KTI-SKRIPSI

04.PERBEDAAN KECEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS YANG DIBERI NSAIDs (ASAM MEFENAMAT) DENGAN YANG TIDAK DIBERI NSAIDs (ASAM MEFENAMAT)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Trauma perineum merupakan hal yang wajar terjadi dalam proses persalinan normal. Bila kepala janin telah sampai di dasar panggul, vulva mulai membuka, perineum mulai teregang sedikit demi sedikit sampai seluruh badan bayi lahir. Tubuh janin yang terlalu besar dan cara meneran yang salah menyebabkan perineum teregang sangat kuat sehingga menyebabkan jaringan perineum mengalami robekan. Proses kelahiran yang berlangsung sangat cepat mengakibatkan perineum meregang terlalu cepat sehingga robekan tidak dapat terhindarkan. Selain itu, tindakan episiotomi yang biasanya dilakukan pada primigravida atau wanita dengan perineum yang kaku juga bisa menyebabkan perineum mengalami trauma.

Proses penyembuhan merupakan reaksi dari jaringan untuk memulihkan diri dan segera melakukan fungsinya kembali. Potter (2006) menjelaskan bahwa sifat penyembuhan pada semua luka sama, dengan variasi bergantung pada lokasi, keparahan dan luasnya cedera. Sedangkan untuk mencapai tahap kesembuhan ada beberapa fase yang harus dilewati yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan maturasi. Kesemua tahap tersebut harus dilewati dengan sempurna, dengan rentang waktu yang relatif berbeda tegantung dari berbagai hal.
Kecepatan penyembuhan luka dapat dihambat oleh oleh faktor-faktor antara lain usia, malnutrisi, obesitas, gangguan oksigenasi, merokok, obat-obatan, diabetes, radiasi dan stress luka. Obat anti inflamasi seperti NSAIDs dapat memperlambat penyembuhan luka. (Potter, 2006) Masuknya mikroba patogen pada di daerah luka dapat menimbulkan infeksi juga bisa menghambat proses penyembuhan. Oleh karenanya, pemberian antibiotik selalu dilakukan sebagai profilaksis terhadap infeksi.
Ketika jaringan mengalami cedera, nyeri merupakan reaksi fisiologis yang mendorong seseorang untuk mengkonsumsi obat anti nyeri. NSAIDs umumya menghilangkan nyeri ringan dan sedang. Kebanyakan NSAIDs bekerja pada reseptor syaraf nyeri perifer untuk mengurangi transmisi dan respon stimulus nyeri. (Potter, 2006) Asam mefenamat (mefenamic acid) merupakan NSAIDs derivat anthranilat (=o-aminobenzoat) ini (1956) memiliki daya antiradang sedang, kira-kira 50% dari khasiat fenilbutazon. Plasma t1/2-nya 2-4 jam. (Tsay & Rahardja, 2005).
Gangguan yang sering muncul seperti mual, muntah,nyeri lambung, gastritis serta hiperkalemia merupakan efek samping dari sebagian besar NSAIDs yang mempunyai mekanisme kerja menghambat COX-2 (peradangan) tapi tidak menghambat COX-1 (perlindungan mukosa lambung). Masa perdarahan dapat diperpanjang yang disebabkan oleh kerja NSAIDs yang menghambat fungsi trombosit (Tsay & Rahardja, 2005). Masuknya NSAIDs ke dalam ASI mengharuskan penggunaannya harus hati-hati pada masa laktasi. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada laporan tentang efek teratogeniknya pada bayi.
Achmadi, dkk (2004) menyimpulkan bahwa pada 10 rumah sakit besar di Jawa menggunakan asam mefenamat untuk ibu post partum dengan luka jahitan dikerampangnya meskipun ditengarai NSAIDs akan memperlambat proliferasi jaringan (Dinkes, 2004). Di BPS wilayah Kabupaten Malang, ada yang menggunakan asam mefenamat sebagai terapi untuk ibu post partum selain antibiotik.Ada juga yang tidak menggunakan asam mefenamat, tapi tetap mengunakan antibiotik sebagai profilaksis infeksi.
Dari uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tentang Perbedaan Kecepatan Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Nifas yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat) dengan yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat) di BPS Wilayah Kabupaten Malang.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah efek NSAIDs (Asam Mefenamat) terhadap kecepatan penyembuha luka perineum pada ibu nifas?
Mengapa luka perineum yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat) lebih lama sembuh daripada yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)?

