KTI-SKRIPSI

14. Faktor-faktor Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur menjadi Akseptor KB

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Situasi dan kondisi Indonesia dalam bidang kependudukan, kualitasnya saat ini masih sangat memprihatinkan. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, yaitu sekitar 215 juta jiwa.Situasi dan kondisi kependudukan di Indonesia tersebut, jelas merupakan suatu fenomena yang memerlukan perhatian dan penanganan secara seksama. Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah kependudukan ini adalah dengan menggalakkan (dan membangun kembali) program Keluarga Berencana Nasional di Indonesia (BKKBN, 2005;1).
Menurut World Health Organization WHO) Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapat kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hartanto, 2004;26).
Program KB ini mempunyai visi NKKBS dan telah dirubah menjadi keluarga berkualitas tahun 2015. Sehingga melalui program KB ini dapat dilakukan penilaian pelayanan KB yang berkualitas dengan mengikut sertakan menitikberatkan pada strategi agar pelayanan lebih mudah diperoleh dan peserta diterima oleh berbagai pasangan usia subur sehingga pasangan usia subur tertarik menjadi akseptor KB (Sarwono, 2003;44).
Meskipun program KB dinyatakan cukup berhasil di Indonesia, namun dalam pelaksanaan hingga saat ini juga masih mengalami hambatan - hambatan yang dirasakan antara lain adalah masih banyak pasangan usia subur yang masih belum menjadi peserta KB. Disinyalir ada beberapa faktor penyebab mengapa wanita pasangan usia subur enggan menggunakan alat kontrasepsi. Faktor - faktor tersebut dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu segi pelayanan KB,segi kesediaan alat kontrasepsi,segi penyampaian konseling.

Dari hasil penelitian yang diketahui banyak alasan dikemukakan oleh wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi,antaralain karena mereka menginginkan anak. Alasan yang cukup menonjol adalah karena efek samping dan masalah kesehatan, dengan pasangan yang menolak 10 persen, alasan karena masalah agama 0,5 persen dan alasan yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi yaitu biaya yang mahal 0,8 persen (BKKBN, 2010; 3).
Berdasarkan hasil presurvey BKKBN pada tahun 2010 di Sumatera Utara, jumlah Pasangan Usia Subur sebanyak 2.120.692 peserta, pasangan yang menjad peserta KB aktif pada Agustus 2010 sebanyak 1.424.630 yakni peserta KB IUD sebanyak 1.529 peserta, metode operasi pria 171 peserta, kondom 4.360 peserta dan pil sebanyak 10.273 peserta. Sementara pasangan usia subur yang bukan peserta KB ada sebanyak 716.739 yakni 73.863 jumlah pasangan usia subur yang sedang hamil, 10.299 jumlah pasangan usia subur yang ingin mempunyai anak segera (IAS), 52.606 jumlah pasangan usia subur tidak ingin mewujudkan anak lagi (TIAL), 13.688 jumlah pasangan usia subur yang ingin anak ditunda 15.712 (BKKBN, 2010).
Sehubungan dengan hal di atas,Hartanto (2004) mengemukakan semua jajaran pembangunan diajak untuk ikut menangani program KB dengan sebaik - baiknya. Juga sekaligus mengajak semua pasangan usia subur yang potensial untuk menjadi akseptor KB yang lestari.
Target yang ingin dicapai untuk pemakaian alat kontrasepsi di Kecamatan Percut Sei Tuan sebanyak 80,55 persen, sedangkan target yang baru tercapai untuk pemakaian alat kontrasepsi di Desa Bandar Klippa sebanyak 70,00 persen. Puskesmas pembantu, dan Bidan Praktek Swasta melayani masyarakat dalam pemakaian alat kontrasepsi di desa Bandar Klippa.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik mengambil judul fakor - faktor yang mempengaruhi ketidakikutsertaan pasangan usia subur menjadi akseptor KB di Desa Bandar Klippa Kabupaten Deli Serdang.


