BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Di Indonesia imunisasi merupakan sorotan utama dalam upaya program pencegahan dan pemberantasan penyakit infeksi yang saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan berarti sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tertentu. Dari hasil studi pendahuluan didapat dugaan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan di Puskesmas Doko, Blitar.
Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO) setiap tahunnya jumlah bayi yang diimunisasi terus meningkat dari hanya 5% pada 1974 menjadi 78% bayi pada 1998. Dari data di Puskesmas Doko Blitar, diketahui bahwa mulai tanggal 2 Agustus sampai tanggal 25 Oktober 2006 terdapat ibu-ibu membawa anaknya untuk diimunisasi di puskesmas Doko sebanyak 82 anak. Sedangkan mulai dari tanggal 2 Februari 2007 sampai tanggal 25 Oktober 2007 dengan jumlah 357 anak, jadi dari keseluruhan ini dapat disimpulkan bahwa ibu-ibu membawa anaknya rata-rata tiap bulan kurang lebih jumlahnya 45 anak.
Proses penyakit dapat masuk dalam tubuh sehingga mengalami sakit. Berbagai penyakit yang dapat timbul akibat tidak diimunisasi antara lain penyakit TBC, Campak, Polio, Batuk rejan, Tetanus, Hepatitis dan lain sebagainya sehingga bisa menyebabkan penyakit berat yang membawa kecacatan pada anak bahkan berakhir dengan kematian. Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit adalah dengan jalan memberi kekebalan atau imunisasi. Dengan imunisasi ini tubuh akan membentuk zat antibodi, sehingga anak tersebut kebal terhadap penyakit. Imunisasi diberikan pada anak untuk melindunginya dari penyakit-penyakit berbahaya, yang sering kali dapat mengakibatkan cacat atau kematian. Pemberian imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit, meskipun spesifik dan non spesifik terhadap berbagai penyakit (http:// vinadanvani.wordpress.com/04/08/2008)
Sikap atau respon positif orang tua (dalam hal ini terutama adalah ibu) dalam mengimunisasi anaknya akan mendukung untuk memiliki pengaruh pada pertumbuhan perkembangan anak, yaitu dapat mempengaruhi kualitas anak secara optimal. Dengan memberikan motivasi dan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pentingnya imunisasi bagi anaknya, maka orang tua akan memiliki bekal dalam merawat serta mengasuh anaknya, dengan dasar-dasar pendidikan kesehatan akan mampu menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anaknya (Purwanto, 1999: 142)
Berdasarkan hal tersebut diatas dan mengingat pentinganya peran orang tua dalam pertumbuhan anak, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan di Puskesmas Doko, Blitar.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan di Puskesmas Doko, Blitar ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan di Puskesmas Doko, Blitar ?
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan Puskesmas Doko, Blitar
b. Mengidentifkasi usia ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9 bulan Puskesmas Doko, Blitar
c. Mengidentifkasi sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1 -9 bulan Puskesmas Doko, Blitar.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi responden
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat betapa pentingnya program imunisasi bagi anak.
1.4.2 Bagi institusi kesehatan
Untuk mengetahui secara langsung bagaimana pentingnya imunisasi bagi balita.
1.4.3 Bagi pendidikan
Sebagai referensi dalam mengembangkan Ilmu Keperawatan khususnya yang menyangkut pelayanan yang berhubungan dengan program-program mengenai imunisasi.
1.4.4 Bagi petugas kesehatan
Hasil penelitian dapat dipakai untuk meningkatkan pengetahuan terutama tentang pengetahuan memberikan informasi dan dorongan pada masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
1.5 Batasan peneliti selanjutnya
Sebagai bahan masukan dan informasi awal bagi peneliti yang lain sehingga melakukan penelitian yang dibutuhkan di masyarakat pada umumnya dalam pemberian imunisasi.