1.3 Hipotesis Penelitian
Luka perineum pada ibu nifas yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)lebih lama sembuh daripada yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)


1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui perbedaan kecepatan penyembuhan luka perineum
pada ibu nifas yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat) dengan yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)
1.4.2 Tujuan khusus
1.4.2.1 Mengidentifikasi kecepatan penyembuhan luka perineum yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)
1.4.2.2 Mengidentifikasi kecepatan penyembuhan luka perineum yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)
1.4.2.3 Menganalisis perbedaan kecepatan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat) dengan yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi peneliti
Dari hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan di dalam mempelajari perbedaan kecepatan penyembuhan luka perineum pada ibu nifas yang diberi NSAIDs (Asam Mefenamat ) dengan yang tidak diberi NSAIDs (Asam Mefenamat)
1.5.2 Bagi profesi
Memberikan masukan pada profesi dalam hal pemberian terapi penyembuhan luka perineum.
1.5.3 Bagi masyarakat
Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang kegunaan atau manfaat obat anti nyeri.

Link download KTI lengkap ini
04.PERBEDAAN KECEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS YANG DIBERI NSAIDs (ASAM MEFENAMAT) DENGAN YANG TIDAK DIBERI NSAIDs (ASAM MEFENAMAT)
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV-V

Baca Selengkapnya...

03.perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Perkembangan anak merupakan hasil maturasi organ-organ tubuh terutama susunan saraf pusat. Dalam perkembangan terdapat tahapan yang harus dilalui anak untuk menuju usia dewasa. Tahapan yang terpenting adalah pada masa 3 tahun pertama, karena pada masa ini tumbuh kembang berlangsung dengan pesat dan menentukan masa depan anak kelak. (IDAI, 2002).
Setiap anak perlu mendapat stimulasi perkembangan sedini mungkin dan terus-menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tersebut merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap (Depkes RI, 2005). Hal tersebut menuntut peran ibu sebagai penentu pola asuh anak untuk merawat dan melindungi anak guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini semakin banyak orang tua baik ayah maupun ibu yang sama-sama bekerja sehingga interaksi mereka dengan anak menjadi berkurang.
Semakin banyak ibu yang bekerja merupakan realitas yang nyata. Kecenderungan ini akan menimbulkan dampak sosial serius bagi anak jika orang tua tidak memberikan penjelasan yang tepat alasan mereka bekerja. Anak perlu diajari dan kemudian diawasi. Seringkali saat ditinggalkan orangtua bekerja, anak terjerumus dalam masalah. Anak-anak yang bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak mengawasi karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana perilaku baik dan mana yang buruk (Putra, 2007).

Pada dasarnya tidak ada masalah jika orang tua, khususnya ibu bekerja, selama hak-hak anak untuk mendapatkan pengasuhan, kasih sayang dan stimulasi perkembangan dapat terpenuhi secara optimal. Namun jika kasih sayang dan perkembangan anak menjadi terganggu akibat interaksi ibu dengan anak sangat terbatas, maka perlu pemikiran lebih mendalam sebelum memutuskan untuk bekerja. Jika perhatian, kasih sayang serta stimulasi perkembangan terhadap anak tetap dapat diberikan meskipun ibu bekerja, maka sebenarnya apa yang dilakukan seorang ibu adalah perbuatan yang sangat mulia, karena ibu telah berperan aktif dalam membantu perekonomian keluarga disamping tugas utamanya sebagai seorang ibu. Seorang ibu yang tidak bekerjapun belum tentu dapat memberikan kasih sayang dan melakukan stimulasi perkembangan pada anak dengan baik.
Interaksi ibu dengan anak juga sangat ditentukan oleh seberapa berkualitasnya kebersamaan yang terjalin diantara mereka. Ibu yang bekerja meski dengan keterbatasan waktu yang dimilikinya, namun bila ia mampu memanfaatkan dengan maksimal waktu yang dihabiskan bersama anak-anaknya hasilnya jauh akan lebih optimal dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja namun kurang pandai dalam mengelola waktu bersama anak-anaknya. Oleh karena itu setiap ibu baik ia seorang yang bekerja atau tidak bekerja, kemampuan menghabiskan waktu yang berkualitas bersama anak-anaknya menjadi salah satu kemampuan yang wajib dimiliki dan terus dikembangkan (Priastuti, 2008)..
Berdasarkan data studi pendahuluan yang kami lakukan melalui pengamatan terhadap 14 anak usia 1-3 tahun di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang pada Februari 2009, diketahui terdapat 7 anak yang tidak diasuh oleh ibu kandungnya karena bekerja. Dari 7 anak tersebut setelah diamati tingkat perkembangannya, ada 2 anak (28,6%) belum bisa minum dari cangkir yang seharusnya sudah mulai bisa dilakukan sejak usia 9 bulan. Dari hasil wawancara dengan pengasuhnya diketahui bahwa di rumah anak juga belum bisa minum dari cangkir karena setiap kali minum selalu menggunakan botol atau menyusu ibu. Pengamatan yang sama juga dilakukan terhadap 7 anak usia 1-3 tahun yang diasuh oleh ibunya sendiri (tidak bekerja) dan diketahui bahwa 1 anak (14,3 %) juga belum bisa minum dari cangkir. Ibunya mengatakan bahwa anak memang belum dibiasakan minum dari cangkir karena sering tersedak.
Kondisi ini belum menggambarkan data sesungguhnya dari keseluruhan populasi, mengingat berdasarkan data dari Bidan Desa Pakisjajar, di Posyandu tersebut pada saat ini terdapat 54 anak usia 1-3 tahun, dan 18 diantaranya (33,3%) diasuh oleh ibu yang bekerja.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengamati lebih lanjut tentang perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja.


