BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menyusui adalah suatu proses yang alamiah dan merupakan suatu seni yang harus dipelajari kembali, karena menyusui sebenarnya tidak saja memberikan kesempatan kepada bayi untuk tumbuh menjadi manusia yang sehat secara fisik saja tetapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang stabil, perkembangan spiritual yang baik serta perkembangan sosial yang lebih baik (Roesli,2000)
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi, karena ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik secara kualitas maupun kuantitas. ASI sebagai makanan tunggal akan mencukupi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal sampai usia 4 - 6 bulan (Khairuniah , 2004)
Berdasarkan survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) periode 1997- 2003, hanya 14% ibu di Tanah Air yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif kurang dari dua bulan (Media Indonesia, 2008, 1
http://www.mediaindonesia.com, tanggal 15 Oktober 2009)
Selama ini banyak ibu - ibu tidak menyusui bayinya karena merasa ASI-nya tidak cukup, encer, atau tidak keluar sama sekali. Padahal menurut penelitian WHO hanya ada satu dari seribu orang yang tidak bisa menyusui (Widjaja, 2004)
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan berpendapat, faktor sosial budaya ditandai menjadi faktor utama pada pemberian ASI eksklusif pada balita di Indonesia.
Ketidaktahuan masyarakat, gencarnya promosi susu formula, dan kurangnya fasilitas
tempat menyusui di tempat kerja dan publik menjadi kendala utama. Seharusnya
tidak ada alasan lagi bagi seorang ibu untuk tidak menyusui bayinya, faktor sosial
budaya berupa dukungan suami terhadap pemberian ASI eksklusif menjadi faktor
kunci kesadaran sang ibu untuk memberikan gizi terbaik bagi bayinya. Dukungan
suami terhadap ibu untuk menyusui harus ditingkatkan. Keluarga dan masyarakat
juga harus memberikan arahan dan ruang bagi ibu menyusui, karena minimnya
dukungan keluarga dan suami membuat ibu sering kali tidak semangat memberikan
ASI kepada bayinya. Tidak sedikit bayi baru berumur dua bulan sudah diberi
makanan pendamping karena ketidaktahuan ibu terhadap manfaat ASI. Berdasarkan
riset yang sudah dibuktikan di seluruh dunia, ASI merupakan makanan terbaik bagi
bayi hingga enam bulan, dan disempurnakan hingga umur dua tahun (Media
Indonesia, 2008, ¶ 4, http: //mediaindonesia.com,tanggal 15 Oktober 2009)
Faktor pekerjaan juga mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI. Di tempat bekerja banyak kantor atau institusi kerja tidak mendukung program pemberian ASI.
Tidak ada upaya penyiapan ruangan khusus untuk tempat menyusui atau memompa ASI ibu bekerja, bahkan ada yang ditegur oleh atasan karena dianggap terlalu sering memompa ASI di tempat kerja (Widodo, 2006, ¶ 1, http://blogspot.com, tanggal 8 Agustus 2008)
Semakin banyak ibu tidak memberikan ASI pada bayinya semakin menurun angka pemberian ASI terutama ASI eksklusif. Seperti data status kesehatan masyarakat Kota Bandung tahun 2005, ibu yang menyusui bayinya dengan ASI sebanyak 57.974 (65,41%), dan yang diberikan ASI eksklusif dari 0-6 bulan tanpa makanan tambahan sebesar 39,37%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di kota Bandung masih rendah (Profil Dinkes Kota Bandung , 2005).
Berdasarkan dari laporan tahunan Puskesmas Sukawarna(2005), yang berada di Kota Bandung letaknya di Kecamatan Sukajadi, kasus gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sukawarna menunjukan angka peningkatan yaitu dari tahun 2003/2004 sebanyak dua kasus menjadi sembilan kasus pada tahun 2005. Data pemberian ASI ekslusif dari bayi 391 hanya 170 orang (43,25%) diberi ASI secara ekslusif, selebihnya 221 (56,7%) tidak diberi ASI secara ekslusif. Sedangkan angka target cakupan ASI ekslusif yang harus dicapai adalah 80 %. Sehingga terdapat kesenjangan 36,75 % (Handayani, 2006)
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hellen Keller International (2002) di Indonesia, kini rata-rata bayi Indonesia hanya mendapatkan ASI esklusif selama 1,7
bulan, padahal berdasarkan kajian WHO yang dituangkan dalam Kepmen No.450 tahun 2004 menganjurkan agar bayi diberikan ASI Esklusif selama enam bulan (Keller, 2002, ¶1 http://www.menkokesra.go.id, diperoleh tanggal 13 November 2009)
Dari hasil penelitian Arnila A.R (2008) di Lingkungan V Kelurahan Deli Tua Timur terdapat 74,4% ibu- ibu yang masih percaya dan menganggap benar mitosmitos tentang ASI terutama tentang kolustrum yang merupakan ASI kotor yang harus dibuang dan bayi yang diberikan ASI saja akan kekurangan gizi sehingga ibu - ibu memberikan makanan tambahan kepada bayinya.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu pada tanggal 6 November 2009 kepada 10 ibu yang mempunyai bayi di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan, hanya terdapat satu orang yang memberikan ASI Ekslusif. Ibu tidak memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. dengan alasan ibu bekerja, pengalaman ibu yang telah memberikan susu formula kepada anaknya yang terdahulu, dan anjuran orang tua serta merasa ASI nya tidak cukup untuk bayinya
Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi ibu untuk tidak memberikan ASI ekslusif