B. Perumusan Masalah
Apakah faktor - faktor penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam program KB di Desa Bandar Klippa Kabupaten Deli Serdang.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk menggambarkan faktor - faktor penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur menjadi akseptor KB di Desa Bandar Klippa Kabupaten Deli Serdang.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan faktor - faktor ketidakikutsertaan pasangan usia subur menjadi akseptor KB berdasarkan pengetahuan.
b. Menggambarkan faktor ketidakikutsertaan pasangan usia subur menjadi akseptor KB berdasarkan pendapatan keluarga.
c. Menggambarkan faktor ketidakikutsertaan pasangan usia subur menjadi akseptor KB berdasarkan agama.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai masukan bagi petugas kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan KB pada pasangan usia subur.
2. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya.
3. Bagi Responden
Menambah pengetahuan ibu, terutama bagi ibu yang pasangan usia subur tentang
KB.

Link download KTI lengkap ini
14. Faktor-faktor Ketidakikutsertaan Pasangan Usia Subur menjadi Akseptor KB
BAB I
BAB II
BAB III-V

Baca Selengkapnya...

13. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu Untuk Memilih Implant Sebagai Alat Kontrasepsi

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah utama yang sedang dihadapi negara-negara yang sedang berkembang termasuk
Indonesia adalah masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dan kurang seimbangnya
penyebaran dan struktur umur penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah
mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat tertentu kesejahteraan rakyat (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2004).
Keluarga Berencana telah menjadi salah satu sejarah keberhasilan pada abad ke 20 saat ini hampir 60 % pasangan usia subur di seluruh dunia menggunakan kontrasepsi. Hingga saat ini populasi dunia sudah mencapai angka 6 milyar dan lebih dari 120 juta wanita negara berkembang tidak memiliki cara mencegah kehamilan. Pada awal tahun 2000, para pakar kependudukan memproyeksikan penduduk Indonesia pada tahun 2010 sebanyak 234,1 juta Angka ini merupakan proyeksi moderat yang mengasumsikan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) dalam menurunkan fertilitas pada periode 1997-2000 terus berlanjut.

Kontrasepsi hormon merupakan kelompok kontrasepsi yang pemakaiannya berada pada
urutan ke tiga diseluruh dunia. Sebagian besar (85 %) menggunakan kontrasepsi oral
sedangkan implant hanya 15% namun beberapa negara mungkin banyak mengandalkan salah satu metode tertentu (Glasier,2006).
Survey demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2002 - 2003 memperlihatkan
proporsi peserta KB untuk semua tercatat sebesar 60,3 %. Bila dirinci lebih lanjut proporsi peserta KB yang terbanyak adalah suntik (27,8%), diikuti oleh pil (13,2%), IUD (6,2%), implant atau susuk KB (4,3%) sterilisasi wanita (3,7%), kondom (0,9%), sterilisasi pria (0,4%), MAL (Metode Amenore Laktasi) (0,1%), dan sisanya merupakan peserta KB tradisional masing - masing menggunakan cara tradisional, pantang berkala (1,6%) maupun senggama terputus (1,5%) dan cara lain (0,5%).(BKKBN, 2006).
Banyak perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis
kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut, berbagai faktor harus dipertimbangkan termasuk status kesehatan. Salah satu bagian dari program KB nasional adalah KB implant. Kontrasepsi untuk kebutuhan KB yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Pemasangan implant sederhana dan dapat diajarkan dan efek sampingnya sedikit Implant merupakan kontrasepsi yang paling tinggi daya guna nya Kegagalan adalah 0,3 per 100 tahun tetapi mengapa ibu - ibu kurang berminat menggunakan alat kontrasepsi ini (Manuaba, 1998).
Kelebihan implant adalah cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen, perdarahan yang terjadi lebih ringan, tidak menaikan tekanan darah, resiko terjadi nya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim.(Sarwono, 1999.)
Berdasarkan hasil presurvey di BKKBN pada tahun 2009 di Sumatra Utara Jumlah
Pasangan Usia Subur sebanyak 1.982.810 peserta, pasangan yang menjadi peserta KB aktif pada Mei 2009 sebanyak 1.266.071 yakni peserta KB IUD sebanyak 2.488 peserta, Metode Operasi Wanita sebanyak 920 peserta, Metode Operasi Pria 257 peserta, Kondom 2.212 peserta, Implant 4.325 peserta, Suntik 9.974 peserta dan Pil sebanyak 10.931 peserta.
Sementara PUS yang bukan peserta KB ada sebanyak 716.739 yakni 73.863 jumlah pasangan usia subur yang sedang hamil, 213.653 jumlah pasangan usia subur yang ingin mempunyai anak segera (IAS), 249.586 jumlah pasangan usia subur tidak ingin anak lagi (TIAL), 179.637 jumlah pasangan usia subur yang ingin anak ditunda BKKBN,2009).
Secara umum alasan utama tidak menggunakan KB Implant yang paling dominan dikemukakan wanita adalah merasa tak subur (28,5%). Alasan berikutnya yang cukup menonjol adalah alasan telah mengalami menopause (16,8%). Alasan berkaitan dengan kesehatan (16,6%). Alasan efek samping (9,6%). Puasa kumpul (7,3%). merasa tidak nyaman dalam ber KB (5,2%). Dan alasan berkaitan dengan akses ke pelayanan seperti jarak jauh, tak tersedia provider (0,1-1,6%). Selain itu masih dijumpai alasan mengenai larangan suami dan budaya atau agama (2,6% dan 0,9%) (BKKBN, 2009)
Dari data yang diperoleh dari pemberdayaan wanita dinas kesehatan kota Medan peserta KB aktif pada bulan November 2009 di kecamatan Medan Marelan dari 20,830 PUS yang memakai alat kontrasepsi implant hanya 581 (3,85 %). Berdasarkan latar belakang masalah maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut yang menjadi perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah : Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi berdasarkan faktor pengetahuan di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010.
b. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi berdasarkan faktor ekonomi di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010.
c. Mengetahui rendahnya minat ibu untuk memilih implant sebagai alat kontrasepsi berdasarkan faktor pendidikan di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan KB terutama pada ibu yang tidak menggunakan alat Kontrasepsi Implant.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan bagi institusi pendidikan dalam keagiatan proses belajar dan sebagai bahan acuan bagi penulis selanjutnya.
3. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pelayanan KB bagi Ibu.
4. Bagi Bidang Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi panduan atau bahan perbandingan untuk melakukan penelitian yang akan datang.