1.2 Rumusan Masalah
Adakah perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) yang diasuh oleh ibu bekerja di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
b. Mengidentifikasi perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) yang diasuh oleh ibu tidak bekerja di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.
c. Menganalisis perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja di Posyandu Janur Kuning II Desa Pakisjajar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua fihak yang terkait. Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1.4.1 Bagi peneliti
Sebagai pengetahuan tambahan ketika terjun di masyarakat untuk memberikan informasi dan edukasi tentang perkembangan pada anak usia toddler (1-3 tahun).
1.4.2 Bagi Institusi
Sebagai bahan kajian untuk menindaklanjuti pentingnya perkembangan anak pada usia toddler (1-3 tahun).
1.4.3 Bagi organisasi profesi
Dapat di gunakan sebagai masukan bagi profesi bidan untuk dapat meningkatkan pemberian penyuluhan tentang pentingnya perkembangan anak usia 1 – 3 tahun dan meningkatkan pelaksanaan penilaian perkembangan sehingga perkembangan anak usia 1 – 3 tahun dapat berkembang secara normal dan optimal.
1.4.4 Bagi Masyarakat
Dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat tentang perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) sehingga anak dapat berkembang secara optimal.

Link download KTI lengkap ini
03.perbedaan perkembangan anak usia toddler (1-3 tahun) antara ibu bekerja dan tidak bekerja
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

02.perbedaan pemberian teknik distraksi dan relaksasi terhadap tingkat nyeri post operasi pada pasien post operasi sc (seksio sesarea) hari ke 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Nyeri merupakan respon langsung terhadap kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, seperti luka operasi, inflamasi. Nyeri juga dapat dikatakan sebagai perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dimana ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) dimana nyeri dirasakan untuk pertama kali. Penanganan nyeri dilakukan secara farmakologis dan nonfarmakologis dengan tujuan untuk mengobati nyeri tersebut dengan cara menghilangkan gejala yang muncul. Penanganan farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obatan seperti analgetik, steroid, NSAID, opioid obat-obatan anastesi, sedangkan nonfarmakologis yaitu stimulus dan massage kutaneus, terapi es dan panas, distraksi, relaksasi, imajinasi terpimpin dan hipnotis (Brunner dan Suddarth, 1999).

Dimana teknik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain dengan kata lain distraksi bisamemfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selalin nyeri. Didalam pemberian teknik distraksi ada berbagai macam cara antara lain distraksi visual, distraksi intelektual, distraksi dengan imajinasi terbimbing serta distraksi pendengaran. Salah satu distraksi yan efektif adalah dengan mendengarkan musik yang dapat menurunkan nyeri atau mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri, sedangkan kelebihan penggunaan teknik distraksi yaitu distraksi bekerja memberi pengaruh paling baik untuk jangka waktu yang singkat untuk mengatasi nyeri selama pelaksanaan prosedur invasif. Menurut Drive dkk (1990) mengemukakan bahwa nyeri dapat berkurang dengan mengalihkan perhatian pasien pada sesuatu selain nyeri dalam arti distraksi.
Pada teknik relaksasi merupakan strategi kognitif yang memberikan kesembuhan secara fisik dan mental atau mengurangi sampai ambang nyeri (Nurschl, 1993). Teknik relaksasi yang ada yaitu menganjurkan pasien bernafas secara teratur, dalam kelebihan teknik ini yaitu ketika pasien mencapai relaksasi penuh maka persepsi nyeri berkurang atau pengalaman nyeri menjadi minimal. Miller & Perry (1990) menyatakan bahwa relaksasi efektif dalam mengurangi ataupun menurunkan nyeri pasca operasi sehingga teknik menjadi strategi yang sangat baik dan mungkin merupakan mekanisme yang bertanggung jawab terhadap teknik kognitif lainnya.
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan dinding uterus melalui dinding depan uterus atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Mochtar Rustam, 1998). Luka sayatan operasi sesar dengan menggunakan teknik klasik yaitu sayatannya membujur dari bawah pusar ke arah tulang kemaluan. Sedangkan sekarang secara estetis teknik pembedahan yang baru luka sayatannya melintang dari kiri ke kanan di atas tulang kemaluan (trans profunda) yang hasilnya bekas operasi tidak terlihat (www.conectique.com, 2007).
Luka adalah adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat subtansi jaringan yang rusak atau hilang. Luka yang sering ditemukan pada obstetric adalah luka bersih tanpa kontaminasi, misal luka insisi yang tertutup, luka yang melibatkan saluran kemih, misal seksio sesarea di segmen bawah (lower segment Caesarrean section (LSCS) (Johnson, Ruth, 2004).
Untuk mengurangi rangsangan nyeri pasien dianjurkan untuk melakukan distraksi atau relaksasi, dikarenakan beberapa pasien tidak mengerti apa yang disebut dengan teknik distraksi ataupun teknik relaksasi.
Dari studi pendahuluan yang dilakukan di RB Siti Aisyah Probolinggo pada bulan Desember 2008 sampai dengan januari 2009 sebanyak 35 pasien SC, 85% menyatakan nyeri berat dan sisa lainnya menyatakan nyeri sedang dan ringan.
Berdasarkan data-data tersebut diatas, peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan antara teknik distraksi dan relaksasi dalam mengurangi tingkat nyeri post operasi SC.