Link download KTI lengkap ini
19.hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
Free Download KTI - Karya Tulis Ilmiah - Skripsi - Thesis - Desertasi - Artikel Update Setiap Hari. Analysis With SPSS PDF, Health Article, Education Article
19.hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dalam mengimunisasi anaknya yang berumur 1-9
18.Hubungan Tindakan Injeksi Pada Anak usia 1 – 5 tahun oleh Mahasiswa Akper Tahap Profesi dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menua (Aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Selama periode pertumbuhan proses anabolisma melampaui proses katabolisma. Pada saat tubuh mencapai tingkat kematangan fisiologik, kecepatan katabolisma atau proses degenerasi lebih besar daripada kecepatan proses regenarasi sel (anabolisma). Akibat yang timbul adalah hilangnya sel-sel yang berdampak dalam bentuk penurunan efisiensi dan gangguan fungsi organ. Dengan demikian menua ditandai dengan kehilangan secara progresif lean body mass (jaringan aktif tubuh) dan perubahan-perubahan disemua sistem didalam tubuh manusia (R. Boedi Darmojo dan Hadi Martono, 2000).
Pertambahan usia akan menimbulkan beberapa perubahan, baik secara fisik maupun mental. Perubahan ini akan mempengaruhi kondisi seseorang dari aspek psikologis, fisiologis dan sosioekonomi. Lebih lanjut perubahan-perubahan tersebut akan mengakibatkan terjadinya kemunduran biologis. Kemunduran ini, tentunya akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi beberapa organ tubuh. Salah satu fungsi penting organ tubuh yang berperan dalam mempertahankan dan menciptakan kesehatan yang prima adalah fungsi organ yang berkaitan dengan makanan dan pencernaannya (Emmas Wirakusumah, 2004).
Peningkatan jumlah dan proporsi usia lanjut dari tahun ke tahun merupakan fenomena demografi global dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia per Propinsi tahun 1995 – 2005 dari biro pusat statistik setidaknya terdapat 6 Propinsi yang pada tahun 2000 telah memiliki penduduk berstruktur tua (Aging Population) yaitu Propinsi D.I. Yogyakarta (13,72 %), Jawa Timur (10,54 %), Bali (9,79 %), Jawa Tengah (9,55 %), Sulawesi Selatan (7,63 %) dan Sumatera Barat (9,035 %) (RAN Kesejahteraan Lansia, 2000).
Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami baik gizi lebih maupun kekurangan gizi. Boedi Darmojo (1995) melaporkan bahwa lansia di Indonesia yang dalam keadaan kurang gizi ada 3,4 %, berat badan kurang sebesar 28,3 %, berat badan ideal berjumlah 42,4 %, berat badan lebih ada 6,7 % dan obesitas sebanyak 3,4 %. Temuan proporsi lansia yang kurang gizi di Indonesia pada tahun 1994 tersebut tidak banyak berbeda dengan temuan di Inggris tahun 1972 dan 1979 yakni sebesar 3 %. Setelah di follow up ternyata lansia di Inggris yang menjadi kurang gizi meningkat 2 kali lipat, lima tahun kemudian (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar 25,70 % diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut akan menurun menjadi 12,30 % (Depkes RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992) (Wahjudi Nugroho, 2000).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 lansia di Posyandu lansia Kelurahan Kepuharjo didapatkan lansia dengan berat badan kurang 30 %, berat badan ideal 50 %, 20 % dengan berat badan lebih dan 70 % mengalami masalah kesehatan fisik antara lain adanya gangguan sirkulasi darah, gangguan persendian dan tulang, gangguan metabolisme hormon dan sebagainya.
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat dan penyebabnya oleh berbagai faktor yang terkait satu dengan yang lainnya (I Dewa Nyoman S, Bachyar Bucri dan Ibnu Fajar, 2002). Perubahan status gizi pada lansia disebabkan oleh perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkungan antara lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan status gizi antara lain naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorpsi dan utilisasi zat-zat gizi ditingkat jaringan dan pada beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminum para lansia oleh karena penyakit (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Adapun penyakit yang sering dijumpai pada lansia menurut Stieglitz (1945) yakni gangguan sirkulasi darah seperti hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah diotak (koroner) dan ginjal, gangguan metabolisme hormonal, seperti diabetes militus, klimaterium dan ketidakseimbangan tiroid, gangguan pada persendian seperti osteoartitis, gout artritis ataupun penyakit kolagen lainnya dan berbagai macam penyakit neoplasma (Wahjudi Nugroho, 2000).
