), dari 10 pengrajin 2 diantaranya mengeluhkan sering batuk waktu bekerja.Berdasarkan data dari puskesmas Balung Kabupaten Jember mengenai angka kejadian Ispa selama tahun 2005 adalah sebanyak 1315 orang atau 32 % dari sejumlah jenis penyakit terbanyak dan menempati urutan pertama sebelum penyakit golongan gastroenterologi.
Dari penjelasan di atas telah disebutkan bahwa bahan kimia yang berupa gas, uap, debu, asap, cairan dan benda padat dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan yang mengakibatkan bronkospasme saluran pernafasan sehingga timbul batuk dan sesak nafas sebagai keluhan utama pada kelainan saluran pernafasan. (Stein, Jay. H, 1998 : 115 ).
Dari pernyataan diatas peneliti menjadi tertarik untuk meneliti “Pengaruh Pemaparan Faktor Kimia Lingkungan Kerja Terhadap Keluhan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Pengrajin Manik-Manik di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember Tahun 2006”.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
“Adakah Pengaruh Pemaparan Faktor Kimia Lingkungan Kerja Terhadap Keluhan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Pengrajin Manik-Manik di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember Tahun 2006”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana Pengaruh Pemaparan Faktor Kimia Lingkungan Kerja Terhadap Keluhan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Pengrajin Manik-Manik di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember Tahun 2006.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pemaparan faktor kimia lingkungan kerja pada pengrajin manik-manik
2. Mengidentifikasi keluhan gangguan sistem pernafasan pada pengrajin manik-manik
3. Menganalisa pengaruh pemaparan faktor kimia lingkungan kerja terhadap keluhan gangguan sistem pernafasan pada pengrajin manik-manik di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat memberikan masukan tentang sejauh mana pengaruh faktor kimia lingkungan kerja terhadap keluhan gangguan sistem pernafasan pada pengrajin manik manik
1.4.2 Bagi Instansi (Puskesmas)
Sebagai masukan untuk instansi terkait dalam rangka menentukan strategi untuk mengoptimalkan produktivitas kerja pengrajin manik manik di wilayah kerjanya.
1.4.3 Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data pertimbangan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kesehatan kerja dan produktivitas kerja pada pengrajin yang memakai bahan kimia sebagai bahan baku kerajinannya.

Link download KTI lengkap ini
08.Pengaruh Pemaparan Faktor Kimia Lingkungan Kerja Terhadap Keluhan Gangguan Sistem Pernafasan Pada Pengrajin Manik-Manik
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

07.pengaruh penerapan terapi bermain terhadap penurunan School Phobia pada pra sekolah anak usia 4–6 tahun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bermain merupakan dunia anak-anak karena bermain adalah salah satu kegiatan yang sangat disukai anak, bahkan orang dewasa pun menyenangi beberapa permainan. Melalui permainan anak akan mengenal sekaligus belajar berbagai hal tentang kehidupannya serta dapat melatih keberanian dan menumbuhkan kepercayaan diri. Melalui permainan, anak dapat mengekspresikan diri untuk memperoleh kompensasi atas hal-hal yang tidak mungkin dialaminya.
Permainan mempunyai peranan penting dalam pembinaan kepribadian anak serta membantu pertumbuhan dan perkembangan. Pada umumnya bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral, dan emosional anak. Permainan dapat dikatakan bersifat universal karena hidup pada semua masyarakat di dunia. Permainan adalah bagian mutlak dari kehidupan anak. Melalui permainan tidak hanya jasmani anak yang berkembang, tetapi juga kognisi, emosi, sosial, fisik, dan bahasa.(Ardhana, 2008)