1.2 Rumusan Masalah
”Adakah perbedaan pemberian teknik distraksi dan relaksasi terhadap tingkat nyeri post operasi pada pasien post operasi sc (seksio sesarea) hari ke 3”?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan tingkat nyeri post operasi SC hari ke-3 antara pasien yang diberi teknik distraksi dan teknik relaksasi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi tingkat nyeri post operasi SC hari ke-3 setelah dilakukan teknik distraksi.
2. Mengidentifikasi tingkat nyeri post operasi SC hari ke-3 setelah dilakukan teknik relaksasi.
3. Mengidentifikasi perbedaan tingkat nyeri post operasi SC hari ke-3 antara pasien yang diberi teknik distraksi dan relaksasi.

1.4 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat pada :
1.4.1 Bagi Responden
Paien mampu mengetahui cara lain untuk mengurangi nyeri selain menggunakan pengobatan farmakologi yaitu teknik distraksi dan teknik relaksasi.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan sehingga dapat menjadi wacana dan wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang penurunan tingkat nyeri menggunakan teknik distraksi dan menggunakan teknik relaksasi.
1.4.3 Bagi Rumah Sakit
Penelitian ini dapat diaplikasikan di rumah sakit untuk menentukan teknik pendekatan non farmakologis yang sesuai dalam mengurangi nyeri pada pasien selama perawatan luka operasi.
1.4.4 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan informasi dalam memberikan asuhan keperawatan luka post operasi SC khususnya dalam pemberian teknik distraksi dan teknik relaksasi.
1.4.5 Bagi Peneliti Lanjut
Dapat digunakan sebagai bahan acuan penelitian selanjutnya tentang penurunan tingkat nyeri.

Link download KTI lengkap ini
02.perbedaan pemberian teknik distraksi dan relaksasi terhadap tingkat nyeri post operasi pada pasien post operasi sc (seksio sesarea) hari ke 3
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

01.perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera ( NKKBS ) yang berorientasi pada “catur warga” atau zero population growth ( pertumbuhan seimbang ).Gerakan Keluarga Berencana Nasional Indonesia telah berumur panjang ( sejak 1970 ) dan masyarakat dunia menganggap Indonesia berhasil menurunkan angka kelahiran dengan bermakna.Masyarakat dapat menerima hampir semua metode medis teknis Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah.