kepada bayi di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang di atas maka peneliti dapat merumuskan masalah faktor apa yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI ekslusif kepada bayinya di Dusun IX Desa Sei Rotan Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI ekslusif di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi karakteristik responden yang tidak memberikan ASI ekslusif di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
b. Untuk mengidentifikasi pengetahuan, mitos-mitos, sosial budaya, lingkungan, pengalaman ibu tentang menyusui, dukungan keluarga terhadap pemberian ASI, dan pandangan ibu terhadap payudaranya mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI Ekslusif
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Tenaga Kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI ekslusif di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang sehingga tenaga kesehatan dapat membuat perencanaan dalam mengatasi faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI Ekslusif dan pemberian ASI Ekslusif dapat lebih ditingkatkan
2. Masyarakat
Penelitian ini diharapakan dapat memberikan informasi dan perubahan cara penerapan pemberian ASI yang selama ini masih kurang tepat di masyarakat sehingga masyarakat dengan adanya penelitian ini dapat memberikan dukungan bagi ibu-ibu yang menyusui agar tetap memberikan ASI kepada bayinya
3. Peneliti Selanjutnya
Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI Ekslusif sehingga peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berkaitan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI Ekslusif dapat melihat apakah faktor pengetahuan, mitos-mitos, sosial budaya, lingkungan, pengalaman ibu tentang menyusui, dukungan keluarga terhadap pemberian ASI, dan pandangan ibu terhadap payudaranya masih besar pengaruhnya sehingga pemberian ASI Ekslusif tidak dapat dilaksanakan
4. Pendidikan kebidanan
Penelitian ini Diharapkan dapat menjadi informasi yang penting bagi mahasiswa untuk mengetahui faktor-faktor apa-apa saja yang masih mempengaruhi para ibu tidak memberikan ASI Ekslusif sehingga demikian mahasiswa sejak dini dapat memikirkan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi faktor-faktor tersebut dan dapat diaplikasikan langsung ke lapangan praktek atau kerja.
Link download KTI lengkap ini
BAB I
BAB II
BAB III-VI
Free Download KTI - Karya Tulis Ilmiah - Skripsi - Thesis - Desertasi - Artikel Update Setiap Hari. Analysis With SPSS PDF, Health Article, Education Article
22. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif Kepada Bayinya
21. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu Terhadap Status Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 12-24 Bulan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem kesehatan nasional merupakan salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Penurunan insiden penyakit menular telah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lampau di negara-negara maju yang telah melakukan imunisasi dengan teratur. Demikian juga di Indonesia dinyatakan bebas penyakit cacar tahun 1972 dan penurunan insiden beberapa penyakit menular secara mencolok terjadi sejak tahun 1985, terutama untuk penyakit difteri, tetanus, pertusis, campak, dan polio. Bahkan kini penyakit polio tidak ditemukan lagi sejak tahun 1995 dan diharapkan beberapa tahun yang akan datang Indonesia akan dinyatakan bebas polio (Ranuh, et.al. 2008, hlm.1).
Menurunnya AKB (angka kematian bayi) dalam beberapa waktu terakhir
memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan
masyarakat. Penurunan AKB tersebut antara lain disebabkan oleh peningkatan cakupan
imunisasi bayi, peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, penempatan
bidan di desa dan meningkatkan proporsi ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi
(Depkes, 2004).
Ibrahim (1991, dalam Reza,2006, hlm.4) mengatakan bila imunisasi dasar dilaksanakan dengan lengkap dan teratur, maka imunisasi dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian balita sekitar 80-95%. Teratur berarti mentaati jadwal dan frekuensi imunisasi sedangkan imunisasi dasar lengkap adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. Imunisasi dasar yang tidak lengkap, maksimum hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. Sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi. Profil epidemiologis di Indonesia sebagai gambaran tingkat kesehatan di masyarakat masih memerlukan perhatian khusus. Dengan cakupan imunisasi : BCG 85%, DPT 64%, Polio 74%, HB1 91%, HB2 84, 4%, HB3 83,0% (Ranuh, 2008, hlm.3). Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2009 menunjukkan bahwa cakupan kumulatif imunisasi dari 18 puskesmas dengan sasaran 6.782, cakupan BCG 5.663 (83,50%), DPT1+HB1 : 6.062 (89,38%), DPT2+HB2 : 5.646 (83,25%), Polio 3 : 5.665 (83,53%), Hepatitis B3 : 3.634 (53,58%), dan Campak : 5.414 (79,83%) (Dinkes Taput, 2009).
Dari hasil data survei awal cakupan kumulatif imunisasi di Kecamatan Sipahutar
Januari - Agustus 2010 dari 23 desa yang ada, jumlah sasaran 529, cakupan BCG : 309
(58,4%), Hepatitis B (0-7 hari) : 175 (33,1%), DPT+HB 1 : 333 (62,9%), DPT+HB 2 :
316 (59,7%), DPT+HB 3 : 275 (52%), Polio 1 : 381 (72,0%), Polio 2 : 355 (67,1%),
Polio 3 : 294 (55,6%), Polio 4 : 268 (50,7%), dan Campak : 259 (49%) (Subdin P2P &
PL Dinkes Taput, 2010).