Link download KTI lengkap ini
13. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu Untuk Memilih Implant Sebagai Alat Kontrasepsi
BAB I
BAB II
BAB III-V

Baca Selengkapnya...

51. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencapaian pembangunan manusia ditinjau dari Indeks Prestasi Manusia (IPM) belum menunjukkan hasil yang menggembirakan karena IPM Indonesia berada pada peringkat 112 dari 117 dari negara tetangga. Rendahnya IPM sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi dan kesehatan penduduk Indonesia. (Azrul, 2007).
Menurut pengelompokan prevalensi gigi kurang Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), Indonesia tergolong sebagai negara status kekurangan gizi yang tinggi pada
tahun 2004 karena 5.119.935 balita Indonesia (28,47,%) termasuk kelompok gizi
kurang dan gizi buruk ( Falah S, 2005)
Peristiwa kembang tumbuh banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, gizi, dan lingkungan. Dengan demikian harus diupayakan peningkatan gizi agar tidak menghambat proses tumbuh kembang.(Sulistijani, 2004).
Dari laporan Dinas Kesehatan Sumatera Utara tahun 2005 diperoleh jumlah balita
yang dibawah garis merah adalah 3,12% dari 1.270.245 jiwa dan untuk Kabupaten Deli
Serdang jumlah balita di bawah garis merah adalah 0.62% dari 161.387 jiwa (Dinkes
Sumut, 2005).

