BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 2000 pemerintah merancangkan Making Pregnancy Safer (MPS) yang merupakan strtegi sektor kesehatan secara terfokus pada pendekatan dan perencanaan yang sistematis dan terpadu. Salah satu strategi making pregnancy safer (MPS) adalah mendorong pemberdayaan perempuan dan keluarga. Output yang diharapkan dari strategi tersebut adalah menetapkan keterlibatan suami dalam mempromosikan kesehatan ibu dan meningkatkan peran aktif keluarga dalam kehamilan dan persalinan (Depkes RI, 2001, ¶ 3)
Kelahiran bayi merupakan suatu peristiwa penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan karena membuat ibu menjadi seorang perempuan yang telah berfungsi utuh dalam kehidupannya. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh beberapa wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran baru sebagai ibu pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan baik segi fisik maupun psikologis (Fatimah, 2009, ¶ 1).
Dibutuhkan partisipasi suami menghadapi istri dari mulai kehamilan sampai
persalinan antara lain: 1) memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri 2)
mendorong dan mengantar istri untuk memeriksakan kehamilan kesehatan terdekat
minimal 4 kali selama kehamilan 3) memenuhi gizi bagi istri agar tidak terjadi
kekurangan gizi (BKKBN, 2000. ¶ 4)
Selama tahun 1970-an, berbagai organisasi wanita mulai menyampaikan agar
pria diperbolehkan menemani pasangannya selama persalinan. kebutuhan akan
dukungan bagi calon ibu selama persalinan terjadi bersamaan kebutuhan para pria untuk
mengambil bagian lebih besar didalam kehidupan keluarga. berkembangnya peran baru
pria sebagai anggota aktif didalam kehidupan keluarga, dan bukan sekedar pencari
nafkah, telah diperluas dengan perannya didalam membantu kelahiran anak-anaknya.
Tidaklah mudah untuk mengubah system rumah sakit yang tadinya melarang pria
memasuki ruang bersalin. Namun kampanye tersebut ternyata sangat berhasil sampai
sekarang, Malahan sekarang ini banyak sekali penekanan pada suami untuk mendukung
pasangannya selama persalinan sehingga suami dapat menjalankan peran ini (Nolan,
2004, hal. 145).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr.Robert Mccall yang dimuat dalam
majalah better parenting 1994, sekitar 11-65 % suami mengalami gejala-gejala yang
mirip seperti yang dialami oleh ibu hamil, misalnya: kram pada kaki , mual-mual, dan
mengidam atau disebut juga couvades. Sebenarnya, semua gejala itu bersumber dari
perasaan cemas dan kadang kala juga perasaan takut yang dialami suami. (Musbikin,
2006, hal. 254).
Kecemasan suami menghadapi persalinan disebabkan oleh beberapa faktor: 1)
kecemasan akan kesehatan istri dan bayi, 2) harapan jenis kelamin 3) kecemasan akan
kebutuhan finansial yang semakin bertambah 4) kecemasan akan anak yang lahir cacat. (Murkoff, 2006, hal. 580).
Banyak suami melakukan melakukan berbagai hal untuk dapat melupakan kecemasannya, mereka dapat melupakan kekhawatirannya jika persalinan berjalan normal dan membantu mereka menghadapi nyeri yang sedang dialami pasangannya. perasaan bersalah karena mereka menganggap dirinya sebagai penyebab penderitaan istrinya sering muncul di benak calon ayah. (Nolan, 2004, hal. 151).
Berdasarkan data diatas maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor kecemasan dengan tingkat kecemasan suami menghadapi istri yang bersalin spontan.
B. Perumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat
dirumuskan adalah ”Bagaimana Hubungan Faktor-faktor Kecemasan dengan Tingkat
Kecemasan Suami Menghadapi Istri yang Bersalin Spontan di Klinik Hadijah Medan
Tahun 2011”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui ”hubungan faktor-faktor penyebab kecemasan dengan tingkat kecemasan suami menghadapi istri yang bersalin spontan di klinik hadijah tahun 2011”.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui karakteristik responden kecemasan suami menghadapi istri yang bersalin spontan.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab dengan tingkat kecemasan suami menghadapi istri yang bersalin spontan
c. Untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor penyebab dengan tingkat kecemasan suami menghadapi istri yang bersalin spontan.
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Suami
Sebagai sumber informasi untuk menambah pengetahuan tentang persalinan.
b. Bagi Peniliti
Sebagai sumber pengetahuan bagi peneliti yang akan datang dan dapat menjadi acuan dalam penelitian selanjutnya.
c. Bagi klinik
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi klinik dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada pasangan suami istri khususnya suami dimana istrinya akan menghadapi proses persalinan.
Link download KTI lengkap ini
36. Hubungan Faktor-faktor Penyebab Kecemasan dengan Tingkat Kecemasan Suami Mengahadapi Istri yang Bersalin Spontan
BAB I
BAB II
BAB III-VI
Free Download KTI - Karya Tulis Ilmiah - Skripsi - Thesis - Desertasi - Artikel Update Setiap Hari. Analysis With SPSS PDF, Health Article, Education Article
36. Hubungan Faktor-faktor Penyebab Kecemasan dengan Tingkat Kecemasan Suami Mengahadapi Istri yang Bersalin Spontan
35. Hubungan Evaluasi Asuhan Kebidanan terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa D-IV Bidan Pendidik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut UU No.20 tahun 2004, pendidikan merupakan suatu usaha yang
dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pendidikan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang berguna bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga yang demokrasi serta bertanggungjawab (Ahmad, 2004).