Gangguan gizi pada lansia dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagai akibat adanya penyakit tertentu. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi, mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencanakan bagaimana gangguan gizi tersebut dapat diperbaiki (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui tentang pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Adakah Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005 ?”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.2 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.3 Mengidentifikasi status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.4 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.5 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
1.4.1 Bagi Peneliti
Mengaplikasikan teori ke paparan yang nyata dalam penelitian.
1.4.2 Bagi Lansia
Diharapkan mampu menjaga kesehatan fisik dengan baik sehingga dapat mencapai status gizi yang seimbang.
1.4.3 Bagi Puskemas
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam menentukan suatu program yang mengarah pada peningkatan status gizi dan kesehatan fisik pada lansia.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi status gizi pada lansia.
Link download KTI lengkap ini
18.Hubungan Tindakan Injeksi Pada Anak usia 1 – 5 tahun oleh Mahasiswa Akper Tahap Profesi dengan Tingkat Kecemasan Orang Tua
BAB 1-5
17.hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah harapan semua orang yang akan dan telah memasuki gerbang pernikahan. Membangun keluarga yang sakinah adalah sebuah proses. keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tanpa masalah, tapi lebih kepada adanya keterampilan untuk mengelola konflik yang terjadi di dalamnya sehingga terbentuklah keluarga yang harmonis. keharmonisan di dalam keluarga sendiri merupakan suatu keserasian, kecocokan dan keselarasan yang terjadi didalam satu keluarga. (Lutfiah, Dra)
Keluarga yang harmonis bukan berarti keluarga yang tanpa masalah tetapi keluarga yang mampu menangani dan meminimalkan terjadinya suatu konflik. Banyak keluarga yang seolah-olah rukun, sebenarnya hanya kedokbelaka, menyembunyikan orang-orang yang sebenarnya tidak saling mencintai dan mereka tidak menyadari dengan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan mereka, seperti berdampak pada kenakalan remaja. (Su’adah, Dra. Msi 2005)
Penyebab kenakalan remaja 90% berasal dari keluarga yang tidak bahagia dan berantakan. Remaja kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, mereka selalu merasa tidak aman, merasa kehilangan tempat berlindung dan tempat berpijak.
(Kartono, Kartini Dr. 2003)
Kenakalan remaja dapat disebabkan dari beberapa faktor, diantaranya :
1. Berasal dari dalam diri remaja itu sendiri, seperti bersifat pendek pikir, agresif, amat malas dan lain-lain.
2. Keharmonisan keluarga, peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak serta banyaknya konflik yang sering terjadi didalam keluarga.
3. Lingkungan sekitar
4. Pergaulan antar teman
5. Kejemuan (jenuh hidup ditengah kemakmuran)
(Sarwono, Sarlito W, 2003)
Dampak yang ditimbulkan dari kenakalan remaja adalah rusaknya kualitas fisik dan psikis dari remaja itu sendiri, seperti jauh dari pergaulan teman sebaya dan merasa terkucilkan dari lingkungan sekitar. Bagi keluarga, anak merupakan kebanggaan, jika nama baik anak sudah tercemar dimasyarakat maka keluarga seolah gagal dalam mendidik anak. Selain itu kenakalan yang dibuat remaja dapat mengganggu ketentraman masayrakat dilingkungan sekitar. Mereka merasa tidak bahagia dipenuhi banyak konflik batin serta mengalami frustasi terus menerus dan menjadi sangat agresif, mereka mulai mengadakan “serangan-serangan kemarahan” kedunia sekitar, menteror lingkungan, menggarong milik orang lain dan sebagainya. (Kartono, kartini, 2003)
Studi pendahuluan yang dilakukan di Polres Tanggul didapatkan 3 dari 55 remaja didesa Tanggul wetan RT 4/RW 9 dapat dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Berdasarkan dari fakta dan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui seberapa besarkah hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja di RT 4 RW 9 Kecamatan Tanggul.