Sedangkan Desa Siabal-abal II Januari-Agustus 2010 tercatat bahwa dari 40 sasaran, cakupan imunisasi masih rendah yaitu cakupan BCG 13 (32,5%), Hepatitis B (0-7 hari) : 5 (12,5%), DPT+HB 1 : 18 (45%), DPT+HB 2 : 11 (27,5%), DPT+HB 3 : 13 (32,5%), Polio 1 : 20 (50%), Polio 2 : 18 (45%), Polio 3 : 10 (25%), Polio 4 : 9 (22,5%), dan Campak : 14 (35%) (Subdin P2P & PL Dinkes Taput, 2010).
Wardhana (2001, dalam Lienda, 2009, hlm.12) mengatakan peran ibu pada program imunisasi ibu sangatlah penting karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak
berkaitan erat dengan faktor ibu. Rendahnya cakupan imunisasi disebabkan beberapa
faktor. Ibu yang berusia ≥ 30 tahun cenderung untuk tidak melakukan imunisasi lengkap dibanding ibu yang berusia < 30 tahun, pendidikan tinggi berkaitan erat dengan pemberian imunisasi anak.
Streatfield (1986, dalam Reza, 2006, hlm.26) ibu yang bekerja sebagai bertani atau buruh status imunisasi anaknya lebih rendah dibandingkan dengan anak yang ibunya sebagai pegawai negeri atau pemilik toko.
Semakin banyak jumlah anak terutama ibu yang masih mempunyai bayi yang merupakan anak ketiga atau lebih akan membutuhkan banyak waktu untuk mengurus anak-anaknya tersebut sehingga semakin sedikit ketersediaan waktu bagi ibu untuk mendatangi tempat pelayanan imunisasi (Reza, 2006).
Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian yang berjudul ’’Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu Terhadap Status Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 12-24 Bulan di Desa Siabal-abal II Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2011” sangat penting untuk diteliti.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah apakah ada hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi ibu terhadap status imunisasi dasar pada bayi usia 12-24 bulan di Desa Siabal-abal II Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2011.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu terhadap status imunisasi dasar pada bayi usia 12-24 bulan di Desa Siabal-abal II Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan faktor usia ibu terhadap status imunisasi bayi.
b. Mengetahui hubungan faktor pendidikan ibu terhadap status imunisasi bayi.
c. Mengetahui hubungan faktor pekerjaan ibu terhadap status imunisasi bayi.
d. Mengetahui hubungan faktor jumlah anak ibu terhadap status imunisasi bayi.
e. Mengetahui hubungan faktor pengetahuan ibu terhadap status imunisasi bayi.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil dari penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan kepustakaan di D-IV Bidan Pendidik USU dan dapat dijadikan sebagai bahan penelitian selanjutnya.
2. Bagi Peneliti
Menambah pengalaman bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat, juga berguna sebagai masukan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ibu terhadap imunisasi kepada masyarakat nantinya.
3. Responden
Sebagai bahan wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya imunisasi dasar pada bayi.
Link download KTI lengkap ini
BAB I
BAB II
BAB III-VI
20. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Hamil Dalam Kunjungan K4
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam kenyataannya, dari beberapa survei dan data statisik pelayanan kesehatan ibu hamil menunjukkan bahwa cakupan kunjungan ibu hamil di Indonesia masih rendah termasuk cakupan K4 (Istiarti, 2000). Departemen kesehatan RI pada tahun 2004 melaporkan bahwa wanita hamil yang mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan selama kurun kehamilan adalah sebagai berikut: yang berkunjung sekali sebanyak 49% dan yang berkunjung empat kali hanya 34%. Rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, sikap, jarak puskesmas, keterpaparan media, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan (Salmah, 2006).
Kunjungan ibu hamil di Kota Medan berdasarkan data Profil Kesehatan Kota Medan Tahun 2005 menunjukkan bahwa dari jumlah 53.031 ibu hamil, Kunjungan K4 tercatat sebanyak 47.678 ibu hamil (89,91%) (Dinkes Kota Medan, 2006).
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai periode bulan Januari - Agustus 2007 kunjungan K4 ibu hamil ke fasilitas kesehatan yaitu 52,3% (8.572 dari 16.391 orang), sedangkan berdasarkan data di Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi untuk periode yang sama Kunjungan K4 ibu hamil sebesar 43,8% (185 dari 424 orang) (Puskesmas Naga Kasiangan, 2007).
Dari data-data yang disajikan di atas, terlihat bahwa kunjungan K4 di Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi masih jauh dari target cakupan kunjungan K4 secara nasional yaitu sebesar 95%.
Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan (Depkes RI, 2005).
Kunjungan antenatal untuk pemantauan dan pengawasan kesejahteraan ibu dan bayi perlu dilakukan minimal empat kali selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut : kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan, kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke-36) dua kali kunjungan (Salmah, 2006)
Melakukan kunjungan saat hamil secara teratur minimal kunjungan K4 akan menyehatkan ibu dan bayi yang dikandungnya. Dalam pemeriksaan kehamilan tersebut jika ada tanda, keluhan, atau gangguan kehamilan baik pada ibu maupun janin dapat segera diketahui dan dilakukan tindak lanjut.
Pemeriksaan kehamilan dilakukan sesuai dengan standard pelayanan antenatal yang meliputi 7T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan, test PMS, dan tanya jawab (Nadesul, 2005).
Kunjungan kehamilan hingga K-4 akan menurunkan risiko terjadinya anemia (Hb kurang dari 8 gr%), tekanan darah tinggi (Sistole >140 mmHg, diastole >90 mmHg), oedema yang nyata, eklampsia, perdarahan per vaginam, ketuban pecah dini, letak lintang / sungsang, infeksi, persalinan prematur, janin yang besar, dan riwayat obstetri yang buruk. Bila faktor risiko tersebut tidak ditangani maka dapat menyebabkan kematian, baik pada ibu maupun pada bayi. Peningkatan kualitas kesehatan ibu hamil, dapat dilakukan dengan melakukan perubahan perilaku ibu selama hamil (Depkes
RI, 2005).
Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku ibu hamil dalam melakukan kunjungan K-4 meliputi tiga faktor yaitu: faktor yang mempermudah (predisposing factor), yang mencakup pengetahuan, sikap; faktor yang mendukung (enabling factor) yaitu jarak dengan fasilitas kesehatan, keterpaparan media; dan faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu dukungan petugas kesehatan, keluarga dan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003)
Dari studi pendahuluan yang penulis lakukan pada awal bulan September 2007 mendapati bahwa beberapa ibu hamil pada trimester III melakukan pemeriksaan ke dukun bayi. Melihat kenyataan tersebut, penulis berminat untuk melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam kunjungan K4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008.
1.2. Pertanyaan Penelitian
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ibu hamil dalam kunjungan K-4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam kunjungan K-4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008.
1.3.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui faktor yang mempermudah (predisposing factor) kunjungan K-4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008.
2. Untuk mengetahui faktor pendukung (enabling factor) kunjungan K-4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008.
3. Untuk mengetahui faktor pendorong (reinforcing factor) kunjungan K-4 di wilayah kerja Puskesmas Naga Kasiangan Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa kalangan yaitu :
1. Bagi masyarakat, sebagai masukan khususnya pada ibu hamil trimester III agar melakukan kunjungan pada pelayanan kesehatan.
2. Bagi puskesmas, dengan adanya penelitian ini dapat dipergunakan sebagai masukan untuk meningkatkan cakupan kunjungan K4 di wilayah kerjanya.
3. Bagi institusi pendidikan, sebagai bahan bacaan dan referensi di Perpustakaan D-IV Program Bidan Pendidik Universitas Sumatera Utara dan sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya.
4. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan penulis dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah.
Link download KTI lengkap ini
BAB I
BAB II
BAB III
19. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bidan Praktek Swasta dalam Pengaplikasian 58 Langkah Asuhan Persalinan Normal
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Persalinan merupakan proses alamiah yang harus dilewati oleh setiap wanita hamil. Di sini peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan untuk mendeteksi adanya komplikasi disamping memberikan bantuan dan dukungan kepada ibu bersalin, tidak sedikit ibu bersalin dan bayi mengalami trauma karena penanganan yang kurang baik Saifuddin, 2009, hal.100). Angka kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 5-10 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan di negara-negara sedang berkembang berkisar antara 750-1000 per 100.000 kelahiran hidup. Faktor penyebab kematian maternal tersebut adalah (a) faktor reproduksi(b)pelayanan kesehatan dan(c)sosial ekonomi (Wiknjosastro, 2005, hal. 23).Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan tertinggi di ASEAN yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup, penurunan AKI adalah program prioritas Indonesia. Oleh karena itu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas dekat dengan masyarakat yang difokuskan pada tiga pesan kunci Making Pregnancy Safer (MPS), yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran merupakan salah satu upaya dalam penurunan angka kematian tersebut (Depkes, 2002, hal. 2). Pada tahun 2000, badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) mulai memperkenalkan Asuhan Persalinan Normal (APN) melalui organisasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). APN diperkenalkan pada tahun 2002-2003 di Sumatera Utara, di mana fokus utama APN adalah mencegah terjadinya komplikasi yang merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi, sehingga akan mengurangi luka pada jalan lahir yang sangat signifikan yaitu 80% dari 1000 persalinan. Pertolongan persalinan secara APN adalah dengan menerapkan asuhan persalinan yang bersih, aman, tepat waktu dan alamiah serta melakukan bounding attachment (Depkes, 2006, hal. 3). Standar pelayanan/asuhan kebidanan di atas merupakan pedoman bagi bidan di Indonesia dalam melaksanakan tugas, peran dan fungsinya sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang diberikan. Standar ini dilaksanakan oleh bidan di setiap tingkat pelayanan kesehatan baik di rumah sakit, puskesmas maupun tatanan pelayanan kesehatan lain di masyarakat. Standar APN merupakan bagian dari standar pelayanan/asuhan kebidanan (Yanti, & Nurul, 2010, hal. 118). Namun pelaksanaan APN ini belum diterapkan oleh bidan secara menyeluruh. Dalam penelitian Maria Wattimena (2008, hal. 5) memperoleh hasil prasurvei data pada Januari 2007 melalui pengamatan dengan menggunakan checklist terhadap 12 orang bidan sebagai tenaga pelaksana pelayanan di RSUD Kabupaten Sorong baru 2 orang bidan (16,6%) yang melaksanakan pelayanan persalinan dengan penerapan standar asuhan persalinan normal walaupun belum secara maksimal, sedangkan sebanyak 10 orang (83,3%) belum melaksanakan pelayanan persalinan sesuai dengan standar APN. Sedangkan dalam penelitian Nuriana di Kabupaten Langkat (2008, hal. 43), menjelaskan bahwa bidan yang berpendidikan D-III Kebidanan, hanya 40% bidan praktek swasta yang sudah melaksanakan APN dengan baik. Dan dijelaskan lagi bahwa hanya sebagian besar bidan yang berpengetahuan baik yang menerapkan APN dengan baik sedangkan pengalaman kerja tidak menunjukkan pengetahuan baik apalagi dalam penerapan APN dengan baik dan tepat. Diduga hal ini disebabkan karena banyaknya langka-langkah (58 langkah) yang harus dilakukan selain itu juga berkaitan dengan peralatan APN yang tergolong mahal. Dari hasil observasi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti dari 30 bidan praktek swasta lulusan D-III Kebidanan dan yang sudah pernah ikut pelatihan APN di Kecamatan Percut Sei Tuan menunjukkan bahwa hanya 6 bidan yang melaksanakan pertolongan persalinan sesuai dengan standar APN yaitu dengan melakukan pendekatan asuhan yang tepat sesuai 58 langkah standar APN dan 4 bidan belum pernah ikut pelatihan APN dan berpendidikan D-I Kebidanan (Data primer pada Februari-Mei 2011). Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Bidan Praktek Swasta (BPS) dalam pengaplikasian 58 langkah Asuhan Persalinan Normal (APN) sangat penting untuk diteliti.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah : “Faktor-faktor Apa Sajakah yang Mempengaruhi Bidan Praktek Swasta (BPS) dalam Pengaplikasian 58 Langkah Asuhan Persalinan Normal (APN)?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Bidan Praktek Swasta (BPS)dalam pengaplikasian 58 langkah Asuhan Persalinan Normal (APN).