( Manuaba, 1998: 438)
Sejak Pelita V program KB Nasional berubah menjadi Gerakan KB Nasional.Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan NKKBS dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.Hasil sensus 1990 menunjukkan bahwa gerakan KB Nasional telah berhasil merampungkan landasan pembentukan Keluarga Kecil,dalam rangka pelembagaan dan Pembudayaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera ( NKKBS).Langkah besar yang perlu dibangun selanjutnya adalah Pembangunan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.Tujuan Gerakan KB Nasional adalah mewujudkan Keluarga Kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia.
Sasaran Gerakan KB Nasional adalah:( 1) Pasangan Usia Subur,dengan prioritas PUS muda dengan paritas rendah.(2) Generasi muda dan Purna PUS.(3) Pelaksana dan pengelola KB.(4) Sasaran wilayah adalah wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk tinggi dan wilayah khusus seperti sentra industri,pemukiman padat,daerah kumuh,daerah pantai,dan daerah terpencil.
(Wiknjosastro, 2002: 902)
Pencapaian target peserta KB baru dari tahun 1993/1994/ s/d 1997/1998 menunjukkan kecenderungan meningkat, yaitu dari 85,8% menjadi lebih dari 100%.Pola penggunaan alat kontrasepsi akseptor baru pada tahun 1997/1998 yaitu IUD 13,4%, pil 32,3%, kondom 1,2%, operasi 0,0%, suntik 42,4%, Implant 10,1%, obat vaginal 1,0%.( Anonim, 1998 )
Efek samping yang mempengaruhi ibu yang memakai Depo-Provera yaitu perubahan menstruasi untuk beberapa bulan terjadi perdarahan dan bercak yang ireguler dan tidak dapat diduga sampai terjadi amenore pada sebagian besar wanita dan dijumpai pula keluhan mual, pusing, berat badan meningkat.
(Varney, 2001: 35 )
Efek samping yang ditimbulkan oleh alat kontrasepsi pil adalah muntah, pusing, mual, nyeri payudara, berat badan yang bertambah, spotting, amenorea, keputihan, akne. Dari kejadian sehari-hari, efek samping merupakan faktor utama dari penghentian pemakaian pil oral, baik dalam bulan pertama maupun sesudahnya.( Hartanto, 2004: 127 )
Pada bulan oktober 2002 di Jawa Timur kejadian efek samping pemakai alat kontrasepsi 5.595 orang yaitu MOP 14 orang,MOW 88 orang,Implat 768 orang,suntik 3.030 orang,pil 483 orang,kondom 1 orang,Iud 1.211 orang.
(Kasmiyati, 2002 )
Dari hasil Se-kodya Malang pada tahun 2006 jumlah Pasangan Usia Subur sebanyak 451.851 dan yang telah menjadi akseptor KB aktif 96.531 ( 21,36% ),jumlah Pasangan Usia Subur KB baru sebesar 45.411 orang (10,05%) , Peserta KB suntik 51%,pil 28%,implant 11%,MOP/MOW 8%,IUD 2%,kondom 0% .Dari data di Kecamatan Karangploso persentase pemakai KB aktif IUD 24,32%,MOP/MOW 1,63%,Implant 2,03%,suntik 44,08%,pil 26,26%,kondom 0,1%.dan persentase KB baru IUD 6,32%,MOP/MOW 0,54%,implant 5,47%,suntik 85,53%,pil 2,04%,kondom 0,11%.
( Bidang Pelayanan dan PPSM Dinkes Malang ).
Dari data di Dusun Krajan Desa Ngenep jumlah Ibu Usia Subur peserta KB pemerintah 107 orang dan swasta 241 orang dengan pemakai alat kontarsepsi MOW 10 orang, MOP 2 orang, IUD 24 orang, Implant 48 orang, pil 106 orang, suntik 158 orang. Ibu Usia Subur yang pernah melaporkan mengalami efek samping yaitu pada KB suntik 39 orang dan pil 10 orang.
Dari data yang telah diuraikan diatas peneliti ingin meneliti” Perbedaan terjadinya efek samping antara alat kontrasepsi suntik dan pil di Dusun Krajan Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang”


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah“ Bagaimanakah perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil di Dusun Krajan Desa Ngenep Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang” ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengidentifikasi perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1. Mengidentifikasi terjadinya efek samping pada pengguna alat kontrasepsi suntik
1.3.2.2. Mengidentifikasi terjadinya efek samping pada pengguna alat kontrasepsi pil
1.3.2.3. Menganalisa perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi tenaga kesehatan
Sebagai masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan khususnya bidang KB suntik dan pil
1.4.2 Bagi masyarakat
Menambah pengetahuan dalam memilih kontrasepsi yang sesuai dan dapat mengetahui efek samping serta keuntungan KB suntik dan pil.
1.4.3 Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai dokumentasi dan bahan bacaan serta memberi masukan tentang hal-hal yang melatarbelakangi efek samping pada KB suntik dan pil.
1.4.4 Bagi profesi
Menjadi bahan masukan dalam memberikan pelayanan kesehatan dalam bidang pelayanan KB.
1.4.5 Bagi peneliti
Sebagai pengalaman yang sangat berarti dalam melakukan penelitian tentang efek samping KB suntik dan pil.

Link download KTI lengkap ini
01.perbedaan terjadinya efek samping antara pengguna alat kontrasepsi suntik dan pil
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

12.pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Merokok merupakan suatu kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok itu sendiri maupun orang-orang di sekitarnya (Soetjiningsih, 2004 : 191). Banyaknya perokok dan produksi rokok yang semakin tinggi menyebabkan semakin luasnya kawasan bebas merokok di masyarakat. Para perokok kurang mengerti bahwa rokok tersebut bisa menimbulkan penyakit karena bahan rokok mengandung ribuan racun yang membahayakan kesehatan. (Dody Hidayat, 2004 : 22).