Pendidikan merupakan upaya manusia untuk memperluas cakrawala
pengetahuannya dalam rangka membentuk nilai, sikap, dan perilaku. Sebagai
upaya yang bukan saja membuahkan manfaat yang besar, pendidikan juga
merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang sering dirasakan belum
memenihi harapan.
Proses belajar mengajar merupakan upaya pendidikan formal yang paling
menonjol dibandingkan upaya pendidikan lainnya atau dapat dikatakan proses
belajar mengajar merupakan inti kegiatan yang dapat menjadi tolak ukur
keberhasilan suatu upaya pendidikan. Unsur yang paling penting dalam kegiatan
proses belajar mengajar yang sangat berhubungan satu dengan yang lain bahkan
yang tidak dapat dipisahkan adalah dosen, anak didik, bahan ajar, interaksi dan
evaluasi. Evaluasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran, ini berarti kedudukan evaluasi dalam proses pendidikan bersifat integratif, artinya setiap ada proses pendidikan pasti ada evaluasi (Sabri, 2005).
Evaluasi harus mampu menjawab semua informasi tentang tingkat percapaian tujuan yang telah ditentukan. Namun pada kenyataannya masalah tersebut menjadi kendala yang dihadapi dosen dalam penilaian mutu pendidikan di sekolah dimana sebagian dosen belum mengetahui bagaimana prosedur evaluasi, tidak melakukan prinsip evaluasi secara efektif dan efisien, kurang menguasai teknik-teknik evaluasi dan tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai feed back (umpan balik) (Daryanto, 2005).
Dengan evaluasi yang dapat berupa penilaian dapat diketahui apakah proses belajar mengajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Penilaian juga dapat berfungsi salah satu pembangkit motivasi peserta didik, baik untuk mempertahankan atau meningkatkan prestasi belajar mereka. Nilai yang bagus akan memberikan motivasi kepada peserta didik untuk belajar, apabila nilai yang diperoleh peserta didik lebih tinggi daripada peserta lainnya maka peserata didik tersebut cenderung untuk mempertahankannya (Syaiful, 2005).
Salah satu yang menjadi tolok ukur keberhasilan belajar adalah motivasi,
diduga munculnya motivasi belajar yang baik akan melahirkan hasil belajar yang
baik pula. Persoalan yang dihadapkan kepada pendidik adalah bagaimana
memotivasi anak didik sehingga mampu memperoleh kepuasaan terhadap hasil
belajar yang dicapai. Motivasi adalah proses psikologi yang terjadi pada diri
seseorang akibat adanya interaksi antara sikap, kebutuhan, keputusan dan persepsi
seseorang dengan lingkungannya. Pandangan lain dikemukakan oleh Morgan, bahwa motivasi diartikan sebagai pendorong atau penggerak yang berasal dari dalam diri individu untuk bertindak karah tujuan tertentu (Uno, 2007).
Program D-IV Bidan Pendidik merupakan salah satu program studi yang ada
di Universitas Sumatera Utara, Asuhan Kebidanan merupakan salah satu mata
kuliah yang diajarkan pada mahasiswa program D-IV Bidan Pendidik di semester
1 dengan beban studi 2 sks, diharapkan setelah menyelesaikan mata kuliah ini
mahasiswa akan dapat menerapkan prinsip asuhan kebidanan ibu antenatal,
intranatal, postnatal, emergensi kebidanan, asuhan kebidanan, asuhan kebidanan
ibu dengan HIV dalam kehamilan sesuai dengan standar dan berdasarkan evidence
based.
Dari pendataan diperoleh nilai asuhan kebidanan selama 3 tahun terakhir,
dari nilai yang telah didapatkan terlihat adanya dinamika fluktuasi nilai asuhan
kebidanan dalam 3 tahun ini. Nilai asuhan kebidanan pada tahun 2005-2006
dalam kategori kurang baik sebanyak 28 orang (56%), pada tahun 2006-2007
dalam kategori yang sama meningkat sebanyak 37 orang (77,08%), sedangkan
pada tahun 2007-2008 kembali menurun menjadi 23 orang (30,27%).
Dinamika fluktuasi nilai asuhan kebidanan tersebut dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tahun Ajaran Kurang Baik (0-2,50) Baik (3,00-3,50) Istimewa (4,00)
2005-2006 28 orang (56%) 20 orang (40%) 2 orang (4%)
2006-2007 37 orang (77,08%) 10 orang (20,88%) 1 orang (2,02%)
2007-2008 23 orang (30,02%) 44 orang (57,89%) 9 orang (11,68%)
Sumber : Bidang evaluasi D-IV Bidan Pendidik FK USU
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian tentang hubungan Evaluasi Belajar Asuhan Kebidanan terhadap
Motivasi Belajar mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Tahun
2007
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pertanyaan penelitian ini adalah Apakah ada Hubungan Evaluasi Belajar asuhan kebidanan Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2007
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada hubungan evaluasi belajar asuhan kebidanan terhadap motivasi belajar mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2007
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan evaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya hasrat dan keinginan berhasil mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
2. Untuk mengetahui hubungan evaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya dorongan dan ebutuhan belajar mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
3. Untuk mengetahui hubungan evaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya harapan dan cita-cita masa depan mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
4. Untuk mengetahui hubungan evaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya pengahargaan dalam belajar mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
5. Untuk mengetahui hubungan avaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya kegiatan yang menarik dalam belajar mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
6. Untuk mengatahui hubungan evaluasi asuhan kebidanan terhadap adanya lingkungan belajar yang kondusif mahasiswa D-IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Prodi D-IV Bidan Pendidik
Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan ilmiah guna
pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dalam pendidikan, dan
sebagai masukan dalam perbaikan pelaksanaan evaluasi kearah yang lebih
baik
2. Bagi peneliti
Penelitian ini memberikan perluasan kajian bidang penelitian berupa
tindakan kelas, penelitian ini juga bermanfaat bagi peningkatan ilmu
pengetahuan dibidang metode penelitian, juga menambah wawasan dan
pengetahuan peneliti dibidang evaluasi dan motivasi belajar
3. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan referensi awal bagi peneliti berikutnya yang memerlukan kajian lebih lanjut.