Peran kita sebagai perawat adalah melakukan pendekatan kepada keluarga, memberikan arahan dan masukan bahwa keluarga sebagai pusat pendidikan dan pusat kebudayaan serta pusat agama, karena itu hubungan antar anggota harus selalu harmonis dan terpadu serta penuh kegotong-royongan serta kasih sayang, kita dapat juga melakukan pendekatan terhadap remaja yang bermasalah tersebut dengan cara memberikan motivasi untuk melepaskan diri dari kebiasaan yang mereka jalani selama ini.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjelasan diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut adakah hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja didesa Tanggul Wetan RT 4 / RW 9.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja didesa tanggul wetan RT 4 /RW 9
2. Tujuan khusus
1). Mengidentifikasi keharmonisan keluarga di desa tanggul wetan RT 4 /RW 9
2). Mengidentifikasi tingkat kenakalan remaja didesa tanggul wetan RT 4/RW 9
3). Mengidentifikasi hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja didesa tanggul wetan RT 4/ RW 9.
1.4 Manfaat penelitian
1. Bagi peneliti
Sebagai pengalaman dan menambah pengetahuan peneliti dalam bidang sosial keluarga pada umumnya dan tentang kenakalan remaja pada umumnya.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi keluarga untuk menjaga keharmonisan dan meminimalkan tingkat kenakalan remaja.
3. Bagi peneliti lain
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data tambahan bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian selanjutnya.
4. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan peran pendidik dapat memberikan motivasi dan arahan bagi remaja untuk melakukan kegiatan yang lebih positif.
Link download KTI lengkap ini
17.hubungan keharmonisan keluarga dengan tingkat kenakalan remaja
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
11. INFLUENZA
INFLUENZA
Influenza, commonly referred to as the flu, is an infectious disease caused by RNA viruses of the family Orthomyxoviridae (the influenza viruses), that affects birds and mammals. The most common symptoms of the disease are chills, fever, sore throat, muscle pains, severe headache, coughing, weakness/fatigue and general discomfort.
Typically, influenza is transmitted through the air by coughs or sneezes, creating aerosols containing the virus. Influenza can also be transmitted by direct contact with bird droppings or nasal secretions, or through contact with contaminated surfaces. Airborne aerosols have been thought to cause most infections, although which means of transmission is most important is not absolutely clear. Influenza viruses can be inactivated by sunlight, disinfectants and detergents. As the virus can be inactivated by soap, frequent hand washing reduces the risk of infection.
1. Types of virus
Structure of the influenza virion. The hemagglutinin (HA) and neuraminidase (NA) proteins are shown on the surface of the particle. The viral RNAs that make up http://www.blogger.com/img/blank.gifthe genome are shown as red coils inside the particle and bound to Ribonuclear Proteins (RNPs).
In virus classification influenza viruses are RNA viruses that make up three of the five genera of the family Orthomyxoviridae
• Influenzavirus A
• Influenzavirus B
• Influenzavirus C
These viruses are only distantly related to the human parainfluenza viruses, which are RNA viruses belonging to the paramyxovirus family that are a common cause of respiratory infections in children such as croup, but can also cause a disease similar to influenza in adults.
Link Download Full This Arcticle Full
INFLUENZA
16.hubungan antara stres psikologis pada dewasa dini dengan perilaku merokok
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akademi Keperawatan Lumajang adalah salah satu akademi keperawatan yang memiliki status terakreditasi A dengan sistem kuliah yang sangat padat. Dimana kegiatan perkuliahan dilakukan mulai pagi sampai siang, kadang tak jarang sampai sore hari. Hal ini membuat para mahasiswa merasa jenuh. Apalagi ketika musim ujian datang tak sedikit mahasiswa yang merasakan stres psikologis. Berbagai macam cara yang dilakukan untuk mengatasi stres psikologis, salah satunya dengan merokok.
Stres psikologis itu sendiri adalah respon tubuh terhadap stressor dari segi psikologis. Sumber dari stres psikologis antara lain yaitu frustasi, konflik, tekanan ataupun krisis. Stres psikologis ini juga tak jarang terjadi pada usia dewasa dini. Hal ini dikarenakan pada masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan dan harapan-harapan sosial baru (Maramis, 2004 : 65).