Sedangkan menurut laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang berdasarkan data Puskesmas Tanjung Morawa tahun 2006 diperoleh jumlah balita yang dibawah garis merah adalah 0,17% dari 8.660 jiwa (Dinkes Deli Serdang, 2006).
Berbagai sistem tubuh tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda, misalnya
pertumbuhan jaringan otak dan sistem saraf berlangsung secara maksimal pada dua
tahun pertama, kemudian pada tahun berikutnya berlangsung lambat. Pertumbuhan
sistem saraf yang pesat disertai dengan perkembangan keterampilan anak seperti
adaptasi sosial, kemampuan berbicara, dan berjalan. Oleh karena itu, jika terjadi
gangguan pertumbuhan pada anak akan mempengaruhi sistem saraf, yang pada
akhirnya menyebabkan kelambatan perkembangan keterampilan. (Sulistijani, 2004).
Berdasarkan laporan kesehatan, sekitar 5%-10% dari jumlah anak yang ada memiliki gangguan perkembangan dalam berbicara dan berbahasa. Perkembangan tidak
hanya berbicara, namun juga berkomunikasi seperti memahami lambang bahasa
menulis dan kemampuan visualisasi atau menunjukkan sesuatu. (Zoelandari, 2007).
Suatu kelainan biasa terjadi jika ada faktor genetika atau karena faktor lingkungan
yang tidak mampu mencukupi kemampuan dasar tumbuh kembang anak. Peran
lingkungan, menjadi faktor penting untuk mencukupi kebutuhan dasar tumbuh kembang
anak yaitu kebutuhan psikososial (asih dan asuh). Lingkungan ini terdiri dari lingkungan mikro (Ibu atau pengganti ibu), lingkungan mini (ayah, kakak, adik, dan status sosial ekonomi), lingkungan mesco (hal-hal diluar rumah). (Sisworo, 2004).
Berdasarkan penjajakan awal di posyandu di Batang Kuis dari 55 bayi terdapat 21
bayi yang mempunyai berat badan yang tetap artinya tidak ada peningkatan berat badan
setiap bulannya. Secara normal bayi yang sehat adalah harus mengalami peningkatan
berat badan setiap bulan dan sesuai dengan tingkat usia dalam pertumbuhan
perkembangan pertambahan usianya. Atas informasi tersebut diatas penulis berkeinginan meneliti tentang bagaimana sebenarnya ”Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan 2008”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah ”Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh
Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan Tahun 2008”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi di Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan Tahun 2008.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang bayi berdasarkan tingkat pendidikan.
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang bayi berdasarkan sumber informasi.

1.4 Manfaat Penelitian
a. Sebagai sumber informasi bagi Klinik Nurhalmah Batang Kuis Medan untuk upaya promotif dan preventif bagi pelayanan yang diberikan kepada ibu yang memiliki bayi.
b. Untuk tenaga kesehatan agar lebih meningkat dan mengupayakan pelayanan yang berbentuk promotif dalam upaya meningkatkan gizi bayi.

Link download KTI lengkap ini
51. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh Kembang Bayi
BAB I
BAB II
BAB III-VI

Baca Selengkapnya...

50. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat
panjang. Perbedaan ini dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksikan secara sosial dan budaya. Pada akhirnya perbedaan ini dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang tak bisa diubah.
Kekerasan dalam rumah tangga dalam berbagai bentuk sering terus berlangsung meskipun
perempuan-perempuan tersebut sedang mengandung. Konsekuensi paling merugikan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan dan dampak terhadap kondisi kesehatan mentalnya.
Dampak ini terutama menonjol pada perempuan korban kekerasan seksual. Dalam tindak perkosaan, misalnya yang diserang memang tubuh perempuan. Namun, yang dihancurkan adalah seluruh jati diri perempuan yaitu kesehatan fisik, mental psikologi dan sosialnya (Tono Hadi, 2007).