Link download KTI lengkap ini
35. Hubungan Evaluasi Asuhan Kebidanan terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa D-IV Bidan Pendidik
BAB I
BAB II
BAB III-VI
34. Hubungan Etika Profesi Kebidanan Terhadap Pemberian Pelayanan Maternal Dan Neonatal Pada BPS
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisasi Bidan telah mengembangkan “kode etik profesi” sebagai pedoman. Salah satu contohnya adalah kode etik bidan internasional (The International Confederation of Midwives Code of Ethics) (PUSDIKNAKES, 2003). Sedangkan menurut Jones (1994), etika merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk (Wahyuningsih, 2006).
Untuk dapat menjalankan praktek kebidanan dengan baik tidak hanya
dibutuhkan pengetahuan klinik yang baik, serta pengetahuan yang up to date,
tetapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan
kebidanan. Menurut Daryl Koehn dalam the ground of profesional ethics (1994),
bahwa bidan dikatakan profesional, bila menerapkan etika dalam menjalankan
praktek kebidanan dengan memahami peran sebagai bidan, akan meningkatkan
tanggung jawab profesional kepada pasien atau klien. Bidan berada pada posisi
yang baik, yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan
pengetahuan tentang etika untuk diterapkan dalam strategi praktek kebidanan
(Wahyuningsih, 2006).
Keadilan dalam memberi pelayanan kebidanan adalah aspek pokok dalam
pelayanan kebidanan. Tahapan keadilan dalam kebidanan dimulai dengan
pemenuhan kebutuhan klien yang sesuai, keadaan sumber daya kebidanan yang
selalu siap untuk memberi pelayanan, adanya penelitian untuk mengembangkan
atau meningkatkan pelayanan, dan keterjangkauan tempat pelayanan. Tahapan
tersebut adalah syarat utama pelaksanaan pelayanan kebidanan yang aman. Tahap
berikutnya adalah sikap bidan terhadap klien, sesuai dengan kebutuhan klien, dan
tidak membedakan pelayanan kepada siapa pun (Soepardan, 2007).
Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat atau bidan akan tercermin dalam setiap langkah, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasi yang muncul. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang etika dalam moral serta penerapannya menjadi bagian yang sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan dimana nilai-nilai pasien selalu menjadi pertimbangan dan dihormati (Pelatihan Keterampilan Manajerial, SPMK, 2003).
Saat ini masyarakat acap kali merasakan ketidakpuasan terhadap
pelayanan bahkan tidak menutup kemungkinan mengajukan tuntutan ke muka
pengadilan. Apabila seorang bidan merugikan pasien dan dituntut oleh pasien
tersebut merupakan berita yang menarik dan tersebar luas di masyarakat melalui
media elektronik dan media massa lainnya. Hal tersebut menjadi permasalahan
yang perlu diperhatikan. Untuk itu dibutuhkan suatu pedoman yang menyeluruh
dan integrasif tentang sikap dan perilaku yang harus dimiliki seorang bidan
(Sofyan, dkk, 2006).
Derasnya arus globalisasi yang semakin mempengaruhi kehidupan sosial
masyarakat dan dunia juga mempengaruhi munculnya masalah/ penyimpangan
etik sebagai akibat kemajuan teknologi/ ilmu pengetahuan yang menimbulkan
konflik terhadap nilai. Arus kesejagatan ini tidak dapat dibendung, pasti akan
mempengaruhi pelayanan kebidanan. Dengan demikian penyimpangan etik yang
mungkin saja terjadi dalam praktek kebidanan, misalnya dalam praktek mandiri,
bidan yang bekerja di rumah sakit, rumah bersalin atau institusi lainnya ada di
bawah perlindungan institusinya, bidan praktek mandiri mempunyai tanggung
jawab yang lebih besar karena harus mempertanggungjawabkan sendiri apa yang
dilakukannya. Dalam hal ini bidan yang praktek mandiri menjadi pekerja yang
bebas mengontrol dirinya sendiri. Situasi ini akan besar sekali pengaruhnya
terhadap kemungkinan terjadi penyimpangan etik (Sofyan, dkk, 2006).
Tantangan Era Globalisasi ini tidak terkecuali bagi para Bidan Praktek
Swasta (BPS). Disadari dalam peningkatan pelayanan berkualitas dan profesional
para BPS dijumpai banyak tantangan antara keterbatasan permodalan, sarana, dan
prasarana pelayanan kesehatan. Adapun materi ilmu kebidanan adalah wanita
dalam masa reproduksi terutama pada masa pra-konsepsi, masa kehamilan, masa
melahirkan, masa nifas/ masa menyusui, dan bayi baru lahir (Sofyan, dkk, 2006).