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui faktor pengetahuan bidan mempengaruhi 58 langkah Asuhan Persalinan Normal.
b. Mengetahui faktor sikap bidan mempengaruhi Persalinan Normal.
c. Mengetahui faktor motivasi bidan mempengaruhi Persalinan Normal.
D. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan KebidananDiharapkan kepada para bidan dengan adanya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam menerapkan standar APN kepada ibu-ibu bersalin sehingga tingkat morbiditas dan mortalitas maternal menurun.
2. Perkembangan Ilmu Kebidanan Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar melengkapi penelitian ini karena ilmu tentang kesehatan terus menerus berkembang. Sehingga tercapai ilmu pengetahuan khususnya tentang asuhan kebidanan yang up to date.
Link download KTI lengkap ini
BAB I
BAB II
BAB III-VI
18. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akseptor KB tidak Memilih Implant Sebagai Alat Kontrasepsi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah utama yang dihadapi negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia adalah masih tingginya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). Secara sederhana dapat disebutkan bahwa penduduk akan terus bertambah selama jumlah kelahiran melebihi dari jumlah yang meninggal ditambah dengan migrasi masuk. (BKKBN, 2004)
Indonesia adalah negara yang berkembang. Sebagai salah satu negara
berkembang Indonesia juga tidak luput dari masalah laju pertumbuhan penduduk.
Dari hasil sensus penduduk tahun 1990 tercatat jumlah penduduk Indonesia
adalah 178.500.000 jiwa, kemudian pada sensus penduduk tahun 2000 Indonesia memiliki 205.843.000 jiwa dan pada sensus penduduk terakhir tahun 2004 jumlah penduduk Indonesia meningkat menjadi 217.854.000 jiwa. Penyebaran jumlah penduduk tidak merata, penduduk Inonesia banyak berdiam di Pulau Jawa dan Sumatra. (BPS, 2004)
Khusus untuk pulau Sumatera, Riau tercatat sebagai provinsi memiliki
jumlah penduduk terpadat ke empat. Pada tahun 2003 penduduk provinsi Riau
4.413.432 jiwa dan meningkat tajam tahun 2004 menjadi 4. 491.393 jiwa. Ini disebabkan Riau berkembang pesat sebagai provinsi yang memiliki industriindustri dan pabrik-pabrik besar. (BPS, 2004)
Apalagi Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi Riau yang kini berkembang
menjadi pusat bisnis, pendidikan dan budaya sehingga kota pekanbaru memiliki
penduduk terpadat di provinsi Riau dengan jumlah penduduk 666.902 jiwa pada
sensus tahun 2003 dan meningkat menjadi 693.912 jiwa pada sensus tahun 2004.
(BPS, 2004)
Besarnya jumlah penduduk dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya budaya, pendidikan, perkawinan pertama, menggunakan atau tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Berdasarkan Visi dari program keluarga berencana (KB) yaitu
mewujudkan keluarga berkualitas pada tahun 2015 yang diwujudkan melalui keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri mempunyai jumlah anak yang ideal, berwawasan, bertanggung jawab, harmonis, bertaqwa kepada Tuhan YME, sedang Misinya adalah pemberdayaan dan pergerakkan masyarakat untuk membangun keluarga kecil berkualitas menggalang kemitraan dalam peningkatan kesejahteraan kemandirian, ketahanan keluarga dan berkualitas perusahaan pelayanan, meningkatkan upaya pemberdayaan perempuan dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan gender dalam pelaksanaan program KB Nasional, Mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia potensial sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut. (BKKBN 2002)
KB adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan meggunakan kontrasepsi. Kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi, alat atau obat-obatan. Salah satu alat kontrasepsi metode hormonal adalah implant. (Rustam, 1998)
Implant adalah salah satu kontrasepsi yang memiliki tingkat efektifitas
yang cukup tinggi, metode kontrasepsi hormonal degan metode jangka panjang
5 tahun dan bersifat reversible dimana efek perdarahan lebih ringan tidak
menaikkan tekanan darah resiko terjadi kehamilan ektopik lebih kecil
dibandingkan dengan alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) serta efektif
di gunakan pada wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung estrogen. Maka dengan kondisi tersebut seharusnya minat akseptor dengan pilihan alat kontrasepsi ini banyak. (Hanifa, 1999)
Implant adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif; hampir 100% efektif mencegah kehamilan. Penelitian (Silvin, 1988; Darney et al,1990) menunjukkan bahwa pada tahun ke-1 dan ke-2, terjadi sebanyak 0,2 kehamilan per 100 wanita selama tahun pemakaian. Pada tahun ke-3, angka kehamilan pada pemakaian implant adalah 0,9 per 100 wanita selama tahun pemakaian, dan selama tahun ke-4 dan ke-5, angka kehamilan 0,5 dan 1,1 per 100 wanita selama tahun pemakaian. (Everett, 2008) Riset menunjukkan bahwa 80% siklus menstruasi wanita kembali ke normal atau ke pola sebelum uji coba dalam 3 bulan (Edwards dan Moore, 1999) yang menggambarkan reversibilitas implant.