Maraknya isu “Kekerasan Terhadap Perempuan”, menjadi rangkaian kosakata yang cukup
populer dalam beberapa tahun belakangan ini, telah memasuki wilayah yang paling kecil dan ekslusif, yaitu keluarga. Di Amerika Serikat sendiri yang konon negara pengusung Hak Asasi Manusia, justru menunjukkan laporan yang cukup mengejutkan. Andrew L. Sapiro dalam bukunya berjudul “Amerika No. 1” menyebutkan bahwa kita nomor satu dalam pemerkosaan yaitu 114 per 100.000 penduduk”. Departemen kehakiman AS sampai akhir 1992 menyebutkan bahwa 20% pemerkosaan adalah bapaknya sendiri, 26% orang dekatnya, 31% orang dikenalnya, 4% orang yang tak dikenalnya.
Komnas perempuan mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun. Catatan tahun 2004, misalnya menyebut 5.934 kasus kekerasan terhadap perempuan, 2.703 adalah kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Tercakup dalam kategori ini dalam kekerasan terhadap istri sebanyak 2.025 kasus (75%) kekerasan tehadap anak perempuan 389 kasus (24%) dan kekerasan terhadap keluarga lainnya 23 kasus (1%) (Emma Adji, 2006).
Rifka Annisa Women’s Crisis Center di Jogjakarta yang berkiprah dalam kenangan perempuan korban kekerasan mencatat, hingga Mei 2006 terdapat 900 kasus dan 619 diantaranya adalah kasus KDRT (Wardani Mag, 2007).
Dari data yang dihimpun IBH-APIK Medan, setidaknya ada 1520 kasus yang sialami
perempuan dan anak dengan berbagai kasus, seperti kejahatan seksual sebanyak 648 kasus, kekerasan fisik dan psikis 303 kasus, perampokan terhadap perempuan 208 kasus, kematian tidak wajar 148 kasus, penganiayaan 118 kasus, trafiking 64 kasus, bayi dibunuh 19 kasus, kekerasan terhadap buruh 7 kasus dan penculikan 4 kasus (http://www.kebumen.go.id,16-08-2007)
Dari kasus perceraian yang ada di Kabupaten Langkat stabat di Pengadilan Agama tahun 2006 sebanyak 114 kasus, yaitu masalah ekonomi 5 kasus, tidak ada tanggung jawab 22 kasus, tidak ada keharmonisan 84 kasus, gangguan pihak ketiga 2 kasus dan perceraian lainnya 1 kasus. Tahun 2007 yaitu sebanyak 196 kasus, yaitu masalah tidak ada tanggung jawab sebanyak 95 kasus dan tidak ada keharmonisan 101 kasus (Pengadilan Agama, 12-11-2007).
Berdasarkan permasalahan yang tertera diatas, bahwa kekerasan dalam rumah tangga sangat terkait dengan Hak Asasi Manusia. Dan memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan wanita, dengan dasar itu pula penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga
1.2. Pertanyaan penelitian
Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat Tahun 2007.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang dampak Kekerasan Terhadap
Perempuan Dalam Rumah Tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab.
Langkat.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi umur ibu tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
2. Mengetahui distribusi pendidikan ibu tentang dampak terhadap kekerasan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
3. Mengetahui distribusi pekerjaan ibu tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.
4. Mengetahui distribusi sumber informasi tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga di Desa Sambi Rejo Dusun V Kec. Binjai Kab. Langkat.


1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Menambah pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dalam melaksanakan penelitian khususnya mengenai dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga.
1.4.2. Hasi penelitian ini dapat menjadi masukan bagi petugas kesehatan untuk dapat memberikan konseling tentang dampak kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga.

Link download KTI lengkap ini
50. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga
BAB I
BAB II
BAB III-VI

Baca Selengkapnya...

49. Gambaran Kecemasan Pasangan Infertil yang Berkunjung Ke RS

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menikah dan memiliki keturunan adalah suatu fase yang dijalani oleh manusia
dalam siklus kehidupanya. Memiliki keturunan sebagai penerus generasi dirasakan
sebagai suatu keharusan oleh sebagian masyarakat kita. Keberadaan anak dianggap
mampu menyatukan dan menjaga agar suatu keluarga atau pernikahan tetap utuh
(Wirawan, 2004).
Infertilitas (kemandulan) merupakan masalah kesehatan, dimana pasangan suami
istri tidak mengetahui kalau pasangannya mengalami infertilitas dan penyebab
terjadinya infertilitas. Infertilitas ini membutuhkan perhatian di seluruh dunia maupun di Indonesia, karena banyaknya pasangan infertil di Indonesia khususnya
pada wanita yang pernah kawin tapi tidak mempunyai anak. Sedangkan di negara-
negara maju seperti Amerika, Jepang ditemukan kasus infertil baik dari laki-laki
maupun perempuan sekitar 80% jumlah pasangan infertil diperoleh sekitar 400 juta
pasangan (Siswono, 2003).