Dalam Deklarasi Barcelona tahun 2001 dinyatakan bahwa hak asasi
manusia mengacu pada semua tingkat kehidupan, termasuk juga bayi baru lahir.
Bayi baru lahir mempunyai hak - hak khusus yang tidak dapat dituntut karena
fisik (neonatal usia 0-28 hari) dan mental bayi belum berkembang. Sehingga
belum dapat mengungkapkan secara langsung apa yang dirasakan, dibutuhkan,
dan yang paling diinginkannya. Hak bayi yang baru lahir menentukan serangkaian
kewajiban dan tanggung jawab masyarakat, khususnya tenaga medis yang paling
berperan dalam pemenuhan hak tersebut hak kelangsungan hidup (Soepardan,
2007).
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Hubungan etika profesi kebidanan terhadap pelayanan
maternal dan neonatal pada Bidan Praktek Swasta di Kecamatan Medan Sunggal tahun 2008”.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Apakah ada hubungan etika profesi kebidanan terhadap pemberian pelayanan maternal dan neonatal.
1.3 Tujuan Penelitian
1.2.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui apakah ada hubungan etika profesi kebidanan terhadap pemberian pelayanan maternal dan neonatal.
1.2.2 Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui etika profesi kebidanan pada BPS di Kecamatan Medan Sunggal.
b. Untuk mengetahui pemberian pelayanan maternal dan neonatal pada BPS di Kecamatan Medan Sunggal.
c. Untuk mengetahui hubungan etika profesi kebidanan terhadap pelayanan maternal dan neonatal pada BPS di Kecamatan Medan Sunggal.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi instansi tempat penelitian
Sebagai sumber infomasi dan motivator bagi para petugas kesehatan dalam pemberian pelayanan maternal dan neonatal, khususnya BPS sehingga pencapaian penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dapat tercapai sesuai dengan harapan.
b. Bagi instansi pendidikan
Memberikan sumbangan bagi perkembangan pendidikan juga sebagai
bahan kajian penelitia selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian
ini.
c. Bagi peneliti
Memperdalam pengetahuan penulis tentang etika profesi kebidanan terhadap pemberian pelayanan maternal dan neonatal.
Link download KTI lengkap ini
34. Hubungan Etika Profesi Kebidanan Terhadap Pemberian Pelayanan Maternal Dan Neonatal Pada BPS
BAB I
BAB II
BAB III-VI
33. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Emesis Gravidarum Pada Kehamilan Trimester Pertama
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis dan adaptasi seseorang wanita yang pernah mengalami kehamilan. Sebagian besar wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui, tetapi sebagian menganggap sebagai peristiwa khusus yang menentukan kehidupan selanjutnya, karena perubahan ini adalah proses yang alami (fisiologis) maka sudah sewajarnya bila diperlakukan dengan wajar tanpa interpensi dan manipulasi dari luar. (Saifuddin, 2000).
Sekitar 50% wanita hamil mengalami mual-mual, dan beberapa sampai
muntah-muntah. Keluhan ini terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan,
biasanya menghilang pada akhir waktu tersebut.
Penyebabnya hampir dapat dipastikan karena kepekaan terhadap hormone kehamilan. Tetapi, akan berlebihan jika calon ibu terlalu cemas atau mengalami tekanan emosional. Kebanyakan mual-mual terjadi pagi hari, sehingga dinamakan pusing pagi, tetapi mungkin saja terjadi kapan pun. Mual-mual di pagi hari lebih umum daripada disaat yang lain, karena perut mengandung kumpulan asam gastrik yang diendapkan semalaman.
Kebanyakan wanita dapat mengatasi mual-mual dengan cara sederhana.
Komposisi makanan seharusnya disesuaikan dengan tidak memakan yang mengandung lemak. Makanan dengan karbohidrat rendah sebaiknya dimakan lebih sering. Ini terdiri atas biscuit dan teh. Setelah itu, makanan kecil dimakan setiap 3 jam sampai waktu tidur. Beberapa wanita lebih suka menghindari minum diantara jadwal makannya dan minum cairan, baik sari buah manis, teh dan susu dari air soda pada saat yang lain (Llewellyn Derek, 2005).
Pada kehamilan, selain terjadi perubahan fisiologi, psikologis juga
memegang peranan yang tidak kalah penting dalam timbulnya mual muntah
(Prawirohardjo, 2000). Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks
memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan
yang terjadi. Konflik antara keinginan, penolakan, kebanggaan yang ditimbulkan
dari norma-norma sosial kultur dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat
merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional
ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat (Saifuddin, 2000).
Faktor yang dapat diharapkan memberikan kontribusi dalam kehamilan adalah dukungan dari keluarga. WHO menulis bahwa keluarga sebagai “Primary Social Agent” dalam promosi kesehatan atau penelitian kesehatan sangat dipengaruhi prilaku kesehatan dan pendekatan melalui keluarga. Hal ini merupakan cara yang paling efektif dan efisien. (Soetiono, 1998).
Sedangkan faktor yang mempengaruhi emesis gravidarum itu sendiri adalah factor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, molahidatidosa dan kehamilan ganda, faktor masuknya vili khorialis, alergi, psikologik dan juga sosial ekonomi (Prawirohardjo, 2002).
