KTI-SKRIPSI: 11.gambaran perilaku anak dengan single parent

11.gambaran perilaku anak dengan single parent

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Orang tua tunggal (single parent) adalah fenomena yang makin dianggap biasa dalam masyarakat modern. Bagi yang terpaksa mengalaminya, entah karena bercerai atau pasangan hidupnya meninggal. Anak dengan orang tua tunggal (single parent) adalah seorang anak yang hanya di asuh atau di besarkan dengan satu orang tua. Perpisahan dengan anggota keluarga baik melalui perceraian maupun kematian adalah hal yang sulit bagi orang dewasa dan anak, terutama bagi anak kehilangan orang tua dapat mengakibatkan gangguan prilaku diri dan prilaku sosial (Macgregor 2002).

Fenomena single parent beberapa dekade ini menjadi marak terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 2003 di Australia terdapat 14% keluaraga dari keseluruhan jumlah keluarga masuk dalam ketegori single parent, di Indonesia tahun 2004 single parent banyak terdapat di Nanggro Aceh Darussalam (NAD) hingga mencapai 148.000 orang, sedangkan di Jawa timur tahun 2005 terdapat 19% single parent, pada tahun 2008, fenomena yang terjadi dan berdasarkan data yang di peroleh di kelas 7 di dapatkan anak yang tinggal dengan orangtua tunggal di SLTPN II Ngadiluwih sejumlah 40 anak dengan rincian 18 anak perempuan dan 22 anak laki-laki (Okvina 2008).

Biro anak nasional menerbitkan hasil survai dari suatu penelitian bahwa ketidakberuntungan anak dibesarkan dengan single parent lebih disebabkan karena yang timbul dari orang tuanya, sehingga dapat berpengaruh bagi anak sendiri. Hasil riset menunjukkan bahwa anak di keluarga yang memiliki oramg tua tunggal rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang utuh. Untuk anak usia sekolah, biasanya prestasi mereka di sekolah otomatis akan menurun. Menurut hasil survai peneliti pada 4 anak siswa SLTPN II Ngadiluwih Kediri, mereka mengatakan akan lebih bahagia bila dapat hidup dengan kedua orang tua mereka, dan mereka mengaku merasa kurang percaya diri, dan malu dengan teman-teman.
Pada umumnya yang menyebabkan terjadinya orang tua tunggal (single parent) ada dua diantaranya, yaitu pertama jika pasangan hidup meninggal dunia, otamatis itu akan menjadikan kita sebagai orang tua tunggal. Yang kedua adalah yang lebih umum, yakni perceraian. Saat ini lebih banyak orang tua tunggal yang muncul dari kategori yang kedua ini. Anak yang baru mendapati orang tuanya tinggal seorang pasti menghadapi gejolak hidup. Pada anak yang memiliki sifat tegar atau cuek mungkin dampaknya tidak terlalu terlihat, tapi untuk anak yang sensitif pasti akan terjadi perubahan perilaku, misalnya jadi pemarah pemurung atau suka menangis diam-diam (Ubaydillah 2007).
Salah satu hal yang harus dilakukan orang tua untuk membantu anak menghadapi kondisi semacam itu adalah mengajarkan anak untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru, jika orang tua becerai yakinkan anak bahwa keadaan tersebut bukan kesalahannya, melainkan ketidakcocokan ayah dan ibu, bangkitkan rasa percaya dirinya. Jika anak harus menghadapi kematian salah satu dari orang tuanya maka bisa lebih mudah menjelaskan dengan pendekatan agama. Memang anak usia sekolah dan remaja bisa lebih mudah menjelaskan keadaan yang dihadapi. Untuk mendapatkan pengertian dari anak orang tua dapat mencoba mengubah pola pikir anak. Coba ajak anak untuk mengunjungi panti asuhan, biarkan anak melihat bahwa masih banyak anak-anak yang kurang beruntung tidak memiliki ayah dan ibu, sehingga anak berpikir, saat ini masih beruntung memiliki satu orang tua yang bisa diandalkan. Bagi masyarakat jangan kucilkan anak tersebut beri motifasi dan semangat untuk masa depannya.
Dari uraian di atas, maka peneliti ingin mengetahui tentang “Gambaran Perilaku anak dengan single parent di SLTPN II Ngadiluwih”.

1.2 Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian di rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana gambaran perilaku anak dengan single parent di kelas 7 SLTPN II Ngadiluwih Kabupaten Kediri 2008 ?

1.3 Tujuan Penelitian
Dengan melihat permasalahan maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku anak dengan single parent di kelas 7 SLTPN II Ngadiluwih Kabupaten Kediri 2008.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Institusi
Memperoleh gambaran dan informasi mengenai perilaku anak dengan single parent dan dapat digunakan sebagai informasi awal untuk melaksanakan penelitian selanjutnya.
1.4.2 Bagi SLTPN II Ngadiluwih kediri
Sebagai masukan bagi institusi yang dapat digunakan dasar dalam melakukan pembinaan.
1.4.3 Bagi Peneliti
Merupakan informasi penting dalam menambah wawasan peneliti dalam bidang sosial dan kejiwaan terutama mengenai prilaku anak dengan single parent.
1.4 Batasan Penelitian
Untuk mengarahkan ruang lingkup penelitian maka masalah-masalah yang di teliti dalam penelitian ini di batasi sebagai berikut:
1.4.1 Penelitian ini di batasi pada anak kelas 7 SLTP
1.4.2 Penelitian ini untuk mengetahui gambaran prilaku anak dengan single parent di SLTPN II Ngadiluweh Kabupaten Kediri 2008
1.4.3 Anstrumen : Kuesioner
1.4.4 Tehnik Sampling : Accidental Sampling


Link download artikel lengkap ini
11.gambaran perilaku anak dengan single parent

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...