Menurut Worlth Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Hal ini di alami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengalami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali belum pernah hamil (Addy, 2010).
Beberapa daerah di Indonesia, wanita sering kali disalahkan menjadi penyebab
infertilitas yang tidak bisa hamil. Padahal, masalah infertilitas dapat berasal dari
pihak laki-laki, perempuan ataupun interaksi keduanya. Menurut penelitian
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta, 36% infertilitas
diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% ada pada si ibu.
Penyelidikan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32,7% hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam 3 bulan, 72,1% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam 24 bulan. Waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan adalah 2,3 bulan sampai 2,8 bulan. Makin lama pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya. Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah infertilitas jika pasangan yang ingin punya anak itu telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan lebih dari 12 bulan (Hetty, 2009).
Kegagalan mempunyai anak pada pasangan suami istri akan menyebabkan rasa
sedih yang mendalam, membuat perasaan bersalah dan membuat stress. Stress
berperan besar menyumbang angka kemungkinan infertilitas, yaitu sebesar 15-20 %.
Ketika seseorang mengalami kondisi jiwa demikian bisa menyebabkan gangguan
ovulasi spermatogenesis, spasme tuba fallopi dan disfungsi seksual yaitu menurunnya
frekuensi hubungan suami istri. Aspek gaya hidup ternyata juga menyumbang 15-
20% pengaruh terhadap angka kejadian infertilitas. Salah satu trend seperti menunda
usia perkawinan demi mengejar karier yang cukup marak beberapa tahun belakangan ini. Padahal tingkat kesuburan wanita akan menurun mulai usia 35 tahun (Yan,
2008).
Faktor-faktor organik/psikologi merupakan penyebab terjadinya infertilitas,
karena ketakutan yang berlebihan (emotion stress) dapat juga menurunkan kesuburan
wanita. Selain itu pendapat umum mengatakan bahwa ketegangan jiwa/kecemasan
dapat menyebabkan spasmus di daerah antara uterus dan tuba (utero-tubal junction).
Di negara Jugoslavia ditemukan 678 kasus dengan keluhan sterilias, 544 kasus
(81,6%) disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor penanggulangan infertilitas dan subfertilitas yang mempunyai kadar psikologi sebaiknya dilakukan dengan pendidikan psikologi (Prawirohardjo, 2003).
Infertilitas tersebar diseluruh dunia termasuk Indonesia antara lain ditemukan di
sumatera utara khususnya medan banyak keluarga memelihara kucing dan anjing.
resikonya adalah mendapat zoonosis berupa semacam kuman antara lain protozoa
penyakit disentri dan toxoplasmosis. Saat ini dilaporkan bahwa infeksi oleh kuman
TORCH pada wanita bisa menyebabkan infertilitas. 70 % wanita yang infertil
terinfeksi oleh kuman TORCH (Vitahealth, 2007).
Berdasarkan data yang dikumpulkan peneliti dari bulan September - November
2010 terdapat sebanyak 32 pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan
Medan, 28 pasangan dengan infertilitas primer dan 4 pasangan dengan infertilitas
sekunder.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi gambaran kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi adanya kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010.
b. Untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan pasangan infertil yang berkunjung ke RS Adenin Adenan Medan Tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pasangan Infertil
Sebagai sumber informasi terhadap kecemasan infertilitas khususnya pada pasangan infertil
2. Bagi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai bahan penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama pendidikan dan menambah wawasan dan pengalaman. Sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan D IV Kebidanan.

Link download KTI lengkap ini
49. Gambaran Kecemasan Pasangan Infertil yang Berkunjung Ke RS
BAB I
BAB II
BAB III-VI

Baca Selengkapnya...

48. Gambaran Kecemasan Dan Nyeri Persalinan Pada Ibu Primigravida

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan dimaksud dalam pembukaan UUD 1945. Salah satu tolak ukur untuk menilai kemajuan program pembangunan kesehatan adalah faktor derajat kesehatan, yang diuraikan dalam berbagai variabel seperti lamanya hidup, kematian, kesakitan, dan lain-lain. Variabel ini dijabarkan ke dalam indikator
misalnya angka harapan hidup, angka kematian kasar, angka kesakitan, dan lain-lain Depkes RI, 2008).
Kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia tergolong cukup tinggi. Pada tahun 2015 mendatang angka kematian ibu melahirkan ditargetkan menurun menjadi 103 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian di Indonesia saat ini tergolong masih tinggi yaitu mencapai 228 per kelahiran hidup.