Data yang di peroleh dari dinas kesehatan Pekanbaru tahun 2007,
Pasangan usia subur (PUS) 124.345 dengan jumlah akseptor KB aktif 87.531
orang, dimana akseptor KB yang menggunakan Metode Operatif Pria/Metode
Operatif Wanita berjumlah 2466 orang (2,56%). Implant 4.520 orang (5,16%),
suntik 35.662 orang (40,74%), IUD 14.316 orang (16,36%), pil 26.512 orang 30,29%). Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa jumlah akseptor KB implant lebih sedikit dibandingkan dengan alat kontrasepsi suntik, IUD, dan pil.
Bedasarkan data yang diperoleh dari puskesmas melur tahun 2006, peserta
KB aktif berjumlah 1213 orang, yang mana tidak ada akseptor yang memilih
implant sebagai alat kontrasepsi di Puskesmas melur (0%), dan tahun 2007
akseptor KB berjumlah 1036 orang, yang mana pada tahun ini juga tidak ada yang mengunakan implant sebagai alat kontrasepsi (0%) sedangkan fasilitas implant tersedia di puskesmas melur.
Sebagai alat kontrasepsi, mengingat keuntungan yang diperoleh yaitu efek perdarahan lebih ringan dan terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan dengan alat kontrasepsi lain seperti IUD dan KB suntik, angka tersebut sangat bertolak belakang.
Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang ”FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
AKSEPTOR KB TIDAK MEMILIH IMPLANT SEBAGAI ALAT
KONTRASEPSI DI PUSKESMAS MELUR PEKANBARU TAHUN 2008”.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Apakah faktor- faktor yang mempengarui akseptor KB tidak memilih
implant sebagai alat kontrasepsi di puskesmas Melur Kecamatan Sukajadi
tahun 2008.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Akseptor KB tidak memilih KB implant sebagai alat kontrasepsi di wilayah puskesmas melur.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih implant sebagai alat kontrasepsi ditinjau dari segi usia
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih implant sebagai alat kontrasepsi ditinjau dari segi pendidikkan
c. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih Implant sebagai alat kontrasepsi ditinjau dari segi Ekonomi
d. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih Implant sebagai alat kontrasepsi ditinjau dari segi pengetahuan
e. Untuk mengetahui faktor-faktor yan mempengaruhi akseptor KB tidak memilih implant sebagai alat kontrasepsi ditinjau dari segi sosial budaya
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Akseptor KB
Sebagai sumber informasi akseptor KB tentang alat kontrasepsi implant serta dapat menambah minat akseptor terhadap KB implant.
1.4.2 Bagi Puskesmas Melur Pekanbaru
Hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan menjadi bahan bacaan bagi puskesmas sehingga mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor tidak memilih implant.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan bahan bacaan yang akan melakukan penelitian berikutnya.
1.4.4 Bagi Bidang Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi panduan atau bahan perbandingan untuk melakukan penelitian yang akan datang demi.
Link download KTI lengkap ini
18. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akseptor KB tidak Memilih Implant Sebagai Alat Kontrasepsi
BAB I
BAB II
BAB III-VI
17. Efektifitas PIK-KRR terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak konferensi internasional tentang kependudukan atau pembangunan International Conferences Population and Development (ICPD) tahun 1994, masyarakat
secara konsisten mengukuhkan hak-hak remaja akan informasi kesehatan reproduksi
remaja (KRR). Di Indonesia sejak tahun 2004-2009 pemerintah Indonesia telah
mengangkat KRR menjadi program nasional yang tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah RPJM 2004-2009 (Muadz, 2008, hlm.17).
Tingkat pengetahuan remaja di Indonesia tentang kesehatan reproduksi masih rendah, berdasarkan hasil Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKKRI) tahun 2002-2003 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan dasar penduduk usia 15-24 tahun mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi remaja relatif masih rendah.
Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah yang berusia 10-24 tahun. Di Indonesia berjumlah sekitar 64 juta jiwa, hasil survey tahun 2007. Hasil penelitian sejumlah organisasi juga menunjukkan perilaku remaja di Indonesia sudah sangat mengejutkan. Seperti penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 bahwa 52 % remaja medan melakukan hubungan seks pranikah.
Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), akibat informasi
yang diterima remaja dari berbagai media massa, memperbesar kemungkinan remaja
melakukan praktek seksual yang tidak sehat, perilaku pranikah, dengan satu atau berganti pasangan. Saat ini, kekurangan informasi yang benar tentang masalah seks akan memperkuat kemungkinan remaja salah paham yang diambil dari media massa dan teman sebaya. Akibatnya, kaum remaja masuk ke kaum berisiko melakukan perilaku berbahaya untuk kesehatannya (Acis, 2007, pendidikan seks pada remaja
http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/screagh.pdf diperoleh tanggal 4
desember 2009).