Pengobatan emesis gravidarum bukan dengan obat-obatan semata, bahkan dengan obat-obatan anti muntah sekalipun juga hanya dapat memberikan perbaikan saja tanpa menghilangkan gejala secara sempurna. Dukungan secara psikis dari suami dan dari orang lain juga terbukti bermanfaat dalam mengatasi Emesis gravidarum. Karena salah satu faktor pencetusnya adalah faktor psikologik. Kondisi psikologik ibu dan penerimaan ibu terhadap kehamilan akan sangat berpengaruh terhadap emesis gravidarum
Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana besarnya peranan hubungan dukungan social keluarga dalam berbagai aspek kesehatan dan penyakit secara khusus emesis gravidarum.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kejadian Emesis Gravidarum pada kehamilan trimester pertama di Klinik Bersalin Kasih Ibu Delitua?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara dukungan sosial keluarga
dengan kejadian Emesis gravidarum pada kehamilan trimester pertama.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat dukungan suami terhadap
ibu yang berada di kehamilan trimester pertama.
b. Untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat dukungan ibu terhadap ibu
yang berada di kehamilan trimester pertama.
c. Untuk mengidentifikasi seberapa besar tingkat dukungan mertua terhadap
ibu yang berada di kehamilan trimester pertama.
d. Untuk mengidentifikasi seberapa besar kejadian emesis gravidarum pada
ibu yang berada di kehamilan trimester pertama.
e. Untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara dukungan sosial
keluarga dengan kejadian Emesis gravidarum pada kehamilan trimester
pertama
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini bagi :
a. Bagi Tim Pelayanan Kesehatan
Memperbaiki kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan terutama
kebidanan serta mencegah dan menangani kehamilan dengan emesis
gravidarum.
b. Bagi Instansi Pendidikan
Untuk menambah pengetahuan para mahasiswa tentang hubungan dukungan sosial keluarga dengan emesis gravidarum.
c. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang hubungan dukungan sosial keluarga dengan emesis gravidarum.
Link download KTI lengkap ini
33. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Emesis Gravidarum Pada Kehamilan Trimester Pertama
BAB I
BAB II
BAB III
32. Hubungan Budaya Patriarki Terhadap Keputusan Wus Menjadi Akseptor Keluarga Berencana
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan dan masyarakat merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan,
karena kebudayaan berhubungan dengan budi atau akal. Kebudayaan adalah keseluruhan
kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, keilmuan, sosial, hukum, adat-
istiadat dan kemampuan-kemampuan lain untuk keperluan masyarakat. (Prasetyo. 2004.
hlm. 147).
Indonesia termasuk Negara yang berpaham budaya dan berideologi patriarki yang masih kental dan mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Ada tiga sistem budaya di Indonesia yakni patrilineal, matrilineal, dan bilateral. Budaya patriarki adalah keadaan hukum adat yang memakai nama bapak dan hubungan keturunan melalui garis kerabat pria/bapak (Sastryani. 2001. hlm.33).
Dalam masyarakat yang bertumpu pada budaya dan ideologi patriarki dengan basis dan nilai dari perempuan, kedudukan perempuan berada pada subordinat marginalis dan bahkan tidak diperhitungkan dalam konteks relasi gender. Patriarki itu sendiri didominasi dari laki-laki dari pada perempuan dan peran perempuan terkotak, dan laki-laki bermonopoli akan seluruh peran (Manurung. 2001 hlm. 131).
Perkembangan peradaban di dunia Barat dan Timur yang semula tumbuh dalam
budaya dan ideologis patriarki, telah meninggalkan dampak negatif di berbagai aspek dan struktur kehidupan manusia yang mengakibatkan adanya berbagai ketimpangan termasuk diantaranya ketimpangan gender (Syukrie, 2003,¶3, http://www.Glosarium-.Syukrie.com, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009 ).
Ketimpangan hubungan dalam keluarga tampak melalui pengaturan kehamilan.
Menerima atau tidaknya untuk ber-KB lebih sering ditentukan oleh suami, yang
mengijinkan isterinya menjadi akseptor (Syukrie, 2003,¶14, http://www.Glosarium-.Syukrie.com, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009 ).
Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama karena erat
hubungannya dalam Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA). Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi di negara ASEAN (Manuaba. 1999. hlm. 2).
Masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan Keluarga Berencana
dan kesehatan reproduksi dan adanya anggapan bahwa Keluarga Berencana adalah
urusan perempuan. Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi perempuan menjadi
akseptor adalah jumlah anak yang sudah cukup faktor usia, faktor ketakutan istri bila suami menjadi akseptor akan selingkuh, dan keluarga tidak harmonis (¶4,
http://www.bkkbn.go.id, diperoleh tanggal 06 februari 2008).
Kesenjangan tersebut juga dapat diukur dari kesamaan hak dalam pengambilan keputusan dan dalam program Keluarga Berencana, perempuan sering sekali terabaikan haknya dalam pengambilan keputusan. Padahal itu merupakan hak yang paling hakiki, termasuk dalam keputusan menjadi akseptor (Darwin. 2001. hlm. 88).
Pada program Keluarga Berencana, masalah yang paling menonjol yang
berhubungan dengan kebudayaan patriarki salah satunya hak-hak perempuan yang belum
mendapatkan akses dan peluang yang layak. Ini terbukti dari 95% peserta Keluarga
Berencana adalah perempuan. Dan kesertaanan pria sangatlah rendah (1,1%), jika
dibandingkan dengan negara-negara lain Malaysia (1,6%), Iran (13%), Bangladesh
(14%), USA (35%) bahkan Jepang (80%) pada tahun 2003. Dikarenakan hal tersebut, diupayakan peningkatan kesertaan pria dalam menjadi akseptor Keluarga Berencana yang sesuai dengan perubahan visi dan misi program Keluarga Berencana yakni berupaya mewujudkan keluarga yang berkualitas tahun 2015 melalui promosi, perlindungan dan bantuan untuk mewujudkan hak-hak reproduksi, memaksimalkan akses dalam kualitas pelayanan Keluarga Berencana dengan sorotan peningkatan partisipasi pria (¶2, http://www. bkkbn.go.id, diperoleh tanggal 14 Februari 2008).