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (Asuhan Persalinan Normal, 2008).
Kecemasan (Ansietas) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Gangguan ansietas adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran penting tentang ansietas yang berlebihan yag disertai respon perilaku, emosional, dan fisiologis. Individu yang mengalami gangguan ansietas dapat memperlihatkan perilaku yang tidak lazim seperti panik tanpa alasan, takut yang tidak dapat dijelaskan atau berlebihan (Viebeck Sheila L, 2008).
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial. Kebanyakan sensasi nyeri
adalah akibat dari stimuli fisik dan mental atau stimuli emosional (Smeltzer, Suzanne C, 2002).
Proses persalinan merupakan peristiwa yang melelahkan sekaligus beresiko, tidak mengherankan calon yang akan melahirkan diselimuti rasa takut, panik, dan gugup. Seorang wanita yang merasa cemas pada saat persalinan dapat mengancam keselamatannya dan bayinya. Kecemasan juga mengakibatkan terjadinya penurunan aliran darah ke rahim, kontraksi rahim menurun, lamanya kala I, turunnya aliran darah ke plasenta, rendahnya oksigen yang tersedia untuk janin. Penyebab kecemasan yang dirasakan oleh ibu pada saat menjelang persalinan antara lain : takut akan peningkatan nyeri, takut persalinan akan melukai bayinya, kurang pengetahuan tentang proses persalinan, takut kehilangan kontrol, takut tidak dapat merawat bayinya, takut akan pengabaian ayah dari si bayinya, kepercayaan-kepercayaan yang mengatakanbahwa melahirkan itu sakit (Simkim&Anchefa 2005).
Ketika seorang ibu menghadapi proses persalinan diiringi dengan ketakutan dan
sangat cemas serta tegang, tak yakin pada diri sendiri maka ketegangan ini bisa
menyebabkan tekanan pada serviks dan rahim sehingga akan lebih banyak rasa sakit / nyeri yang ditimbulkan (Mander, 2005).
Oleh karena itu yang terpenting bagi ibu adalah adanya dukungan dan motivasi
dari orang yang ada di sekelilingnya, demi membesarkan hati serta membantunya
menghadapi persalinan secara normal. Jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan
selama persalinan dan kelahiran bayi, maka ibu akan mendapat rasa aman dan itu dapat
membantunya dalam mengahadapi persalinan secara normal (Asuhan Persalinan
Normal, 2007).
Hodnett (1995), dalam penelitiannya mengindikasikan bahwa kehadiran dukungan dari orang-orang yang dilatih akan mengurangi durasi kelahiran, mengurangi kecenderungan penggunaan obat-obatan pengurang rasa nyeri dan menurunkan kejadian kelahiran secara secsio sesaria.
Oleh karena hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Gambaran Kecemasan dan Nyeri Persalinan pada Ibu Primigravida”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran Kecemasan dan Nyeri Persalinan pada ibu Primigravida?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini merupakan untuk mengetahui Tujuan Umum :
1. Untuk mengetahui gambaran kecemasan dan nyeri persalinan yang terjadi pada ibu primigravida.
Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui karakteristik ibu primigravida yang mengalami kecemasan dan nyeri persalinan.
2. Untuk mengetahui tingkat kecemasan yang terjadi pada ibu primigravida.
3. Untuk mengetahui tingkat nyeri persalinan yang terjadi pada ibu primigravida.

D. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan Kebidanan
Sebagai masukan bagi pelayanan kesehatan terkhusus bidan agar mampu melayani dan menghadapi rasa cemas, nyeri pada ibu bersalin dengan memberikan asuhan kebidanan dengan benar dan tepat.
2. Perkembangan Ilmu Kebidanan
Sebagai masukan bagi perkembangan ilmu kebidanan dalam menghadapi ibu yang
mengalami rasa cemas yang dapat mengakibatkan meningkatnya rasa nyeri pada
ibu bersalin.

Link download KTI lengkap ini
48. Gambaran Kecemasan Dan Nyeri Persalinan Pada Ibu Primigravida
BAB I
BAB II
BAB III-VI

Baca Selengkapnya...