Bermain dari segi pendidikan adalah permainan yang memberi peluang kepada anak, berswakarsa, untuk melakukan dan menciptakan sesuatu dari permainan itu sendiri. Belajar pada masa awal pendidikan formal didapatkan di TK atau Taman Kanak-kanak. TK adalah tempat anak belajar dan berkembang lewat permainan. Di TK anak diajarkan mengenal aturan, disiplin, tanggung jawab dan kemandirian dengan cara bermain di TK anak juga belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan
Hari pertama mengantar anak balita masuk Taman Kanak-kanak (TK) merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi orang tua. Namun kebahagian itu tidak berlangsung lama anak tiba-tiba tidak mau masuk sekolah dengan berbagai alasan. Pada awal masuk TK, berarti anak harus memasuki “keadaan baru”, dimana lingkungan teman dan kegiatan yang harus mereka ikuti berbeda dengan yang di rumah. Bagi anak, hal tersebut dapat menimbulkan stress, kecemasan, sehingga anak menghindar bahkan menolak untuk sekolah. Hal tersebut dikenal dengan school phobia. (Darsono, 2007)
Menurut Endah, faktor genetik dapat mempengaruhi anak menolak sekolah. Genetik berpengaruh terhadap sifat, kepribadian dan karakter anak. Biasanya anak yang menolak pergi ke sekolah cenderung memiliki sifat mudah cemas, pemalu, takut dan was-was. Sebagian besar sifat tersebut diturunkan orangtua kepada anak. Selain genetik, penolakan sekolah juga diakibatkan pola asuh yang tak benar, misalnya pola asuh yang otoriter. Dengan pola ini, kreativitas anak akan terpasung dan perkembangan fisik mentalnya pun terhambat. “Pola asuh otoriter juga membuat anak tak aktif dan cenderung pendiam. Jika pola ini terus diterapkan menurut Endah secara otomatis mempengaruhi kondisi sosial anak, di sekolah misalnya, lingkungan sekolah biasanya menuntut anak bergaul dan bekerjasama dengan teman-temannya serta dituntut kreativitas yang tinggi. (Arjana, 2006)
Berapa lama waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung pada penanganan yang dilakukan oleh orangtua. Makin lama anak dibiarkan tidak masuk sekolah (tidak mendapat penanganan apapun), makin lama problem itu akan selesai dan makin sering keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1-2 minggu. (Bali Post, 2002)
School Phobia terjadi pada 5% dari anak usia pra sekolah dan terjadi pada 2% dari anak usia sekolah. Di Amerika kejadian school phobia terjadi ± 28% pada anak usia sekolah beberapa waktu selama pendidikan mereka. School phobia ini terjadi pada anak laki-laki maupun anak perempuan, tetapi hal ini lebih sering terjadi pada anak perempuan dari pada anak laki-laki. (Paige, 1998).
Pada studi pendahuluan, didapatkan data bahwa di TK Dharmawanita Desa Ngenep Kecamatan Karang ploso Kabupaten Malang, pada tahun 2005 school phobia > 2 minggu terdapat 7 anak diantara 31 murid baru. Tahun 2006 murid baru 30, yang school phobia 6 anak. Pada tahun ajaran 2007 murid baru 34 anak yang school phobia 10 orang, pada tahun 2008 murid baru 32 anak yang school phobia adalah sebanyak 10 orang. Gejala school phobia pada 10 anak ini di identifikasi dengan melakukan wawancara secara lisan dengan para guru dan orang tua murid. Di TK Dharmawanita sudah diterapkan permainan mewarnai, puzzle, dan menyusun balok tetapi permainan puzzle dan menyusun balok jarang diberikan karena keterbatasan alat permainan tersebut.
Dari fenomena di atas, penulis ingin mengetahui sejauh mana pengaruh penerapan terapi bermain terhadap penurunan school phobia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan penelitian yang dirumuskan adalah “Adakah pengaruh penerapan terapi bermain terhadap penurunan School Phobia pada pra sekolah anak usia 4–6 tahun di TK Dharmawanita Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang?”

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan terapi bermain terhadap penurunan school phobia pada anak pra sekolah usia 4-6 tahun di TK Dharmawanita Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi gejala school phobia pada anak sebelum diterapkan terapi bermain.
2. Mengidentifikasi gejala school phobia pada anak setelah diterapkan terapi bermain.
3. Menganalisa pengaruh penerapan penerapan terapi bermain terhadap penurunan school phobia.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai penerapan teori, pengalaman proses belajar serta menambah wawasan pengetahuan khususnya di bidang penelitian.
1.4.2 Bagi Pendidikan
Bagi TK Dharmawanita Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Malang. Merupakan suatu masukan dalam penanganan school phobia pada anak, khususnya murid baru.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Memperkaya penulisan karya ilmiah dan juga sebagai masukan institusi untuk perkembangan ilmu pengetahuan terutama untuk meningkatkan mutu di bidang pendidikan.
1.4.4 Bagi peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya, sebagai informasi awal dalam penelitian lebih lanjut tentang kebutuhan bermain pada anak school phobia di Taman Kanak-kanak.

Link download KTI lengkap ini
07.pengaruh penerapan terapi bermain terhadap penurunan School Phobia pada pra sekolah anak usia 4–6 tahun
BAB I-V

Baca Selengkapnya...