Menurut Ramonasari (1994 dalam Acis 2007), mengemukakan proses
perkembangan remaja yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, takut, malu, merasa lain, dan remaja menjadi bingung karena mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dan informasi yang jelas.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryono, 2003-2004 yang dilakukan terhadap remaja mengatakan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan responden yang sangat rendah yaitu sekitar 75 %.
Program kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu program pokok
pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM 2004-2009. Salah satu sasaran
strateginya yang harus dicapai pada tahun 2009, diantaranya sasaran strategis yang
berkaitan erat dengan program kesehatan reproduksi remaja yang ditingkatkan melalui
PIK-KRR (Pusat Informasi Dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja). Yang mana
program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku
positif remaja tentang kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi. Setiap kecamatan
memiliki PIK-KRR yang aktif. Di mana saat ini jumlah PIK-KRR yang ada diseluruh
Indonesia adalah sebanyak 2.773 PIK-KRR yang didirikan di sekolah-sekolah sebanyak
55%,di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 15% dan 35% yang didirikan di Karang
Taruna (Muadz, 2008, hlm.9).
PIK-KRR adalah suatu wadah kegiatan program kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja serta kegiatan lain.
Remaja mempunyai masalah yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi
yang dialami oleh remaja. Masalah yang menonjol di kalangan remaja misalnya masalah
seksualitas (kehamilan tak diinginkan, aborsi), terinfeksi Penyakit Menular Seksual, HIV dan AIDS, penyalahgunaan Napza dan sebagainya. Salah satu upaya yang mengikuti
untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui PIK KRR (Muadz, 2008, hlm.1).
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Syarifah terhadap remaja dan orang tua yang bermukim didaerah elit dan kumuh di Kotamadya Medan pada tahun 1997 hasilnya lebih dari separuh responden remaja didaerah kumuh (6,27%), elite (48%) kontak dengan Badan Konseling Remaja. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua responden membutuhkan informasi tentang kesehatan reproduksi.
Berdasarkan data dan informasi Centra Medika Remaja dan Dinas Kesehatan Kota Medan pada tahun 2003, 89,7% remaja kurang memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi remaja.
Berdasarkan penelitian Meliyandri, yang dilakukan terhadap remaja SMU yang mengikuti PIK-KRR yang dilakukan pada tahun 2008 di Daerah Bantul, menyatakan bahwa ada pengaruh program PIK KRR terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja.
Dari hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Kantor
Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kota Medan menyatakan bahwa di
Kota Medan terdapat 23 buah PIK-KRR yang tersebar diseluruh Kota Medan yang
terbentuk di Karang Taruna, sekolah-sekolah, namun tidak berjalan sesuai dengan tujuan programnya sehingga walaupun telah memiliki PIK-KRR pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi juga tidak mengalami perubahan. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Efektifitas PIK-KRR Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMU Swasta AL-Wasliyah 1 Medan” .
B. Perumusan Masalah
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu
maka peneliti masih menemukan masih banyak remaja yang mempunyai pengetahuan
yang kurang meskipun telah mengikuti program PIK-KRR. Jadi peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang “ Efektifitas Program PIK-KRR Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMU Swasta Al-Wasliyah 1 Medan”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas PIK-KRR terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja di SMU Swasta Al-Wasliyah 1 Medan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan kesehatan reproduksi remaja sebelum dilakukan PIK-KRR di SMU Swasta Al-Wasliyah 1 Medan.
b. Mengidentifikasi pengetahuan kesehatan reproduksi remaja setelah dilakukan PIK-KRR di SMU Swasta Al-Wasliyah 1 Medan.
c. Membandingkan pengetahuan siswa tentang kesehatan reproduksi sebelum dan setelah mengikuti PIK-KRR di SMU Swasta Al-Wasliyah 1 Medan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi Pelayanan Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi kebidanan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja.
2. Bagi Pendidikan D IV Kebidanan
Sebagai wadah bagi pendidikan kebida khususnya pada remaja bahwa ada PIKKRR merupakan wadah yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja.
Link download KTI lengkap ini
17. Efektifitas PIK-KRR terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja
BAB I
BAB II
BAB III-V
16. Efektivitas Metode Kanguru Mengurangi Rasa Nyeri Pada Penyuntingan Intramuskuler Pada Bayi Baru Lahir
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Nyeri adalah suatu mekanisme produktif bagi tubuh, rasa nyeri tubuh bila ada
jaringan tubuh yang rusak, dan hal ini akan menyebabkan seseorang bereaksi dan
mengatakan nyeri, pengungkapan rasa nyeri bermacam-macam, ada yang menangis,
berteriak dan ada juga yang diam sambil menggigit suatu benda. Untuk membantu
mengurangi rasa nyeri biasanya dengan mengalihkan konsentrasi atau perhatian terhadap perasaan nyeri, ada yang tarik nafas, dan ada yang diajak bicara, ada yang dielus atau dimasase. Seperti halnya yang sering dialami oleh anak, bayi atau neonatus (bayi baru lahir). Dalam hal ini bayi baru lahir belum bisa mengungkapkan rasa nyeri yang ia rasakan, hanya ibu dan orang-orang terdekatnya yang dapat melihat dan mengerti sejauhmana rasa sakit yang bayi rasakan, dari jenis tangisan dan gerakan si bayi (Woong, 2008, hal. 302).