Dari hasil penelitian Sriudayani tahun 2003 yang dilakukan pada tiga provinsi
yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu ditemui bahwa masih terbatasnya
pada pengambilan keputusan di dalam keluarga atau urusan domestik keluarga,
sedangkan suami masih sebagai pengambilan keputusan yang dominan serta mempunyai
anggapan suamilah yang harus dihormati yang sudah berlaku umum dalam masyarakat
(¶4, http://www. bkkbn - hasil penelitian.go.id, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009).
Dan ini berbeda sekali dengan pelayanan KB bermutu seperti yang
direncanakan. Dimana pelayanan KB bermutu ialah pelayanan KB yang memungkinkan
klien secara sadar dan bebas memilih cara pengendalian kelahiran yang diinginkan, aman, serta memuaskan kebutuhan pria dan wanita. (¶14 http://www.prov.bkkbn.go.id, diperoleh tanggal 16 Oktober 2009).
Perempuan tidak mempunyai kekuatan dalam penentuan metoda kontrasepsi
yang diinginkan yang dikarenakan ketergantungan kepada keputusan suami, selain itu
keputusan laki-laki dalam program keluarga berencana sangat kecil, namun kontrol perempuan dalam hal memutuskan untuk berk-KB sangat dominan (Pinem. 2009. hlm.
45).
Ketimpangan yang ditimbulkan tersebut dapat mempengaruhi masalah kesehatan
reproduksi. Dewasa ini kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global
sejak diangkatnya issue mengenai hal tersebut ke dalam Konferensi Internasional tentang kependudukan dan pembangunan (Internasional Conference On Population and Development, ICPD) di Kairo 1994. Hal ini penting dalam konferensi tersebut adalah disepakatinya perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan
pembangunan, dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi
pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta upaya pemenuhan hak - hak
reproduksi (¶9, http://www.prov.bkkbn.go.id, diperoleh tanggal 20 Oktober 2009).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan di Lingkungan VI Kelurahan Simpang
Selayang Kecamatan Medan Tuntungan tahun 2009 mayoritas penduduknya berpaham
patriarki yakni bersuku Batak Karo, dan Jawa serta tidak ditemukannya pria sebagai
akseptor keluarga berencana, setelah dilakukan wawancara terhadap sepuluh WUS
tentang indikator pengambilan keputusan dalam mengikuti program KB hasil survey
menunjukkan bahwa terdapat 70% responden mengatakan bahwa suami menentukan dan
memutuskan istri menjadi peserta KB atau tidak, sedangkan 30% responden mengatakan
bahwa menjadi peserta KB atas keputusan dan inisiatif sendiri sebagai istri. Kondisi ini menggambarkan bahwa paham budaya patriarki masih dan sangatlah kental. Terhadap
variabel keluarga berencana seluruh responden mengetahui bahwa kontrasepsi
merupakan cara pencegahan kehamilan yang belum dikehendaki, dan 50% yang
mengetahui jelas jenis kontrasepsi responden mengetahui jenis alat kontrasepsi, mengenai bahwa pria dapat juga berperan sebagai akseptor terdapat 60% yang mengetahuinya, dan 70% diantaranya tidak menginginkan jika suaminya dijadikan sebagai akseptor keluarga berencana.
Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah
dengan judul “hubungan budaya patriarki terhadap keputusan wus menjadi akseptor
keluarga berencana di Lingkungan VI Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010.
B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: “apakah ada hubungan budaya patriarki terhadap keputusan WUS menjadi akseptor keluarga berencana”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
hubungan budaya patriarki terhadap keputusan WUS menjadi akseptor keluarga
berencana di Lingkungan VI Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasikan karakteristik WUS sebagai akseptor keluarga berencana di Lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010.
b. Mengidentifikasi unsur budaya patriarki WUS sebagai akseptor keluarga berencana di Lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010.
c. Mengidentifikasi keputusan WUS menjadi akseptor keluarga berencana di Lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010.
d. Mengidentifikasi hubungan budaya patriarki terhadap keputusan WUS menjadi akseptor keluarga berencana di Lingkungan VI Kelurahan Simpang Selayang Medan Tuntungan Tahun 2010.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sebagai sarana pengembangan diri dalam peningkatan pengetahuan yang diperoleh penulis selama mengikuti perkuliahan.
2. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai penambahan serta peningkatan informasi pengetahuan WUS tentang budaya patriarki dan Keluarga Berencana, serta hak reproduksi terhadap pengambilan keputusan menjadi akseptor keluarga berencana.
3. Bagi Insitusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi dan tambahaan bagi peneliti-peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian lanjutan tentang hubungan budaya patriarki terhadap keputusan WUS menjadi akseptor keluarga berencana.