Jumlah perokok di Indonesia mengalami peningkatan dan cukup memprihatinkan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2001 menyebutkan bahwa tingkat perokok di Indonesia sebayak 31,4 % dan jumlah perokok laki-laki mencapai 59% dan jumlah perokok perempuan mencapai 3,7 % (Dody Hidayat, 2004 : 23). Dr W.L Mendenhall dari Haryard University mengemukakan bahwa rokok menyebabkan iritasi serius pada selaput lendir mulut dan hampir 65 % perokok ditemukan adanya luka di dalam mulut serta diskolorasi pada gigi jika kebiasaan tidak dihentikan (Ernest Caldwell, 2001 : 35-36).
Sebatang rokok mempunyai kandungan nikotin sekitar 20,9 mg bahkan di dalam rokok yang tidak mengandung nikotin pun pada mereknya terdapat sekitar 10,4 mg nikotin. Menurut percobaan yang dilakukan oleh para ahli menemukan bahwa 50 mg nikotin yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darah dapat menimbulkan kematian. Untungnya tidak seluruh nikotin dapat diserap tubuh. Hanya sekitar 2 mg yang ikut masuk dari seluruh kandungan nikotin dari rokok yang dihisap. Dari jumlah sekecil itu memang tidak langsung membuat orang meninggal tetapi sudah merusak sistem pernapasan dan bagian tubuh yang lain seperti pada gigi dan mulut (Ernest Caldwell, 2001 : 9).
Sesungguhnya akibat negatif dari rokok sudah mulai terasa pada waktu orang mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok yang membara karena diisap, tembakau terbakar kurang sempurna sehingga menghasilkan CO, tar, nikotin dan asap sendiri dihirup ke jalan nafas (Farid Indrajaya, 2000) pada perokok berat biasanya timbul mukosa kemerahan di palatum dan terbatas pada daerah yang terpapar uap tembakau rokok. Hal ini lama kelamaan akan berubah menjadi keabu-abuan, menebal, berfisur dan dapat berubah menjadi coklat atau hitam karena deposit tar (Arif Mansjoer, 2000 : 106). Merokok juga menyebabkan penyakit periodontal dan terjadinya karang gigi yang bisa mengeras membentuk calculus (Mervyn G. Hardinge, 2003 : 158). Selain itu merokok dapat menyebabkan plak dan dan lubang (karies pada gigi). (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Pemberdayaan Sumber Daya, 2004).
Kesehatan gigi dan mulut adalah suatu usaha untuk mengurangi penyakit gigi dan mulut yang tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Dengan adanya gigi berlubang dan bau mulut yang tidak sedap membuat orang menjadi rendah diri, kurang percaya diri dan akan menjadi kendala di dalam pergaulan. Berdasarkan pernyataan di atas perlu diketahui bahwa mempunyai mulut dan gigi yang sehat bukan hanya indah di pandang melainkan sangat penting bagi kesehatan. (Ilham Prawira, 2001 : 101), untuk membatasi hal ini maka peran perawat melaksanakan penyuluhan kesehatan gigi dengan menambah pengetahuan; mengubah sikap dan mengarahkan tingkah laku sesuai konsep kesehatan gigi dan mulut (Azrul Azwar, 1993). Untuk itu ada beberapa hal yang harus diketahui oleh perokok dan masyarakat yaitu cara berhenti merokok dan melakukan langkah bijak meninggalkan dunia rokok (Dadang Suhendrik, 2000).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo pada 10 bapak-bapak yang merokok yang telah diwawancarai, didapatkan 70% kondisi gigi dan mulut kurang (bibir hitam dan disertai plak), 20% kondisi gigi danmulut cukup baik dan 10% dalam kondisi baik (bersih, tidak ada plak). Hal inilah yang mendasari diadakannya penelitian untuk mengetahui secara nyata pengaruh merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karangdalem Dringu Probolinggo.

1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo ?.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mempelajari pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut di RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi perilaku merokok pada masyarakat RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
2) Mengidentifikasi kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat RW. 01 Dusun Karang Dalem Dringu Probolinggo.
3) Mengidentifikasi pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat RW. 01 Dusun Karangdalem Dringu Probolinggo.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Masyarakat
Diharapkan dari hasil penelitian ini masyarakat mendapat informasi tentang merokok dan perawatan gigi dan mulut bagi perokok.
1.4.2 Bagi Peneliti
Dari hasil penelitian ini, peneliti dapat mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut dan juga sebagai tambahan ilmu pengetahuan.
1.4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber data tambahan bagi peneliti berikutnya dan bahan perbandingan penelitian yang akan datang yang sejenis (tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut pada perokok).

Link download KTI lengkap ini
12.pengaruh Kebiasaan merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut
BAB I-V

Baca Selengkapnya...

11.pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam rahim melalui vagina ke dunia luar (Mansjoer Arif, 1999).
Dalam menghadapi persalinan seorang ibu dapat mempercayakan dirinya pada bidan, dokter umum, dokter spesialis obstetri dan ginekologi bahkan seorang dukun untuk pemeriksaan secara teratur melakukan pengawasan hamil sampai pada persalinan (Ida Bagus gde, 1999). Sedangkan yang diperbolehkan menolong persalinan adalah dokter umum, bidan, perawat yang telah mengikuti pelatihan dan petugas obtetri yang mendapat ketranpilan dari orang tuanya secara tradisional (Dukun beranak) serta ahli kebidanan dan kandungan. Tetapi di negara maju masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun bersalin baik yang terlatih maupun tidak. Hal tersebut bisa dipengaruhi oleh faktor ekonomi, agama, sosial budaya kadang-kadang juga mempengaruhi pemilihan tenaga penolong saat persalinan (Judi januadi Endjun, 2002). Sehingga Angka Kematian Ibu (AKI) tinggi, menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 angka kematian ibu 390 per 100.000 kelahiran.