Salah satu upaya untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh bayi baru
lahir adalah dengan memberikan asuhan kebidanan yaitu dengan metode kanguru, yang
mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi baru lahir, metode kanguru adalah metode
utama dalam implementasi proses kebidanan dalam membantu mengurangi rasa nyeri
yang dialami oleh bayi baru lahir, misalnya dalam pemberian suntikan intra muskuler
(Addy, 2009, 1, http://www.addy.com, diperoleh tanggal 10 November 2009).
Dari hasil penelitian Zahra Kashaninia (2008) dilakukan penelitian dari 100
orang bayi sehat yang diperoleh secara random, pada kelompok intervensi dilakukan
metode kanguru 10 menit di mana kontak langsung pada kulit ibu dan bayi yang dapat memberikan rasa nyaman, kehangatan, mengurangi stres pada bayi baru lahir dan
mengurangi cemas pada ibu. Metode tersebut dilakukan sebelum dan sesudah
penyuntikan dan bayi yang mendapat intervensi dapat mengurangi rasa sakit,
dibandingkan dengan kelompok kontrol (fisajedi@uswr.ac.ir, Periodicals Inc).
Metode kanguru yang tepat dapat mempengaruhi pelaksanaan pelayanan
kebidanan dan merupakan proses yang dapat melancarkan pencapaian tujuan. Untuk
mewujudkan terlaksananya metode kanguru secara efektif, diperlukan adanya kerja
sama, kesadaran diri yang tinggi dari bidan dan ibu si bayi baru lahir.Bidan harus
mampu mengajarkan metode kanguru yang dapat menimbulkan perubahan perilaku bagi
ibu, untuk mengurangi rasa nyeri yang dialami oleh bayi baru lahir apabila diberi
suntikan secara intra muskuler. Dan menurut penelitian dari Fakultas Kedokteran
Universitas Negeri Pajajaran serta Depkes dan Kesos secara umum wanita pedesaan
menerima metode kanguru, dan dianjurkan semua ibu melaksanakannya dan
memperoleh dukungan dari keluarga. Bayi baru lahir, yang membuat bayi lebih tenang,
merasa diperhatikan dan merasa aman dan nyaman berada didekapan ibunya
(www.perinasia-metode-kanguru-2009)
Metode kanguru memegang peranan penting dalam memberikan asuhan
kebidanan dan membantu pasien dalam mengatasi rasa nyeri. Kemampuan ibu dalam
menggunakan metode kanguru tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, pengalaman
seseorang untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Pada bayi baru lahir suntikan intra muskuler tersebut menyebabkan rasa nyeri.Yang dapat dilihat oleh orang- orang terdekat pada bayi, dari respon tiba-tiba menangis, meringis dan gerakan tubuh, pernafasan lebih cepat, muka pucat dan otot mengeras. Respon yang diberikan bayi baru lahir setelah penyuntikan intra muskuler mengakibatkan beberapa ibu merasa cemas, takut dan ikut merasakan sakit yang dirasakan bayi, sehingga ibu menolak supaya tidak disuntikkan bayinya, walaupun itu suatu kebutuhan bayi baru lahir. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian metode kanguru yang dapat mengurangi rasa nyeri pada penyuntikan intra muskuler pada bayi baru lahir.
Berdasarkan hasil wawancara langsung, tgl 15 Oktober 2009, kepada 10 orang bidan dan 15 orang ibu yang memiliki bayi baru lahir di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan bagian Perinatologi ditemukan adanya ketidaktahuan dari ibu tentang efektifitas dari metode kanguru dalam mengurangi rasa nyeri.pada penyuntikan intra muskuler. Dalam tindakan kebidanan ataupun keperawatan dalam merawat dengan metode kanguru diharapkan mampu memecahkan masalah yang dialami bayi baru lahir dalam pemberian suntikan intra muskuler, maka dengan pemberian asuhan dengan metode kanguru kita membentuk suatu kerja sama yang baik, memelihara kasih sayang dan menyebarkan pengetahuan serta melestarikan metode tersebut.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas yang menjadi rumusan masalah penelitin ialah: Apakah metode kanguru dapat mengurangi nyeri pada penyuntikan intra muskuler pada bayi baru lahir?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi efektivitas metode kanguru dalam mengurangi rasa nyeri pada pemberian suntikan intra muskuler pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi rasa nyeri setelah penyuntikan intra muskuler pada bayi baru lahir pada kelompok kontrol.
2. Mengidentifikasi rasa nyeri karena penyuntikan intra muskuler sesudah di lakukan metode kanguru, pada kelompok intervensi.
3. Membandingkan perbedaan rasa nyeri setelah penyuntikan intra muskuler pada kelompok kontrol dan intervensi
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi pelayanan kebidanan
Hasil penelitian ini merupakan fakta yang dapat dijadikan masukan pada praktek kebidanan diberbagai tatanan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit maupun praktek kebidanan yang dapat dijadikan intervensi kebidanan yang efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada penyuntikan intra muskuler pada bayi baru lahir
2. Bagi penelitian kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber data atau informasi bagi pengembangan penelitian kebidanan berikutnya terutama yang berhubungan dengan metode kanguru yang dapat mengurangi nyeri pada suntikan intra muskuler pada bayi baru lahir.
Link download KTI lengkap ini
16. Efektivitas Metode Kanguru Mengurangi Rasa Nyeri Pada Penyuntingan Intramuskuler Pada Bayi Baru Lahir
BAB I
BAB II
BAB III-V