06.PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA HIPERTENSI TERHADAP DIIT HIPERTENSI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit hipertensi sebagian besar diderita oleh lansia dan digolongkan sebagai penyakit degeneratif, tetapi dapat pula dialami oleh orang yang belum lansia (usia anak, remaja atau dewasa). Tekanan darah tinggi atau Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg (Mansjoer, 1999). Penderita hipertensi dari tahun ketahun cenderung meningkat, karena banyak faktor yang menyebabkan penyakit hipertensi misal gaya hidup tidak sehat, lingkungan pendidikan, pengalaman bisa juga masyarakat kurang informasi tentang diet pada penyakit hipertensi. Maka dari itu tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang diet penyakit hipertensi sangat diperlukan karena dapat mempengaruhi status kesehatannya. Namun kadang-kadang seseorang tidak mengetahui dirinya menderita tekanan darah tinggi sehingga gaya hidup dan pola makannya sembarangan.
Sementara itu sampai saat ini belum terdapat penyelidikan yang bersifat nasional, penderita tentang hipertensi di Indonesia yang dapat menggambarkan prevalensi hipertensi secara tepat. Pada umumnya prevalensi berkisar antara 1,8 – 28.6 % penduduk yang berusia diatas 20 tahun sebagi perbandingan di Amerika 15 % golongan kulit putih dewasa dan 25 – 30 % kulit hitam adalah hipertensi (Tjokronegoro, 2001).

Penderita hipertensi di Puskesmas Mrican pada bulan Agustus sebanyak 41 orang.
Hipertensi merupakan penyakit yang membahayakan karena dapat merusak system saraf (otak) dengan pecahnya pembuluh darah di otak. Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan dan mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun – tahun. Tingginya tekanan darah yang lama tentu saja akan merusak pembuluh darah diseluruh tubuh yang paling jelas pada mata, jantung, ginjal, dan otak. Maka dampak yang biasa pada hipertensi yang lama tidak terkontrol adalah gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal dan stroke. Selain itu jantung membesar karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat pemompa melawan tingginya tekanan darah. (Stuart and Sundeen, 2001). Para pakar sendiri sering mengingatkan, penyakit jantung antara lain diperoleh akibat konsumsi lemak jenuh berlebihan dan kolesterol dari makanan hewani. Sedangkan serat dalam makanan nabati justru menurunkan kadar kolesterol darah, mengendalikan kadar gula darah dan sekaligus menurunkan berat badan. Kurangnya pengetahuan tentang diet dan keseimbangan zat-zat makanan yang perlu diserap oleh tubuh, bisa berakibat rusak. (www. Vegetarian.2000. 12. 15, Jum’at).
Salah satu upaya yang mempunyai peran utama adalah pengendalian lipida dan tekanan darah melalui edukasi tentang gaya hidup sehat, konsumsi gizi seimbang serta memelihara berat badan ideal, hidup aktif berolah raga serta tidak merokok. Upaya kuratif yang mahal seperti perawatan intensif, tidak besar peranannya terhadap penurunan moralitas dalam populasi, hindari hidup stress dan tidur yang cukup (library.php.id.co.id: 2000).
Dari fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian tentang Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Diet Hipertensi pada Penderita Hipertensi.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dianalisa pada penelitian ini adalah adakah pengaruh tingkat pengetahuan terhadap diet hipertensi pada penderita hipertensi.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum.
Menjelaskan pengaruh tingkat pengetahuan penderita hipertensi terhadap diet hipertensi.
1.3.2 Tujuan Khusus.
1.3.2.1 Mengidentifikasi pengaruh tingkat pengetahuan penderita terhadap penyakit hipertensi.
1.3.2.2 Mengidentifikasi pengaruh tingkat pengetahuan penderita terhadap diet hipertensi.
1.3.2.3 Menganalisa pengaruh tingkat pengetahuan terhadap diet hipertensi pada penderita hipertensi.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti.
Sebagai sarana untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama kuliah dan menambah pengalaman penelitian dalam melakukan penelitian dan sebagai syarat menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan.
Sebagai pengembangan ilmu yang telah ada dan dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk kegiatan penelitian selanjutnya
1.4.3 Bagi Keluarga dan Masyarakat
Hasil ini diharapkan akan berguna untuk meningkatkan pengetahuan keluarga terhadap penyakit hipertensi sehingga timbul kesadaran setiap keluarga untuk mencegah penyakit hipertensi dan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya dapat ditingkatkan.
1.4.4 Bagi Instasi Kesehatan.
Hasil penelitian diharapkan berguna sebagai masukan di tempat pelayanan kesehatan dan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
1.4.5 Bagi Pemerintah.
Sebagai masukan untuk meningkatkan kesejahteraan yang lebih baik lagi bagi masyarakat melalui program – program yang telah ada.

1.5 Batasan Penelitian
Untuk mengarah ruang lingkup penelitian maka masalah yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1.5.1 Pengaruh tingkat pengetahuan penderita hipertensi terhadap diet hipertensi.
1.5.2 Klien rawat jalan di Puskesmas Mrican Kediri.

Link download KTI lengkap ini
06.PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA HIPERTENSI TERHADAP DIIT HIPERTENSI
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...