Saat ini angka kematian ibu maternal dan bayi seperti halnya negara berkembang khususnya di Indonesia jauh berada di atas angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sebagai gambaran kematian maternal diperkirakan 500.000 per tahun. Di Indonesia kurang lebih 20.300 kejadian kematian maternal di Indonesia kurang lebih 70 kali lebih tinggai dari negara maju seperti USA. Tiga faktor penyebab utama tingginya angka kematian ibu di Indonesia yaitu perdarahan setelah persalinan, ionfeksi, eklamsia (Departemen Kesehatan RI, 1996).
Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah perdarahan dan eklamsia. Kedua sebab itu sebenarnya bisa dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care : ANC) yang memadai. Tetapi karena pemeriksaan tersebut memakai biaya, para ibu hamil merasa enggan untuk mengeluarkan biaya untuk melakukan pemeriksaan ANC. Khususnya wanita yang tinggal di desa, apalagi ibu dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Walaupun proporsi wanita usia 1-49 tahun yang melakukan ANC minimal 1x telah mencapai lebih dari 80%. Tetapi menurut SDKI 1997 masih sangat rendah, dimana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi (GOL dan UNICEF, 2000) (www.detik.com)
Tingkat ekonomi adalah salah satu faktor yang berperan dalam kesehatan dimana dengan alasan tidak mempunyai biaya (penghasilan rendah) masyarakat yang lebih memilih pengobatan tradisional dengan biaya relatif murah. Bagi masyarakat yang mempunyai penghasilan tinggi biaya kesehatan berapapun besarnya sering kali tidak menjadi persoalan, tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat yang tidak mampu (http :// www.balipost.co.id ). Status ekonomi masyarakat dipengaruhi oleh beberapa hal diantara pekerjaan penghasilan dan pendidikan (H. Abu Ahmadi, 1997)
Dari survei dilakukan di desa wates kulon dengan jumlah penduduk 4000 orang yang terdiri dari 600 kepala keluarga didapatkan data 120 KK (20%) termasuk dalam tingkat ekonomi tinggi 210 KK (35%) termasuk dalam tingkat ekonomi sedang, 270 KK (45%) termasuk dalam tingkat ekonomi rendah
Begitu juga yang selama ini terjadi di masyarakat Wates Kulon. Mereka cenderung memilih pertolongan ke dukun saat persalinan daripada ketenaga kesehatan yang disebabkan oleh rendahnya tingkat ekonomi masyarakat. Semua itu dapat dilihat dari masyarakat yang tidak pernah memeriksakan diri ke Puskesmas saat hamil.
Dan berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 10 orang ibu melahirkan di desa Wates Kulon didapatkan 6 orang melahirkan ke dukun karena biayanya lebih murah dan 4 orang melahirkan ke bidan dengan alasan keselamatan lebih terjamin.
Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui lebih lanjut sejauh mana tingkat ekonomi keluarga mempengaruhi pemilihan pertolongan saat persalinan di desa Wates Kulon Kecamatan Ranuyoso Tahun 2005.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yakni, “Adakah pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil di desa Wates Kulon tahun 2005”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mempelajari pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan.

1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi tingkat ekonomi keluarga ibu hamil di desa Wates Kulon.
1.3.2.2 Mengidentifikasi pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil di desa Wates Kulon.
1.3.2.3 Mengidentifikasi pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan di desa Wates Kulon.
1.4 Manfaat Peneliti
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai masukan bagi peneliti untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang pengaruh tingkat ekonomi keluarga terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan.
1.4.2 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan tingkat ekonomi dan pemilihan pertolongan saat persalinan.
1.4.3 Bagi Perawat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi perawat tentang pentingnya pelaksanaan asuhan keperawatan dalam pencapaian standart pelayanan.
1.4.4 Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi atau bahan masukan tentang upaya-upaya yang digunakan untuk meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan dalam hal pelayanan kesehatan.

Link download KTI lengkap ini
11.pengaruh tingkat ekonomi keluarga ibu hamil terhadap pemilihan pertolongan saat persalinan pada ibu hamil
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...

10.Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menua (Aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Selama periode pertumbuhan proses anabolisma melampaui proses katabolisma. Pada saat tubuh mencapai tingkat kematangan fisiologik, kecepatan katabolisma atau proses degenerasi lebih besar daripada kecepatan proses regenarasi sel (anabolisma). Akibat yang timbul adalah hilangnya sel-sel yang berdampak dalam bentuk penurunan efisiensi dan gangguan fungsi organ. Dengan demikian menua ditandai dengan kehilangan secara progresif lean body mass (jaringan aktif tubuh) dan perubahan-perubahan disemua sistem didalam tubuh manusia (R. Boedi Darmojo dan Hadi Martono, 2000).