47. Formulir Persetujuan Penelitian Pengalaman Ibu Tentang Nyeri Post Partum Dengan Riwayat Sectio Ceasaria

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sectio caeseria adalah cara persalinan melalui pembedahan di perut dan di dinding uterus. Seharusnya keadaan ini dilakukan jika ibu dan janinnya dalam keadaan darurat dan hanya dapat diselamatkan melalui operasi. Bedah caesar yang tidak direncanakan biasanya baru diputuskan pada saat atau ketika persalinan berlangsung. Pemelihan persalinan melalui operasi dengan alasan yang beragam antara lain tidak tahan atau takut terhadap nyeri pada saat melahirkan. Banyak wanita yang tidak tahan memilih untuk menjalani operasi bahkan ada yang begitu mengetahui dirinya hamil sudah merencanakan untuk tidak bersalin normal dan melahirkan bayi dengan caesar (Oxorn, 2003)
Suatu tindakan operasi seringkali berhubungan dengan nyeri sehingga
menjadi masalah pada saat selesainya proses operasi. Nyeri tersebut sangat
mengganggu sebab menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasien (Melvyn, 2006)
Nyeri merupakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan yang dirasakan seseorang terhadap stimulus tertentu dan tidak dapat dibagi kepada orang lain (Koizer, 2004). Nyeri yang dirasakan oleh setiap orang yang untuk melakukan persalinan lewat jalan operasi sedangkan manajemen nyeri merupakan suatu upaya untuk mengurangi nyeri ke tingkat yang lebih rendah.

Nyeri pada pasien post operasi merupakan nyeri akut yang belum banyak
dimengerti dan selalu dikelola dengan baik. Nyeri akibat operasi ini tidak hanya
memiliki komponen sensori berhubungan dengan rusak jaringan, tetapi juga
dipengaruhi oleh komponen psikososial dari pasien tersebut. Nyeri pada post operasi bisa menetap dan hilang timbul, semakin memburuk jika penderita bergerak, batuk, tertawa atau menarik nafas dalam (Koizer, 2004)
Berdasarkan survey pendahuluan yang pernah peneliti lakukan dirumah sakit umum sembiring Delitua pada bulan Januari sampai Maret tahun 2008 dari 125 ibu post partum dengan riwayat sectio caesaria merasakan sesuatu yang tidak nyaman, merasa nyeri, takut cemas dan sangat sulit untuk diajak melakukan aktivitas yang ringan seperti duduk dan berjalan setelah satu hari pasca operasi. Ibu-ibu belum banyak mengetahui bagaimana mengelola rasa nyeri sehingga ibuibu mengharapkan terapi farmakologi dari pada mengatasi dan mengelola nyeri dengan baik. Berdasarkan latar belakang inilah peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat sectio caesaria di Rumah Sakit Umum Delitua Tahun 2008.

1.2.Tujuan Penelitian
1.2.1. Tujuan Umum
Berdasarkan masalah penelitian yang telah ditetapkan maka tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui pengalaman ibu tentang nyeri post partum
dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun
2008.
1.2.2. Tujuan Khusus
Untuk mengidentifikasi pengalaman ibu tentang nyeri pada Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.

1.3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.

1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian bagi :
1. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan bagi institusi program D-IV Bidan Pendidik di Fakultas Kedokteran USU tentang penelitian kualitatif yang berjudul pengalaman ibu tentang nyeri post partum dengan riwayat Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua Tahun 2008.
2. Bagi Bidan
Sebagai bahan masukan bagi tenaga medis agar dapat mengajarkan dan mengarahkan ibu untuk dapat mengurangi rasa nyeri setelah proses sectio caesaria secara nonfarmakologi.
3. Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam melaksanakan penelitian.
4. Pihak Rumah Sakit
Agar dapat memberikan pelayanan dan perawtan yang intensif pada ibu post partum dengan riwayat sectio caesaria untuk mengurangi rasa nyeri.

Link download KTI lengkap ini
47. Formulir Persetujuan Penelitian Pengalaman Ibu Tentang Nyeri Post Partum Dengan Riwayat Sectio Ceasaria
BAB I
BAB II
BAB III-V

Baca Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...