Link download KTI lengkap ini
32. Hubungan Budaya Patriarki Terhadap Keputusan Wus Menjadi Akseptor Keluarga Berencana
BAB I
BAB II
BAB III-VI
31. Hubungan Antara Pengetahuan dan Pendidikan Ibu Dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas tidak memadai merupakan salah satu penyebab mendasar dari timbulnya berbagai masalah. Mulai dari masalah pengangguran, kesehatan, pendidikan, kekurangan pangan, sampai dengan kerusakan lingkungan dan bencana alam akhir-akhir ini sering terdengar. Oleh karena itu, disamping upaya pembangunan di bidang ekonomi yang semakin ditingkatkan, pengendalian jumlah penduduk agar tidak bertambah terlalu cepat harus tetap menjadi perhatian (Nasrin, 2008).
Isu kependudukan merupakan isu yang mendesak, mengingat jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2005 yang mencapai 219 juta jiwa, mengharuskan
pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Selain itu,
Indonesia menyandang peringkat 111 dari 117 negara pada Human development
Indeks (HDI) 2005 yang membuktikan bahwa peningkatan jumlah penduduk
tersebut tidak diikuti oleh peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu
cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan jumlah penduduk ini
melalui Program Keluarga Berencana (KB). (Dwijayanti, 2006)
Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun
2007, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 224,9 juta jiwa, terbanyak keempat
di dunia. (Sirait, 2008). Dari segi pemakaian jumlah kontrasepsi, terdapat 35,2%
pengguna kontrasepsi suntikan, 28,1% pengguna kontrasepsi pil, 18,8% pengguna IUD, 14,2% pengguna implan, 5,5% sterilisasi, dan 1,0% pengguna kontrasepsi lain. (Bur, 2006).
BKKBN Nanggroe Aceh Darussalam bersama 6388 pos KB Gampong dan
422.286 peserta KB Aktif yang tersebar di seluruh Aceh terus memsosialisasikan
program KB. Pemakaian alat kontrasepsi ini masih didominasi kaum wanita
sebagai peserta KB aktif. Kaum wanita masih memilih alat kontrasepsi suntikan
dan pil sebagai pilihan utama. Wanita yang memakai Pil mencapai 191.499 atau
62% sedangkan yang menggunakan suntikan mencapai 191.461 atau 45,4%.
Sedangkan yang memakai IUD, MOP, MOW Implant masih di bawah 2%.
(Nasrin, 2008).
Di Kota Langsa jumlah pemakaian alat kontrasepsi masih rendah yaitu sebesar 52%, dibandingkan dengan kota / kabupaten lainnya di wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mencapai 75%.
Pada rencana pembangunan nasional ditegaskan bahwa selain pengendalian kelahiran dan penurunan kematian, diperlukan peningkatan kualitas program KB agar terwujud penduduk Indonesia yang berkualitas. Dengan demikian sangat tepat apabila dalam paradigma baru program KB difokuskan pada upaya-upaya baru yang lebih efektif untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Sebagai perwujudan pelaksanaan paradigma baru program KB nasional, maka visi mewujudkan NKKBS telah diganti dengan “Visi Keluarga Berkualitas tahun 2015”. (Depkes RI, 2005).
Salah satu langkah yang penting guna menunjang dan menyadarkan
penduduk tentang tujuan program Keluarga Berencana, yaitu melalui pendidikan. Sebab pada prinsipnya bahwa pendidikan selalu membawa penduduk ke arah perubahan pemikiran yang positif dalam menunjang pembangunan, yaitu peningkatan taraf hidup penduduk guna mencapai tujuan pembangunan nasional. (Soedharto, 2000).
Pengetahuan mengenai cara memilih alat kontrasepsi yang tepat
merupakan hal penting dalam upaya perlindungan terhadap kesehatan reproduksi
perempuan. Minimnya pengetahuan tersebut akan berdampak terhadap
peningkatan angka kematian ibu hamil dan bersalin, angka kehamilan yang tidak
diinginkan, dan angka kejadian penyakit menular seksual, serta angka kejadian
gangguan kesehatan akibat efek samping kontrasepsi. (BKKBN, 2006)
Dari data di Kelurahan Matang Seulimeng Kota Langsa terdapat 6545 jiwa
penduduk, dengan jumlah pasangan usia subur 605 orang yang tersebar dalam
lima lingkungan. Dari jumlah tersebut terdapat diantaranya 280 orang tidak
menggunakan alat kontrasepsi.
Studi pendahuluan yang penulis lakukan di Kelurahan Matang Seulimeng Kota Langsa menunjukkan bahwa sebagian besar pasang usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi disebabkan pengetahuan yang minim dan rendahnya tingkat pendidikan mereka.
Melihat data di atas maka faktor dasar yang mempengaruhi pemakaian
kontrasepsi adalah pengetahuan dan pendidikan ibu, dari uraian tersebut maka
penulis tertarik untuk meneliti hubungan antara pengetahuan dan pendidikan ibu
terhadap pemakaian alat kontrasepsi di Kelurahan Matang Seulimeng Kota
Langsa.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Dari uraian latar belakang di atas, pertanyaan penelitian ini adalah
”Bagaimana hubungan antara pengetahuan dan pendidikan ibu terhadap
pemakaian alat kontrasepsi di Kelurahan Matang Seulimeng Kota Langsa Tahun
2008”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan pendidikan ibu
dengan pemakaian alat kontrasepsi di Kelurahan Matang Seulimeng Kota
Langsa.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi.