Masa muda (youth) adalah istilah ahli sosiologi Kenneth Kenniston untuk periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Dua kriteria yang diajukan untuk menunjukkan akhir masa muda dan permulaan dari masa dewasa awal adalah kemandirian ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan (Santrok, 2002 : 73).
Di Indonesia usia 21 tahun dianggap sebagai batas kedewasaan, batas tersebut timbul secara historis dan tidak mutlak dapat juga pada umur 18 atau 25 tahun.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kepada sejumlah remaja dewasa di atas 13 tahun didapatkan bahwa dengan merokok akan merasa dewasa, bisa timbul ide-ide atau inspirasi, lebihi berkonsentrasi dan tenang. Di samping itu merokok dapat memberikan gairah seseorang untuk terus bersemangat dan memberikan pelarian yang enak bila seseorang marah, frustasi ataupun gelisah sebab rokok akan bertindak sebagai penenang. Faktor-faktor stres psikologis inilah yang banyak mempengaruhi kebiasaan merokok (Hans Tandra, 2003 : 1).
Dilema ini juga terjadi di lingkungan mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang. Dari studi pendahuluan dilakukan oleh peneliti pada 15 mahasiswa laki-laki, ternyata didapatkan 86% mahasiswa laki-lakinya merokok saat menghadapi masalah / stres. Hal ini menjadi dasar diadakannya penelitian untuk mengetahui secara nyata apakah ada hubungan antara stres psikologis dengan perilaku merokok dalam kehidupan sehari-hari khususnya pada dewasa usia dini.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara stres psikologis pada dewasa dini dengan perilaku merokok di Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui apakah ada hubungan antara stres psikologis pada dewasa dini dengan perilaku merokok di Akademi Keperawatan Lumajang.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi stres psikologis pada dewasa dini di Akademi Keperawatan Lumajang.
2. Mengidentifikasi tentang perilaku merokok pada dewasa din di Akademi Keperawatan Lumajang.
3. Menganalisa hubungan antara stres psikologis pada dewasa dini dengan perilaku merokok.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Responden
Dapat mengatasi masalah dengan cara yang positif.
2. Bagi Institusi (Akademi Keperawatan Lumajang)
Dalam upaya mengurangi jumlah perokok di lingkungan Akademi Keperawatan Lumajang dengan mengadakan program tertentu terhadap larangan merokok.
3. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan atau sumber dasar bagi peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut.
Link download KTI lengkap ini
16.hubungan antara stres psikologis pada dewasa dini dengan perilaku merokok
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
15.Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Gizi dengan Pola Makan pada Mahasiswa
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gizi mempunyai hubungan dengan kesehatan tubuh dimana untuk menyediakan energi; membangun dan memelihara jaringan tubuh serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Oleh karena itu gizi sudah ada pada zaman purba dan Yunani. Serta awal abad ke – 16 para ahli mulai meneliti tentang proses yang berhubungan dengan cara pemenuhan gizi (Almatsier, 2002).
Gizi merupakan keseluruhan proses dalam makhluk hidup untuk menerima bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut agar menghasilkan berbagai aktivitas penting dalam tubuhnya sendiri. (E. Beck; 2002 : 41-42).
Persepsi yang salah tentang gizi biasanya umum terjadi disetiap negara di dunia. Masyarakat dimanapun akan beruntung dengan bertambahnya pengetahuan mengenai gizi dan cara penerapan pengetahuan tersebut bagi tiap individu yang berbeda menurut tingkat usia dan keadaan fisiologisnya, namun pada saat ini persepsi tentang gizi kurang diperhatikan, terbukti masih banyaknya masyarakat yang belum dapat memenuhi pola makan yang sehat (Budiyanto, 2002 : 13).
Pola makan pada umumnya kebiasaan makan seseorang yang tidak berdasarkan keperluan fisik akan zat-zat gizi yang terkandung dalam makanan. Kebiasaan ini berasal dari pola makan yang didasarkan pada budaya kelompok dan dianjurkan pada seluruh anggota keluarga. Beberapa keluarga biasanya mengembangkan pola makan tiga kali sehari yaitu makan pagi, siang dan malam, ada juga beberapa keluarga mengembangkan pola makan dua kali sehari yaitu makan siang dan malam bahkan beberapa keluarga mengembangkan makan jika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. (Budiyanto, 2002 : 12).