Pertambahan usia akan menimbulkan beberapa perubahan, baik secara fisik maupun mental. Perubahan ini akan mempengaruhi kondisi seseorang dari aspek psikologis, fisiologis dan sosioekonomi. Lebih lanjut perubahan-perubahan tersebut akan mengakibatkan terjadinya kemunduran biologis. Kemunduran ini, tentunya akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi beberapa organ tubuh. Salah satu fungsi penting organ tubuh yang berperan dalam mempertahankan dan menciptakan kesehatan yang prima adalah fungsi organ yang berkaitan dengan makanan dan pencernaannya (Emmas Wirakusumah, 2004).
Peningkatan jumlah dan proporsi usia lanjut dari tahun ke tahun merupakan fenomena demografi global dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia per Propinsi tahun 1995 – 2005 dari biro pusat statistik setidaknya terdapat 6 Propinsi yang pada tahun 2000 telah memiliki penduduk berstruktur tua (Aging Population) yaitu Propinsi D.I. Yogyakarta (13,72 %), Jawa Timur (10,54 %), Bali (9,79 %), Jawa Tengah (9,55 %), Sulawesi Selatan (7,63 %) dan Sumatera Barat (9,035 %) (RAN Kesejahteraan Lansia, 2000).
Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami baik gizi lebih maupun kekurangan gizi. Boedi Darmojo (1995) melaporkan bahwa lansia di Indonesia yang dalam keadaan kurang gizi ada 3,4 %, berat badan kurang sebesar 28,3 %, berat badan ideal berjumlah 42,4 %, berat badan lebih ada 6,7 % dan obesitas sebanyak 3,4 %. Temuan proporsi lansia yang kurang gizi di Indonesia pada tahun 1994 tersebut tidak banyak berbeda dengan temuan di Inggris tahun 1972 dan 1979 yakni sebesar 3 %. Setelah di follow up ternyata lansia di Inggris yang menjadi kurang gizi meningkat 2 kali lipat, lima tahun kemudian (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar 25,70 % diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut akan menurun menjadi 12,30 % (Depkes RI, Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992) (Wahjudi Nugroho, 2000).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 lansia di Posyandu lansia Kelurahan Kepuharjo didapatkan lansia dengan berat badan kurang 30 %, berat badan ideal 50 %, 20 % dengan berat badan lebih dan 70 % mengalami masalah kesehatan fisik antara lain adanya gangguan sirkulasi darah, gangguan persendian dan tulang, gangguan metabolisme hormon dan sebagainya.
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat dan penyebabnya oleh berbagai faktor yang terkait satu dengan yang lainnya (I Dewa Nyoman S, Bachyar Bucri dan Ibnu Fajar, 2002). Perubahan status gizi pada lansia disebabkan oleh perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkungan antara lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan status gizi antara lain naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorpsi dan utilisasi zat-zat gizi ditingkat jaringan dan pada beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus diminum para lansia oleh karena penyakit (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Adapun penyakit yang sering dijumpai pada lansia menurut Stieglitz (1945) yakni gangguan sirkulasi darah seperti hipertensi, kelainan pembuluh darah, gangguan pembuluh darah diotak (koroner) dan ginjal, gangguan metabolisme hormonal, seperti diabetes militus, klimaterium dan ketidakseimbangan tiroid, gangguan pada persendian seperti osteoartitis, gout artritis ataupun penyakit kolagen lainnya dan berbagai macam penyakit neoplasma (Wahjudi Nugroho, 2000).
Gangguan gizi pada lansia dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagai akibat adanya penyakit tertentu. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi, mengevaluasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencanakan bagaimana gangguan gizi tersebut dapat diperbaiki (R. Boedi Darmojo & Hadi Martono, 2000).
Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui tentang pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Adakah Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005 ?”.

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya pengaruh kesehatan fisik terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.2 Mengidentifikasi kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.3 Mengidentifikasi status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.4 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem kardiovaskuler terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005
1.3.2.5 Mengidentifikasi pengaruh kesehatan fisik pada sistem gastrointestinal terhadap status gizi pada lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kepuharjo Kecamatan Lumajang Tahun 2005

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
1.4.1 Bagi Peneliti
Mengaplikasikan teori ke paparan yang nyata dalam penelitian.
1.4.2 Bagi Lansia
Diharapkan mampu menjaga kesehatan fisik dengan baik sehingga dapat mencapai status gizi yang seimbang.
1.4.3 Bagi Puskemas
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam menentukan suatu program yang mengarah pada peningkatan status gizi dan kesehatan fisik pada lansia.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi status gizi pada lansia.

Link download KTI lengkap ini
10.Pengaruh Kesehatan Fisik Terhadap Status Gizi Pada Lansia
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

Baca Selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...