b. Mengetahui hubungan antara pendidikan ibu dengan pemakaian alat kontrasepsi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Profesi
Sebagai masukan dalam memberikan informasi tentang pelaksanaan program KB di masyarakat desa
1.4.2 Bagi Program D-IV Bidan Pendidik
Sebagai referensi dan sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya
1.4.3 Bagi Masyarakat
Menjadi masukan dan bahan informasi bagi masyarakat tentang pentingnya masalah kontrasepsi
1.4.4 Bagi Peneliti
Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan masalah kesehatan
Link download KTI lengkap ini
31. Hubungan Antara Pengetahuan dan Pendidikan Ibu Dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi
BAB I
BAB II
BAB III-V
30. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Pemeriksaan Kehamilan Trimester III
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rencana Strategi Nasional Making Prenancy Safe (MPS) Indonesia disebutkan dalam rencana kontek pembangunan kesehatan Indonesia adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi dilahirkan hidup dan sehat. Misi MPS adalah menurunkan Tingkat kesakitan dan kematian maternal juga neonatal
melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (Saifuddin,
2002, hal. 1).
Pemeriksaan rutin pra-kelahiran sangat penting agar yang dialami ibu hamil dapat ditemukan masalah sedini mungkin dan dapat ditanggulangi, sebelum berkembang menjadi membahayakan ibu maupun bayinya. Sebaiknya ibu hamil menjalani pemeriksaan kesehatan paling sedikit empat kali selama hamil yaitu satu kali pada Trimester I usia kehamilan 0-14 minggu, satu kali pada Trimester II usia kehamilan sebelum 28 minggu dan dua kali pada Trimester III usia kehamilan 28-36 minggu dan setelah 36 minggu (Burns, 2005, hal. 101).
Data resmi SDKI Tahun 2008 mencatat, Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 228
per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi baru lahir 20 per 1000 kelahiran
hidup. Sementara itu Laporan Bank Pembangunan Asia tahun 2009 mencatat angka 405
atau rata-rata 2,3 perempuan meninggal setiap satu jam (bukan perhari) karena
melahirkan (Profil Indonesia, 2009).
Penyebab kematian maternal merupakan suatu hal yang cukup kompleks yang terdapat pada faktor-faktor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosial ekonomi. Tujuan dari Antenatal Care adalah menyiapkan ibu sebaik-baiknya fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas sehingga keadaan mereka Postpartum sehat dan normal, tidak hanya fisik akan tetapi juga mental (Wiknjosastro, 2002, hal. 23).
Dukungan keluarga merupakan andil yang sangat besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Dukungan yang diberikan suami selama istri hamil dapat mengurangi beban atau gangguan psikologis dalam proses kehamilannya. Dengan dukungan suami gangguan psikologis yang muncul dalam proses kehamilan calon ibu dapat dihindarkan atau tidak menjadi berkembang lebih parah (Kusmiyati, 2008 ¶ 3).
Hasil survei bidan Sri Wahyuni pada tahun 2010 membuktikan kunjungan ibu hamil di klinik Bersalin Sri Wahyuni tahun 2010 sebanyak 760 ibu , sedangkan jumlah kunjunganya ibu trimester III sebanyak 228 ibu. Beberapa faktor yang berhubungan dengan dukungan keluarga yang positif merupakan salah satu hal yang mempengaruhi ibu melakukan kunjungan kehamilan. Peran keluarga sangat penting dalam rangka mencapai target kepatuhan ibu terhadap pemeriksaan kehamilan.
Adapun rendahnya pencapaian target kepatuhan dalam pemeriksaan kehamilan
disebabkan karena ibu hamil merasa tidak butuh pelayanan antenatal, faktor
pengambilan keputusan dalam keluarga sehubungan dengan kondisi ibu hamil. Ibu
merasa kehamilan bukan merupakan suatu resiko. Berdasarkan latar belakang diatas,
peneliti tertarik mengambil judul “Hubungan antara Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Ibu dalam Pemeriksaan Kehamilan Trimester III di Klinik Bersalin Sri Wahyuni Tahun 2011”.
B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini, adalah “Bagaimanakah hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam pemeriksaan kehamilan trimester III di Klinik Bersalin Sri Wahyouni Tahun 2011” ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu dalam pemeriksaan kehamilan trimester III di Klinik Bersalin Sri Wahyuni Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
Adapun beberapa tujuan khusus dalam penelitian ini, diantaranya :
1. Untuk mengetahui dukungan keluarga dalam pemeriksaan kehamilan trimester
III di Klinik Bersalin Sri Wahyuni Tahun 2011.
2. Untuk mengetahui kepatuhan ibu dalam pemeriksaan kehamilan trimester III di
Klinik Bersalin Sri Wahyuni Tahun 2011.
3. Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu
dalam pemeriksaan kehamilan trimester III di Klinik Bersalin Sri Wahyuni
Tahun 2011.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Perkembangan Ilmu Khususnya Asuhan Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan, pengalaman bagi pelayanan kebidanan dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh sehingga dapat mempraktekkan langsung di lapangan dan keberhasilan antenatal care dapat tercapai sesuai target pemerintah.
2. Bagi Masyarakat Khususnya Ibu Hamil
Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang pemeriksaan kehamilan pada ibu trimester III dengan cara penyuluhan ibu dan keluarga sehingga ibu mengetahui betapa pentingnya Antental care.
3. Bagi pelayanan Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat digunakan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pelayanan kebidanan agar lebih meningkatkan kunjungan antental care dengan memberikan informasi mengenai manfaat pemeriksaan kehamilan bagi ibu hamil khususnya ibu hamil trimester III.
Link download KTI lengkap ini
30. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Pemeriksaan Kehamilan Trimester III
BAB I
BAB II
BAB III-VI