Pola makan yang tidak teratur juga dapat menimbulkan masalah gizi karena ketidakseimbangan konsumsi makanan dan biasanya akan mengakibatkan kadar gula (glukosa) akan menurun; kadang-kadang sampai di bawah normal padahal gula darah adalah sumber utama bagi otak. (Ali Khomsah, 2003 : 122). Pola makan yang tidak teratur dapat juga mengakibatkan gizi kurang dan gizi lebih dimana gizi kurang merupakan keadaan patologis (tidak sehat) yang timbul karena tidak cukup makan dengan demikian konsumsi energi dan protein kurang selama jangka waktu tertentu sedangkan gizi lebih juga merupakan keadaan patologis (tidak sehat) yang disebabkan kebanyakan makan dimana mengkonsumsi energi lebih banyak dari kebutuhan. (Budiyanto, 2002 : 14).
Pada tahun 1950 masyarakat mulai mengenal pola makan sehat dan pada tahun 1995 sekitar 13% masyarakat mulai menerapkan pola makan sehat dengan menu seimbang (Almatsier ; 2002 : 281).
Menurut hasil study pendahuluan pada mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang pada bulan Juni 2005 dari 10 mahasiswa Akademi Keperawatan bahwa 30% makan teratur tiga kali sehari dan 70% mahasiswa Akademi Keperawatan makan tidak teratur berdasarkan data ini menunjukkan bahwa pola makan mahasiswa Akademi Keperawatan berbeda-beda.
Dari perkembangan lebih lanjut menurut hasil data study pendahuluan pola makan mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang bervariasi dari 30% makan teratur tiga kali sehari dengan menu seimbang, ada juga makan teratur tiga kali sehari tidak dengan menu seimbang dan dari 70% mahasiswa Akademi Keperawatan pola makannya ada yang dua kali sehari, satu kali sehari atau bahkan tidak teratur dengan demikian berdasarkan fenomena tersebut menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa Akademi Keperawatan tentang gizi kurang diperhatikan karena menurut Budiyanto (2002) pola makan yang baik adalah tiga kali sehari yaitu makan pagi, siang dan malam.
Berdasarkan kenyataan di atas diharapkan mahasiswa menerapkan pola makan yang baik dan teratur guna mewujudkan gizi yang seimbang sehingga akan mengakibatkan status gizi yang baik dan pada akhirnya akan mewujudkan berat badan ideal, sehat, bugar serta terhindar dari berbagai penyakit (www.infokes.com.2001).
Dari fenomena di atas penulis tertarik untuk memilih judul tentang hubungan persepsi mahasiswa tentang gizi dengan pola makan pada mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang tahun 2005.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Gizi dengan Pola Makan pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Gizi dengan Pola Makan pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi tingkat persepsi mahasiswa tentang gizi di Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005.
2) Mengidentifikasi tentang pola makan mahasiswa di Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005.
3) Mengidentifikasi tentang Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Gizi dengan Pola Makan pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Lumajang Tahun 2005.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman pada peneliti tentang gizi serta pola makan yang baik pada mahasiswa.
1.4.2 Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi mahasiswa sehingga mahasiswa mampu menambah pengetahuan tentang gizi dan pola makan.
1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat memberikan informasi atau data dasar tentang faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tentang gizi terhadap pola makan bagi peneliti berikutnya
1.4.4 Bagi Institusi Akademi Keperawatan
Sebagai bahan masukan untuk pengembangan kurikulum terutama tentang Gizi dan Pola Makan.
Link download KTI lengkap ini
15.Hubungan Persepsi Mahasiswa tentang Gizi dengan Pola Makan pada Mahasiswa
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
14.hubungan pengetahuan remaja tentang menarche terhadap status emosional pada saat menarche
Link download KTI lengkap ini
14.hubungan pengetahuan remaja tentang menarche terhadap status emosional pada saat menarche
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
